Abraham Alliance, Bentuk Pengkhianatan Penguasa Arab

Abraham Alliance

Oleh Firdayanti Solihat

(founder @kristal_bening.id)

 

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Ribuan orang di Gaza berada di ambang kelaparan yang parah. (aljazeera.com, 19/7/2025). Dua warga beserta bayi yang berusia 35 hari tewas akibat kekurangan gizi dan kelaparan di Rumah Sakit As-Shifa kota Gaza. (20/7) Namun dalam kondisi semacam ini Israel terus menggempur Gaza tiada henti termasuk ketika warga sedang berada di lokasi bantuan pangan di Rafah.

 

Kelaparan yang menimpa warga Gaza bukanlah sebab mereka miskin, tetapi akibat blokade ketat Israel terhadap masuknya bantuan. UNRWA mengatakan ada lebih dari 1 juta anak-anak di Gaza kelaparan akibat blokade ketat ini. Bantuan menumpuk di perbatasan karena pembatasan ketat diberlakukan. Bukan hanya makanan, juga obat-obatan dan kebutuhan lain untuk menunjang kehidupan, termasuk susu formula. (metrotvnews.com, 20/7/2025)

 

Gaza masih terus menjadi sasaran genosida dengan serangan yang lebih mengerikan. Israel terus melakukan berbagai macam cara untuk meruntuhkan Gaza, salah satunya dengan menahan bantuan hingga warga Gaza kelaparan dan meninggal dunia. Termasuk dengan menjadikan pusat bantuan sebagai perangkap untuk melancarkan serangan.

 

Dalam kondisi Gaza yang semakin mencekam, negara-negara Arab yang menjadi harapan banyak masyarakat bisa menuntaskan genosida Gaza nyatanya tidak. Sebagian negara Arab ini justru melakukan normalisasi hubungan dengan Israel dengan membentuk Aliansi Abraham.

Aliansi Abraham ini merupakan perjanjian normalisasi hubungan antara beberapa negara Arab dan Israel dengan Amerika sebagai motor penggeraknya. Aliansi ini adalah kelanjutan dari Abraham Accord yang dilakukan pada tahun 2020. Sayangnya dalam perjanjian ini isu Gaza-Palestina tidak menjadi pembahasan utama. Sehingga semakin menyingkirkan pembahasan ini dari prioritas utama. (tribun-timur.com 10/7/2025)

Beberapa negara yang termasuk dalam aliansi ini adalah Uni Emirat Arab (UAE), Sudan, Bahrain dan Maroko, termasuk di antaranya Libanon yang terlebih dahulu mengakui adanya Israel.

 

Perjanjian Abraham bukan sekadar normalisasi, tetapi adanya pengaruh geopolitik dan geoekonomi yang berdampak pada kondisi Timur Tengah. Israel yang pada awalnya tidak memiliki hubungan diplomatik kini semakin leluasa melenggang di sana.

 

Sementara itu keputusan negara-negara yang tergabung dalam Aliansi Abraham untuk menandatangani perjanjian ini hanyalah kepentingan nasional masing-masing. Padahal jika negara-negara arab mau bersuara lebih lantang dan bersikap lebih tegas, tentu akan mampu mengusir penjajah yang selama ini menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi saudara-saudara muslimnya di Gaza.

 

Namun sayangnya bukan ketegasan yang lahir, tetapi sebuah pengkhianatan. Bukan hanya pengkhianatan terhadap saudara muslim yang seharusnya kita bela dengan sekuat tenaga dan upaya, tetapi juga pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya dengan berpaling dari peringatan dan aturan-Nya.

 

Sungguh sebuah ironi saat banyak dari masyarakat di seluruh dunia bersuara untuk kemerdekaan Palestina, tetapi para penguasanya terutama penguasa Arab- berpaling dengan bermesraan dengan musuh. Sebuah hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahualaihi wasallam. Dan saat Rasulullah tidak dijadikan contoh, siapa yang menjadi teladan?

 

Melihat kenyataan ini rasanya mustahil berharap pada penguasa-penguasa Arab untuk membebaskan Palestina dari penjajahan, apalagi untuk mengembalikan kemuliaan umat muslim. Sementara banyak ayat yang memerintahkan untuk menolong agama Allah dan sesama muslim. Inilah gambaran penguasa yang lahir dalam sistem kapitalisme. Mereka lebih tunduk terhadap manusia yang mereka kira bisa menguntungkan mereka, meskipun itu adalah orang kafir yang membenci Islam. Sementara perintah Allah dikesampingkan dengan bermacam dalih dan alasan. Pada akhirnya hubungan yang dibangun hanya sebatas kepentingan, dan setelah kepentingannya selesai, selesai pula hubungannya. Bahkan bisa jadi persahabatan akan berujung pengabaian.

 

Maka jalan yang bisa ditempuh adalah menyeru umat untuk kembali kepada Islam, sehingga tatanan dunia bisa kembali diatur oleh hukum-hukum Islam. Hukum yang lahir dari Allah, bukan akal manusia. Hukum yang tidak akan pernah ada amandemen karena selalu sesuai dengan zaman. Hukum yang tidak hanya memihak mereka yang memiliki kuasa, tetapi tunduk dan patuh di bawah perintah syara’. Itulah hukum Islam.

 

Dengan hukum inilah Rasulullah shallallahualaihi wasallam mempersatukan umat muslim dalam satu naungan. Dengan hukum ini pula umat muslim menjadi umat terbaik, memiliki pelindung. Dan dengan hukum ini pula Islam menjadi kekuatan dunia yang senantiasa memberikan kesejahteraan bagi umat. Maka dengan hukum inilah Gaza bisa dibebaskan dari cengkeraman penjajah, sehingga kemuliaan umat bisa kembali.

 

Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri ini yang penduduknya zalim, dan jadikanlah bagi kami seorang pelindung dari sisi-Mu, dan jadikanlah bagi kami seorang penolong dari sisi-Mu.’” (QS An-Nisa : 75)

Wallahu a’lam Bishshawab