Lisan Cerminan Hati, Beginikah Kualitas Petinggi Negeri?

Oleh : Yulweri Vovi Safitria
(Freelance Writer)
Lensa Media News – Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengungkapkan rencana kebijakan vasektomi sebagai syarat penerimaan bansos. Senada dengan itu, Wakil Mentri PPPA Veronica Tan mengatakan bahwa keluarga miskin sangat tidak ideal memiliki anak antara 4 hingga 5 orang, kecuali ekonominya mapan, bisa saja memiliki anak dalam jumlah banyak (jawapos, 5-5-2025).
Minim Attitude
Sebagian masyarakat mungkin sudah terbiasa dengan komedi tidak lucu para pejabat. Beberapa waktu lalu, saat #KaburAjaDulu menjadi trending, salah seorang pejabat membalas hastag tersebut dengan ungkapan, “Kabur sajalah, kalau perlu jangan balik lagi.” Pun, ketika harga cabai mahal, salah seorang pejabat meminta masyarakat ikut menanam cabai di rumah.
Sungguh ironi, harapan untuk mendapatkan solusi terhadap problem yang terjadi, justru luka yang didapati. Terlepas dari guyonan atau bukan, ucapan yang dilontarkan melukai hati banyak orang yang menggantungkan harapannya pada pejabat.
Bagaimana mungkin, sekelas pejabat publik bisa melontarkan kalimat setajam silet. Sementara dari segi pendidikan, sudah tentu lebih tinggi dari masyarakat yang bahkan untuk mengenyam bangku sekolah dasar saja sudah bersusah payah.
Semestinya mereka yang diberi amanah mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi, bukan malah melontarkan kalimat-kalimat lucu yang justru menampakkan kualitas diri sendiri. Apalagi mereka bekerja untuk rakyat, maka sudah sepatutnya menyelesaikan seluruh persoalan dan menjamin seluruh kebutuhan rakyat.
Sistem Tak Beradab
Seharusnya ilmu dan adab bisa seiring sejalan sehingga seseorang tidak serampangan dalam bertutur kata. Namun, hal ini tidak akan ditemukan dalam sistem kapitalisme. Pasalnya, dalam sistem ini, adab bukanlah prioritas pendidikan, tetapi bagaimana melahirkan tenaga kerja yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pun, kualitas seseorang, termasuk memilih pejabat, bukanlah ditentukan oleh ketinggian adab, melainkan seberapa banyak bisa mendatangkan manfaat.
Terlebih lagi, aturan agama dijauhkan dari kehidupan. Tidak hanya dalam mengatur kehidupan bernegara, dalam dunia pendidikan pun, porsi agama ala kadarnya, kecuali di sekolah Islam atau pondok pesantren. Di sekolah umum, misalnya, pendidikan Islam tidak lebih dari dua jam dalam sepekan. Lantas, mungkinkah ‘pelajaran kilat’ tersebut bisa membentuk adab dan akhlak yang baik?
Walhasil, meski berpendidikan tinggi, berprestasi, atau lulus cumlaude tidak serta merta melahirkan seseorang yang memiliki attitude baik. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang berprestasi, justru menjadi pelaku kriminal, pelecehan seksual, melakukan pembunuhan, dan lain-lain.
Fakta ini menunjukkan bahwa sistem tak beradab, yakni sekuler kapitalisme telah melahirkan orang-orang minim adab. Ketinggian ilmu tidak melatih lisannya untuk berkata baik atau diam. Pun, ketika menghadapi persoalan, mereka tidak mampu memberikan solusi yang brilian.
Butuh Pemimpin Cemerlang
Tentu berbeda ketika Islam sebagai standar kehidupan, pejabat tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab. Sebab, di dalam Islam, kriteria pemimpin sudah diatur secara detail dan taat kepada syariat.
Para pejabat memahami bahwa rakyat adalah amanah dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka tidak sekadar pandai berkata-kata, tetapi bagaimana mewujudkan hidup sejahtera, aman, dan sentosa.
Sumber kebijakan negara adalah syariat Islam, yakni berasal dari aturan Allah Taala. Aturan-Nya tidak berpihak kepada golongan tertentu dan tidak bisa pula dimanipulasi untuk kepentingan tertentu.
Terkait lisan, Rasulullah mengajarkan agar seseorang berpikir dahulu sebelum berbicara. “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR Muslim).
Khatimah
Selama sistem kapitalisme sekuler diterapkan, maka sampai kapan pun, sosok pemimpin ideal tidak akan pernah hadir di tengah umat. Untuk itu, penting menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehingga lahir pemimpin/pejabat yang amanah dan senantiasa menjaga lisan dan perbuatan.
Imam Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya, lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari periuk (dalam hatinya), apakah rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu dan kualitas hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.”
[LM/nr]
