Kelaparan di Gaza, Urgensi Jihad dan Khilafah sebagai Solusi

Kelaparan

Oleh : Dina Aprilia

 

 

LensaMediaNews.com, Opini _ Derita warga Gaza semakin memilukan, selain kehancuran masif pada rumah-rumah, masjid, sekolah, dan rumah sakit, jumlah korban tewas akibat serangan Zionis telah melampaui 51.439 orang di dominasi anak-anak, perempuan, dan orang tua. Bahkan tenaga medis hingga jurnalis pun tak luput jadi korban serangan. Sementara korban luka mencapai 117.416 orang.

 

Tak cukup sampai di situ, Zionis Israel terus mempersempit ruang hidup warga Gaza. Dengan dalih menekan kelompok Hamas untuk membebaskan para sandera. Pada tanggal 2 Maret lalu, Zionis memberlakukan blokade atas bantuan pangan serta obat-obatan dari segala arah. Akibatnya ribuan warga Gaza menderita kelaparan parah karena kehilangan sumber makanan utama mereka. Krisis ini semakin diperparah dengan langkanya pasokan air di tempat mereka.

 

World Food Programme (WFP) dalam pernyataan resminya mengungkapkan bahwa mereka telah kehabisan setok makanan untuk beberapa hari ke depan. Setok makanan terakhir telah mereka salurkan ke dapur-dapur di wilayah Gaza, namun diperkirakan setok makanan tersebut akan habis dalam beberapa hari. Padahal dapur-dapur tersebut menjadi satu-satunya sumber bantuan makanan bagi 80% dari dua juta warga Gaza dan mendukung 37 dapur yang mampu memproduksi sekitar 500.000 porsi makanan per hari. (Kompas.tv/Internasional, 25 April 2025).

 

Mengerikan, inilah wajah nyata kondisi Gaza hari ini. Di tengah gempuran bom dan rudal, warga Gaza harus bertahan hidup dengan memakan rumput, pakan ternak serta daging kura-kura. Semua itu terpaksa mereka lakukan untuk tetap bisa bertahan di tengah kelaparan yang melanda. Mirisnya, tak sedikit warga Gaza terutama anak-anak yang meninggal akibat malnutrisi dan dehidrasi. UNICEF mengungkapkan bahwa anak di bawah 5 tahun berisiko meninggal karena kekurangan gizi akut.

 

Meskipun penderitaan warga Gaza semakin berat, dunia tetap bungkam. Para penguasa negeri-negeri muslim hanya mengecam tanpa tindakan nyata. Mereka bahkan terus menerus menyerahkan seluruh urusan umat pada PBB dan lembaga internasional lainnya yang terbukti gagal dan secara tidak langsung berpihak pada Zionis.

 

Faktanya, PBB sejak awal menjadi lembaga yang melegitimasi penjajahan Israel atas tanah Palestina pada saat resolusi tahun 1947 yang membagi tanah Palestina milik umat Islam untuk Israel. Selain itu, PBB didominasi oleh negara-negara besar seperti AS yang notabene adalah pendukung utama negara Zionis Israel. Karena itu, mengandalkan PBB seperti meminta keadilan pada penghianat itu sendiri.

 

Saatnya umat sadar, pembebasan Palestina bukan sekadar bantuan kemanusiaan atau solusi dua negara, melainkan harus dilakukan secara nyata melalui jihad sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya:
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al-Baqarah: 190).

 

Ayat ini menegaskan bahwa berjihad menjadi upaya yang harus dilakukan dalam pembebasan negeri muslim yang di jajah, terkhususnya Palestina. Sebagaimana dahulu, Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan dan merebut kembali tanah Palestina melalui perang Hittin dengan cara mengalahkan tentara salib dan mencabut kerajaan tentara salib di seluruh negeri muslim.

 

Hal yang sama juga tergambar ketika Rasulullah SAW, sebagai kepala negara (khalifah) memerangi Yahudi Bani Qainuqa karena telah melanggar perjanjian dengan membunuh seorang laki-laki muslim yang kala itu membela seorang wanita muslimah dari gangguan Yahudi Bani Qainuqa.

 

Inilah contoh nyata tindakan para pemimpin kaum muslim dalam membela kemuliaan umat Islam, mereka tidak hanya sebatas mengecam, namun mengambil langkah nyata dengan melakukan jihad fii sabilillah. Maka, pembebasan kaum muslim Gaza hanya akan terjadi dengan jihad.

 

Di sinilah pentingnya peran umat, umat harus saling tolong menolong dan bersatu dalam satu pemikiran, mewujudkan perjuangan tegaknya syariat dan Khilafah, karena hanya di bawah naungan Khilafah umat muslim dapat bersatu sehingga jihad dapat dilakukan. Namun upaya ini membutuhkan adanya peran aktif dari jemaah dakwah ideologis yang senantiasa istikamah menyerukan tegaknya Khilafah.

Wallahu a’lam bishshawab