Ketika Pemerintah Israel Didemo Rakyatnya Sendiri

20240909_160447

Oleh : Ummu Rifazi, M.Si

 

LenSa Media News–Puluhan warga Israel mengadakan unjuk rasa pada hari ahad (01-09-2024) dan semakin memuncak pada hari Rabu (03-09-2024) di ibukota Tel Aviv, Yerusalem dan beberapa kota besar lainnya setelah enam jasad tawanan warga Israel ditemukan tewas di jalur Gaza pada hari Sabtu (31-08-2024). Unjuk rasa yang menurunkan total sekitar 700.000 warga Israel tersebut dilakukan untuk menuntut kesepakatan pembebasan sandera warga Israel.

 

Warga Israel yang berunjuk rasa tersebut mengatakan bahwa Perdana Menteri Netanyahu telah mengabaikan mereka dan tidak layak untuk memerintah. Pernyataan Pejabat senior Hamas Khalil Al Hayya yang mengatakan bahwa keenam sandera tewas akibat serangan yang dilakukan pasukan militer zionis, semakin menguatkan fakta bahwa kematian para sandera tersebut merupakan kesalahan Netanyahu (cnnindonesia.com, 04-09-2024).

 

Unjuk rasa besar-besaran tersebut diikuti oleh seruan pemogokan umum nasional yang diprakarsai Serikat Buruh Besar Israel Histadrut pada Senin (02-09-2024). Seruan mogok kerja yang terjadi atas desakan Keluarga para sandera merupakan bagian dari upaya untuk mendapatkan kesepakatan gencatan senjata antara pemerintah Netanyahu dan Hamas.

 

Aksi mogok kerja ini mendapat dukungan dari Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai dengan mengumumkan bahwa para pekerja kota dibebaskan untuk bergabung dalam aksi tersebut “sebagai tanda solidaritas dengan para korban penculikan dan keluarga mereka” (timesindonesia.co.id/, 02-09-2024).

 

Kaum Munafikin Terpecah Belah dan Lemah

 

Netanyahu merespon semua aspirasi tersebut dengan mengatakan bahwa dia tidak akan berubah sikap terhadap Hamas ataupun terhadap pemerintahan Palestina. Dia tidak akan melakukan gencatan senjata ataupun mengendurkan serangan apalagi melakukan pertukaran sandera atau tawanan.

 

Bahkan Netanyahu mengatakan dengan tegas bahwa siapapun yang membunuh tawanan maka dialah yang telah mengobarkan satu pernyataan perang dan tidak ingin melakukan gencatan senjata (cnnindonesia.com, 04-09-2024).

 

Pernyataan sikap ini semakin menunjukkan jati diri pemimpin munafikin ini bahwa mereka hanya memikirkan ambisi kekuasaan untuk mendapatkan kemenangan total atas penduduk Palestina dan sama sekali tidak memikirkan kondisi rakyatnya bahkan ketika rakyat turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya.

 

Kekacauan meluas yang terjadi di negara ilegal Israel akibat ketidakpercayaan dan kemarahan rakyat Israel terhadap pemerintahnya semakin menunjukkan bahwa hati mereka terpecah-pecah karena mereka selalu ingkar terhadap kebenaran yang Allah tunjukkan dan tidak mau merenungkan ayat-ayatNya.

 

Allah Taalaa pun semakin menunjukkan kekuasaannya, bahwa di antara mereka yang mempunyai niat buruk dan keji terhadap umat Islam sebetulnya lemah dan dengan sangat mudah dipecah belah oleh Allah Taalaa.

 

Hal ini sebagaimana firman Allah Taalaa dalam QS Al Hasyr ayat 14Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal”.

 

Kaum Muslimin Bersatu dan Kuat

 

Ketika keadaan di negera ilegal Israel makin kisruh dengan keributan antar sesama mereka, Allah justru semakin menunjukkan kepada kita bahwa persatuan dan keteguhan kaum muslimin di Palestina sampai hari ini tetap kokoh. Ini adalah satu bukti nyata bahwa mereka hanya bersandar kepada Dinul Islam.

 

Keberadaan mereka disana murni hanya untuk membela negeri yang diberkahi Allah, bukan karena kepentingan ataupun ambisi materialistik, sebagaimana firman Allah Taalaa dalam QS Al Baqarah ayat 191 yang artinya,”Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu“.

 

Kita semakin dapat mengambil pelajaran dari persatuan dan keteguhan kaum muslimin di Palestina bahwa satu-satunya solusi bagi Palestina adalah dengan bergeraknya kaum muslimin dalam satu komando kesatuan jihad fisabilillah yang hanya bisa terwujud dalam kepemimpinan Khilafah Islamiyyah.

 

Opini ini harus terus kita perjuangkan dan kita juga harus lebih banyak lagi berdoa agar Allah segera menurunkan pertolongannya. Tidak boleh lagi kita mengharapkan dari perundingan ataupun kompromi yang ditawarkan oleh dunia internasional yang penuh dengan manipulasi dan persekongkolan. Allahu Akbar, Wallahu alam bisshowwab. [LM/ry].