Peran Strategis Perempuan

Oleh Dewi Sri Murwati, S.M
(Aktivis Dakwah dan Pegiat Pena Banua)
LensaMediaNews.com, Opini_ Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalsel menyebutkan bahwa peran perempuan semakin strategis dalam kehidupan bermasyarakat serta pada pembangunan daerah. Apresiasi diberikan kepada seluruh anggota organisasi wanita yang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat. Diharapkan agar seluruh anggota organisasi wanita untuk menjaga kekompakan, memperkuat solidaritas dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu menghadapi perkembangaan zaman. Dengan adanya pertemuan rutin antar-gabungan organisasi wanita dapat melahirkan banyak ide dan program inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat terutama perempuan dan anak-anak, (kalsel.antaranews.com, 25-6-2025).
Perempuan terus didorong untuk aktif dalam berbagai lini, yaitu pada sektor UMKM, pendidikan, kesehatan, organisasi sosial, bahkan terjun pada ranah politik dengan mengatasnamakan pembangunan daerah. Berbagai program pun dilakukan untuk mendukung agar perempuan terus memberikan kontribusinya, misalnya program Pemberdayaan Perempuan, Sekolah Perempuan dan Desa Ramah Perempuan mulai dikembangkan.
Program-program pemberdayaan perempuan sebenarnya merupakan mesin pembangunan ekonomi sekuler. Perempuan terus didorong untuk menjadi pelaku UMKM, petani rumah tangga, bahkan penggerak ekonomi desa. Banyak perempuan dituntut untuk produktif secara ekonomi dan memikul beban rumah tangga sendirian tanpa adanya dukungan struktural yang adil.
Embel-embel ‘mandiri secara finansial’ terus menjadi magnet bagi perempuan agar terjun ke dunia usaha dengan dalih mengubah nasib dan menjadi pahlawan ekonomi keluarga. Apalagi di tengah kondisi yang sedang krisis sehingga peran perempuan agar produktif secara ekonomi selalu dinarasikan dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan keluarga. Sejauh ini peran perempuan sejatinya sudah sangat besar. Setidaknya lebih dari 52% perempuan menjadi pelaku usaha mikro, 56% usaha kecil dan 34% perempuan menjadi pelaku usaha menengah. Namun persentase ini dianggap masih kurang dalam menunjukkan keberhasilan dalam target pemberdayaan ekonomi perempuan pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Ironisnya pemberdayaan perempuan yang selalu digaungkan untuk menjadi solusi permasalahan justru menambah beban bagi perempuan terutama pada posisi ibu rumah tangga yang merupakan peran paling strategis yang tidak bisa diabaikan. Sampai hari ini problem kemiskinan, diskriminasi, subordinasi, kekerasan seksual, pelecehan masih ada bahkan bertambah banyak, artinya program pemberdayaan ekonomi perempuan patut dipertanyakan keberhasilannya untuk menyejahterakan perempuan.
Perempuan di sistem sekuler kapitalisme diberikan beban yang sangat berat yaitu bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah kemiskinan keluarga. Padahal itu bukan tugas dan kewajiban bagi perempuan melainkan tugas negara. Adanya krisis ekonomi berulang menyebabkan perempuan secara tidak langsung dipaksa untuk meninggalkan perannya sebagai ibu yang tidak jarang akan berdampak pada krisis sosial dan stres masal. Dampak terburuk adalah pada anak-anak yang kehilangan kasih sayang, sehingga keluarga akan kehilangan keharmonisan dan kehangatan. Akibat pemberdayaan ekonomi perempuan, hak dan kewajiban keluarga saling tumpang tindih, menyebabkan dekadensi moral generasi, bahkan mewabahnya kriminalitas. Parahnya ancaman lost generation akan ada di depan mata, semuanya berawal dari program pemberdayaan ekonomi perempuan yang menjadi solusi kemiskinan, namun akar kemiskinan justru tidak pernah tersentuh dan terselesaikan bahkan menjadi akar permasalahan yang baru.
Islam menempatkan perempuan bukan menjadi obyek pembangunan, tetapi aktor untuk peradaban dengan posisi yang sesuai fitrahnya. Pendidikan dan pembinaan kepribadian Islam bagi perempuan sejak dini ditanamkan dan difokuskan pada ilmu syar`i, tsaqafah Islam dan tanggungjawab sosial. Negara menjamin kebutuhan dasar, sehingga perempuan tidak perlu dipaksa mencari nafkah atas gagalnya sistem dalam mengentaskan kemiskinan. Peran strategis perempuan diarahkan untuk mencetak generasi yang unggul. Namun perempuan tetap diperbolehkan aktif di ruang publik, menjadi dokter, guru, ilmuwan selama berada dalam koridor syariat dan tidak melalaikan peran utamanya sebagai penjaga keluarga dan pemberi kasih sayang bagi generasi. Maka ketika perempuan diposisikan sekadar sebagai alat pembangunan ekonomi, maka pembangunan hanya akan menghasilkan angka bukan perbaikan peradaban dan generasi. Islam hadir menempatkan perempuan sebagai tiang masyarakat yang kokoh dan terhormat.
“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa saja yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa”. (Will Durant – The Story of Civilization).
Wallahu A’lam Bishawab.
