Barak di Sistem Rusak, Tak Bisa Menolong

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Barak militer kini mulai dipertimbangkan sebagai solusi atas maraknya kenakalan remaja di berbagai wilayah, termasuk di Jawa Barat. Tawuran, pergaulan bebas, bahkan keterlibatan remaja dalam kasus HIV/AIDS—semua dianggap bisa ditangani dengan pendekatan tegas dan keras. Namun, benarkah anak-anak kita rusak karena kurang disiplin?
Atau, justru mereka hidup di tengah sistem yang gagal menanamkan arah hidup sejak kecil?

 

Kita bisa mendisiplinkan tubuh remaja melalui pelatihan fisik. Tapi jika jiwa mereka kosong, pemikiran mereka dibentuk oleh media, dan nilai hidup mereka ditentukan oleh lingkungan kapitalistik, maka barak hanya akan menjadi solusi sesaat. Menakutkan, tapi tidak mengakar.

 

Apa sebenarnya yang memunculkan kenakalan remaja?
Perbuatan muncul dari proses berpikir dan dorongan emosional. Otak manusia memiliki struktur pengendali (prefrontal cortex) yang membantu mengambil keputusan berdasarkan nilai. Namun struktur ini berkembang perlahan dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Jika sejak kecil anak-anak terbiasa melihat kekerasan, hiburan instan, atau kebebasan tanpa arah, maka pola pikir dan impuls mereka dibentuk ke arah yang sama.
Seorang anak yang hidup dalam lingkungan permisif dan materialistik akan membentuk nilai yang serupa: instan, bebas, dan minim tanggung jawab.

 

Islam menjelaskan bahwa kepribadian (syakhshiyyah) seseorang dibentuk oleh dua unsur utama: pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah).
Penjelasan ini disampaikan oleh Ustaz Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyah.
Aqliyah adalah cara seseorang berpikir dalam menilai sesuatu. Ini terbentuk dari informasi yang ia terima dan bagaimana ia membentuk pemahaman (mafahim) terhadap informasi itu.
Sedangkan nafsiyah adalah cara seseorang merasa dan merespons sesuatu yakni standar rasa dalam menentukan sikap terhadap perbuatan.

Pemahaman yang dimiliki seseorang akan memengaruhi cara ia memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya.
Maka, ketika terjadi penyimpangan dalam perilaku, itu seringkali berasal dari:
pola pikir yang rusak, misalnya menganggap maksiat itu biasa atau bahkan membanggakan, atau pola sikap yang salah  yaitu standar rasa yang tidak dibimbing syariat, sehingga tidak mengenal rasa bersalah terhadap dosa.

 

Allah berfirman:
Dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi…”
(QS Al-An’am: 151)

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS Asy-Syams: 9–10)

Dengan kata lain, perilaku menyimpang tidak terjadi tiba-tiba, tapi merupakan hasil dari pola berpikir, rasa, dan lingkungan yang dibentuk sistem.

Sistem kapitalistik hari ini hanya menyediakan tujuan hidup materialistik: sukses = kaya; sumber hiburan bebas, berupa tontonan rusak yang menjadi konsumsi harian; pendidikan yang sekuler: memisahkan agama dari ilmu dan kehidupan dan keluarga yang sibuk bertahan hidup,  bukan sibuk membina. Inilah lingkungan besar yang menyelimuti anak-anak kita. Maka, saat ada kenakalan remaja, yang perlu kita benahi bukan hanya anaknya—tetapi sistem hidup yang membentuk mereka. Sebab kapitalisme telah gagal menanamkan takwa.

Program seperti barak militer sering kali terlihat gagah. Tapi itu adalah kebijakan populis non-strategis: solusi yang tampak menolong rakyat, tapi tidak menyentuh akar masalah. Seperti menambal dinding rumah yang pondasinya retak atau mengobati demam dengan kipas angin. Tindakan seperti ini bisa menenangkan sementara, tapi tak akan menyelamatkan generasi.

 

Solusi Islam: Sistem yang Menanamkan Iman dan Takwa

Dalam sistem Islam, pendidikan bukan hanya soal sains atau skill. Tapi pendidikan bertujuan membangun kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyah): pola pikir dan pola rasa yang terikat pada akidah.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
(QS Al-Ahzab: 21)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah…”
(QS An-Nisa: 9)

Sistem Islam membentuk manusia sejak dini untuk: berpikir dengan akidah Islam, tunduk kepada syariat, bertindak karena takut dan cinta kepada Allah. Hasilnya adalah generasi seperti, Ali bin Abi Thalib: pemuda pemberani dan cerdas, Usamah bin Zaid: panglima di usia belasan atau Aisyah radhiallahu’anha: wanita cerdas, ahli fikih, dan guru para sahabat

 

Bukan Barak, Tapi Sistem yang Meneduhkan

Jangan biarkan anak-anak kita dituduh rusak karena kenakalan mereka, padahal mereka tumbuh dalam sistem yang tak memberi arah. Jika kita ingin generasi yang taat, kita tidak bisa hanya menegakkan aturan keras. Kita harus mengganti sistem yang membentuk mereka. Bukan menakut-nakuti mereka, tapi mendidik dengan cinta dan iman. Maka, solusi bukan sekadar barak.
Solusi adalah sistem Islam yang menyinari akal, membimbing hati, dan menyelamatkan generasi.