Membaca Respon Dunia atas Krisis Gaza

20250520_035350

Oleh Tati Sunarti, S.S

 

Lensamedianews.com_ Kebrutalan agresi zionis Israel di Gaza, Palestina, masih berlangsung hingga detik ini. Bahkan mereka berani melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang Gaza tanggal 18 Maret lalu. Mereka telah menewaskan 1.630 orang, 4300 orang lainnya luka-luka.

 

Thaufan Al-Aqsa yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan mereka selama ini, bulan Oktober 2023 lalu, Israel membunuhi kurang lebih 51.000 warga sipil. Data ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina (tempo.co, 7 April 2025). Korban terbanyak dari kalangan wanita, anak-anak, dan lansia.

 

Sebetulnya krisis di Gaza dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia pertama. Ketika kekhalifahan Turki Utsmani harus rela menanggung beban kekalahan bersama Jerman. Khilafah harus merelakan tanah Palestina berada di bawah kendali Inggris. Terlebih saat Deklarasi Balfour 1920, turun Mandate for Palestine yang diteken oleh Kanselir Inggris, melalui Liga Bangsa-bangsa. Deklarasi ini menjadi bentuk sikap Barat atas posisi Khilafah dan masa depan Palestina yang akan dijadikan sebagai “rumah bagi Yahudi”.

 

Mengutip detik.com (Oktober 2024), Liga Bangsa-Bangsa yang kala itu bertransformasi menjadi Perserikatan Bangsa-bangsa, Amerika Serikat pun melanjutkan rencana Inggris untuk menginisiasi Pembagian wilayah 55 persen untuk Israel, 45 persen untuk Palestina. Pemetaan ini tentu diiringi dengan ketidakadilan perlakuan terhadap Israel dan warga Palestina. Hingga terjadilah Nakba petama atas Palestina. Sejauh ini, Palestina telah melakukan banyak upaya untuk merdeka. Dimulai dari Palestine Liberation Organization, gerakan intifada pertama yang menjadi cikal bakal Hamas, Palestinian Authority, dilanjut intifada kedua. Sayangnya, upaya ini belum membuahkan hasil hingga saat ini.

 

Bagaimana Respon Dunia?

Nampaknya, krisis Palestina kali ini menyingkap wajah asli dunia dengan jelas. Krisis ini telah memantik berbagai respon, terutama dari berbagai negara, baik negara mayoritas muslim atau kafir, dan organisasi-organisasi Islam.

 

Dilansir dari republika.id, setidaknya dunia merespon terhadap krisis ini. Pertama, respon berasal dari zionis itu sendiri. Selama setahun Thaufan Al-Aqsa, ternyata 750.000 warga Israel berdemonstrasi, mengutuk Netanyahu sebab menyabotase perundingan gencatan senjata. The Time of Israel, salah satu media massa Israel menyatakan bahwa 1,9 juta dari 7,5 juta orang Israel berencana pergi dari pemukiman ilegal yang mereka duduki.

 

Kedua, respon dunia internasional. Thaufan Al-Aqsa telah membuka mata dunia dan membelahnya menjadi dua sisi. Kali ini dukungan global mengalir deras atas Gaza, Palestina. Zionis laknatullah dikucilkan secara de facto. Seiring meningkatnya status negara Palestina di PBB, September 2024 lalu. Sebanyak 124 negara meyetujui pengajuan resolusi Palestina atas pendudukan Israel sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.

 

Kini dunia mulai speak up lebih lantang terkait isu Palestina. Dukungan sipil dunia pun meluas. Bahkan muncul dari negara-negara yang notabene mendukung serta turut membiayai Israel, seperti Amerika, Inggris juga negara Eropa lainnya. Dukungan lain pun bermunculan seperti kampanye BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi).

 

Bagaimana dengan organisasi-organisasi Islam dunia? OKI menyerukan pengusutan atas pembantaian pada tim medis dan jurnalis. Liga Arab menyeru penyelesaian konflik Zionis dengan Palestina (antaranews.com). Uni Eropa pun melakukan upaya advokasi untuk menyelesaikan krisis ini. Arus dukungan dunia makin deras. Pertanyaan berikutnya, akankah dan kapankah krisis ini akan usai? Karena nyatanya Palestina masih menderita, terutama karena lumpuhnya dunia menghadapi hak veto AS di PBB.

 

Maka, kaum muslim seyogyanya membaca krisis ini secara mendasar dan mengakar. Posisi Palestina harus dipandang dalam kacamata Islam dan keimanan. Dalam Islam, Palestina atau Baitul Maqdis adalah kiblat pertama umat Islam. Kaum muslim bahkan diperintahkan untuk bersusah payah salat di tiga masjid penting, salah satunya adalah Masjidil Aqsa.

 

Palestina juga merupakan tanah milik kaum muslim yang dibebaskan di masa Khalifah Umar Ibnu Khaththab. Tanah ini juga dibebaskan oleh Shalahuddin Al-Ayubi dari tentara Salib. Kaum muslim berkewajiban memperjuangkannya seperti para pendahulunya.

 

Menyudahi krisis Palestina harus dimulai dengan membangun kesadaran umat tentang pentingnya tanah ini, baik historis maupun politis. Berikutnya, memahamkan umat bahwa upaya-upaya yang saat ini dilakukan tidak akan berarti jika umat masih terhalang batas nasionalisme. Maka, perlu mengembalikan persatuan umat untuk berada di bawah satu kepemimpinan tanpa batas wilayah. Keberpihakan pada Palestina menjadi hak yang tidak bisa ditawar. Kekuatan seperti ini hanya ada pada Khilafah Islamiyah, dengannya kaum muslim mampu merealisasikan seruan jihad. Solusi inilah yang seharusnya tertanam di benak kaum muslim.

 

Kemudian, Kami memberikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan menjadikanmu kelompok yang lebih besar. Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.(TQS Al-Isra: 6)
Wallahu’alam