Palestina Menanti Pemimpin Sejati: Saatnya Mengakhiri Derita Umat

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews, Tsaqofah Aqliyah_
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”
(QS Ali Imran: 103)
Ayat di atas adalah perintah Allah untuk bersatu. Kemudian ayat berikut menunjukkan bahwa agama kita sama. Dan kita diperintahkan untuk taat kepada-Nya
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
“Sesungguhnya agama ini adalah agama kalian, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(QS Al-Mu’minun: 52)
Namun sayang saat ini umat Islam saat ini terpecah-pecah. Bukan hanya secara geografis, tapi juga secara loyalitas dan visi. Kita diajari mencintai tanah air, tapi lupa mencintai satu sama lain karena iman. Kita disibukkan membela kepentingan nasional, padahal umat Islam di bumi mana pun adalah saudara kita. Padahal Allah ﷻ telah memerintahkan kita untuk bersatu. Dan umat bersatu membutuhkan satu kepemimpinan tunggal. Dengan tugas melayani umat dan bukan melayani kepentingan modal dan asing.
Akibat yang kita rasakan adalah derita umat. Derita yang paling menyakitkan adalah derita saudara-saudara kita di Palestina. Derita Palestina bukan sekadar luka satu bangsa. Ia adalah simbol paling nyata dari derita panjang umat Islam hari ini. Sebuah luka yang terbuka, yang terus berdarah di hadapan dunia. Hal yang paling menyedihkan: luka itu dibiarkan, bahkan oleh para pemimpin negeri-negeri Muslim sendiri. Upaya yang dilakukan ada yang mengeluarkan pernyataan diplomatik datar, ada yang menggandeng penjajah sebagai mitra dagang, bahkan ada yang justru menuduh rakyat Palestina sebagai beban politik.
Ini bukan hanya kelalaian. Ini pengkhianatan. Pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan. Pengkhianatan terhadap ukhuwah Islamiyah. Pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.
“Lalu, bagaimana nasib saudara-saudara kita di Palestina di tengah kondisi ini?”
Penjajahan atas Palestina sudah berlangsung lebih dari 75 tahun. Ratusan resolusi PBB, ribuan konferensi, jutaan doa, dan donasi tak mampu menghentikan genosida yang dilakukan penjajah Zionis.
Mengapa?
Karena penjajahan ini hanya bisa dihentikan oleh kekuatan nyata: kekuatan umat Islam yang dipimpin oleh pemimpin sejati. Bukan pemimpin yang takut pada tekanan global, tapi yang tunduk pada perintah Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Menjadi pemimpin bukan soal jabatan. Itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Umat ini tak kekurangan tentara, harta, atau kekuatan.
Yang kita butuhkan hanyalah satu hal: keberanian para pemimpin untuk tunduk pada Allah, bukan pada musuh-musuh-Nya.
Kita merindukan pemimpin seperti Umar bin Khattab yang membebaskan Baitul Maqdis. Seperti Shalahuddin Al-Ayyubi yang menyatukan kaum muslimin. Seperti Muhammad Al-Fatih yang menjawab kehinaan dengan kejayaan.
Palestina sedang memanggil.
Bukan hanya rakyat, tapi para pemimpin.
Untuk menjawab dengan keberanian. Untuk melangkah dengan iman. Untuk mengakhiri derita umat yang terlalu lama dibiarkan.
Jika kita mencintai Palestina, jangan cukupkan dengan linangan air mata. Kita membutuhkan upaya para pemimpin untuk bangkit. Satukan kembali umat dalam satu kepemimpinan yang menjadikan Islam sebagai sumber hukum.
“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…”
(QS Al-Anfal: 72)
Karena saat pemimpin sejati menjawab panggilan langit, derita umat akan berakhir.
Dan bumi Palestina akan kembali tersenyum.
و الله اعلم بالصواب
