Saya Belum Makan

Oleh: Siti Aminah
Pendidik
LenSaMediaNews.com–“Saya belum makan” jawab seorang anak ketika saya tanya pada siang itu. Kenapa? Tanya ku. “ibu belum masak”. Jawabnya polos. Kenapa belum masak? “Belum ada beras” jawab si anak dengan wajah nunduk. “Kalau waktu gak ada nasi, pagi saya dan adik hanya minum teh manis hangat. Siang baru makan saat ibu pulang kerja, kadang makan sehari cuma sekali”.
Hati siapa yang tidak terenyuh, sedih dan simpati mendengarnya. Ya Allah, yang kutahu negeri ini gemah Ripah loh jinawi. Negara yang kaya, negara agraris dan pertaniannya yang melimpah, bahkan masyhur dengan sebutan lumbung padi. Haruskah kelaparan saat berada di lumbung padi ? Mengapa banyak rakyat yang tidak bisa makan sehari 3 kali. Mengapa harga beras melambung tinggi bahkan disaat panen raya dan stok beras tahun ini melimpah sepanjang sejarah?
Menurut Prof Lilik, ( Guru besar UGM ) kenaikan harga beras sangat tidak masuk akal mengingat tahun ini produksi beras nasional dalam kondisi memuaskan, di mana stok cadangan beras pemerintah atau CBP tahun ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Dan hal ini merugikan masyarakat dan juga petani (Beritasatu.com, 19-6-2025).
Data BPS menunjukkan beras terus mengalami kenaikan harga di 133 kabupaten/kota pada minggu kedua Juni 2025 (Bisnis.com, 16-6-2025).
Ternyata Bulog menyerap gabah petani dalam jumlah besar, dan stoknya menumpuk di gudang. Sehingga, suplai ke pasar tersendat dan harga semakin melonjak naik. Apa artinya jika panen bagus tapi hanya di tumpuk? Dan beraspun tak sampai ke piring masyarakat bawah. Apa ditumpuk dan disimpan itu untuk menyediakan makanan bagi kutu beras? Ah bukan rasanya. Seharusnya kutu beras pun juga tidak lebih penting dari rakyatnya.
Tapi ini masalahnya bukan cuma soal distribusi, tapi ini soal sistem. Kita hidup di sistem yang menjadikan beras dan kebutuhan pokok lainnya sebagai barang dagangan. Dalam sistem Kapitalisme, beras adalah komoditas yang harganya bisa dimainkan di pasaran. Dijadikan sebagai bisnis yang menguntungkan pihak tertentu. Khususnya para tengkulak. Negara bukan sebagai penjamin, tetapi sebagai pedagang. Yang miskin harus pasrah dan sabar dan terpaksa berpuasa jika harga melambung tinggi, sementara yang kaya tetap bisa foya foya. Kemana negara?
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa tengkulak menjadi pihak yang paling diuntungkan dari produksi beras petani. Tengkulak atau disebut Amran sebagai middle man itu berperan sebagai jalur distribusi. “(Produksi) 21 miliar (kilogram beras) dikali (selisih harga) Rp 2 ribu, (mendapat) Rp 42 triliun. (Itu) yang didapatkan dari middlemen. Sementara petani sebagai produsen padi hanya gigit jari dengan 1 juta – 1,5 juta per bulan ,” kata Amran (CNBCIndonesia.com, 2-6-2025).
Hal ini tentu berbeda dengan sistem Islam. Khilafah, menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk pangan. Negara Khilafah tidak akan menyerahkan pangan ke tangan pasar bebas dan memastikan bukan hanya stoknya yang tersedia tapi juga memastikan pangan/ beras itu juga sampai di rakyatnya dengan harga yg terjangkau.
Negara Khilafah akan membantu petani dengan menyediakan bibit, pupuk alat pertanian dan jika perlu pelatihan secara gratis. Penimbun akan dilarang keras. Termasuk tidak akan menetapkan harga, tetapi mengikuti harga pasar alami yang bersih dari manipulasi. Maka kestabilan harga merupakan buah dari sistem yang benar, bukan kebetulan. Sistem Islam inilah solusi yang sesungguhnya. Tidak kah kita merindukan nya? Wallahualam bissawab. [LM/ry].
