Kontribusi Media Dalam Menjaga Karakter Anak Bangsa

Oleh: Septa Anitawati, S.I.P
Founder Sekolah Tahfidz Khoiru Ummah
LenSaMediaNews.com–Puluhan anak yang terpapar konten kekerasan dari ruang digital berniat melakukan sejumlah aksi, mulai dari meledakan sekolah, menyerang guru dan teman, hingga melakukan bunuh diri (radarkarawang.id, 9-2-2026). Mengapa terjadi hal demikian?
Mencari Akar Masalah
Jika kita telusuri, anak-anak tak pernah jauh dari dunia digital. Namun belum mampu menyaring, mana yang diperlukan dan tidak, mana yang membahayakan bagi dirinya maupun orang lain. Semua ini bisa kita perhatikan dari beberapa hal.
Pertama, background keluarga. Sebagian besar kurang memperhatikan pendidikan anak-anak, para orangtua cenderung melepaskan dan menyerahkan kepada pihak sekolah. Orang tua yang menjadi pendidik pertama dan utama belum melaksanakan amanahnya dengan baik. Mereka lebih fokus untuk mencari materi. Tak bisa dipungkiri, karena tuntutan kehidupan yang makin berat. Antara pendapatan dengan daya beli tak sesuai. Seringkali yang terjadi, besar pasak dari pada tiang.
Kedua, circle pertemanan yang sama-sama terpapar algoritma yang menjerumuskan. Seperti konten kekerasan yang dikemas dalam game. Bahkan memberikan semacam tutorial kekerasan, pembunuhan dan bunuh diri.
Ketiga, arus masif sistemik. Support system yang berasaskan sekulerisme-liberalisme kian memperparah dampak. Krisisnya pola pikir, pola sikap, pada generasi yang mudah melakukan kekerasan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Khususnya masalah hubungan sosialnya.
Inilah kegagalan sistem pendidikan sekularisme yang sedang diterapkan saat ini. Alih-alih membentuk generasi emas, yang mampu menyolusi masalah dirinya dan masalah publik. Yang tercetak malah generasi lemah yang jauh dari mandiri dan bertanggung jawab. Bahkan terhadap dirinya sendiri, masih bergantung dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dampak pendidikan sekularisme ini sekaligus menunjukkan mandulnya peran negara. Bagaimana tidak, rakyat dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Padahal negara mempunyai kewenangan untuk mengurus rakyatnya, dalam hal arah pendidikan, biaya gratis bagi yang mampu ataupun tidak dan target kurikulum yang menunjang pembentukan generasi emas seperti pada masa kejayaan IsIam, namun itu tidak dilakukan.
Demikian juga masalah pers atau media. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengaturnya, sehingga mendukung pembangunan generasi emas. Bukan malah melakukan hal yang kontra produktif dengan membiarkan konten kekerasan beredar tanpa pengaturan yang sesuai. Bahkan seluruhnya berporos pada keuntungan materi saja tanpa memedulikan dampak mental dan kepribadian pelajar di tengah masyarakat. Bagaimana jika kondisi seperti ini dibiarkan begitu saja? Bagaimana nasib generasi masa depan.
Membentuk Generasi Emas
Belajar dari masa kegemilangan Islam dalam membentuk generasi emas. Membutuhkan fondasi yang benar-benar kokoh untuk dijadikan sebagai landasan. Itulah akidah IsIam. Keimanan yang kokoh kepada Allah Swt. akan berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikap generasi.
Bagaimana generasi menyolusi soal dirinya tergantung pada keyakinannya dalam beragama. Misalnya dalam beribadah akan seiring sejalan dalam berpakaian, makan minum sesuai standar halal haram. Begitupun dalam bergaul akan mencari yang benar sesuai agamanya. Bukan STMJ (Salat Terus Maksiat Jalan). Jika seperti ini, pastilah ada yang salah dalam dirinya. Utamanya adalah fondasinya. Niat, cara dan tujuan setiap perbuatan akan seiring senada dengan tujuan hidupnya. Yakni sesuai firman Allah Swt. yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beibadah kepada-Ku“. (TQS Adz-Dzariyat:56).
Dengan landasan ini, seseorang akan memperhatikan dua hal agar setiap perbuatan dinilai ibadah. Pertama, Iklas lillahi ta’ala. Hanya rida Allah saja yang diharapkan. Bukan manusia dan lainnya. Kedua, sesuai tuntunan Rasulullah Saw. artinya seperti yang telah dicantumkan dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. Begitupun ketika menyolusi masalah masyarakat. Tentu tidak akan melakukan kekerasan yang jelas membuat resah. Tapi justru akan melindungi masyarakat dari kekerasan.
Kontribusi Media dalam Sistem Islam
Media atau Departemen Pers dalam sistem IsIam, memiliki dua peran. Pertama, peran untuk menjaga kedaulatan negara. Negara independen tentunya memiliki kedaulatan penuh. Tidak bisa negara lain mengintervensi apalagi mengendalikan. Media memiliki kekuatan untuk menjaga sistem. Kedua, peran untuk menjaga karakter masyarakat termasuk anak bangsa, dalam artian, tidak akan membiarkan bersliweran konten yang tidak mendidik. Apalagi semacam tutorial kekerasan, pembunuhan dan segala yang kontra produktif.
Media justru menjaga agar segala kemaksiatan, terlarang dalam syariat IsIam, tidak akan ditayangkan. Sehingga menyediakan tontonan yang layak menjadi tuntunan. Hanya Sistem Islamlah satu-satunya sistem yang memiliki aturan menyeluruh, khususnya dalam hal menjaga dan membentuk kepribadian generasi. Menjadi harapan kita bersama, generasi masa depan siap menerima estafet kepemimpinan yang akan datang. Kembali menjadi Khairu Ummah. Pemimpin peradaban global. Wallahu a’lam. [LM/ry].
