80 Tahun Proklamasi, Indonesia Sudah Merdeka?

Oleh: Firdayanti Solihat
(Founder Kristal Bening)
Lensamedianews.com, Opini — Sudah 80 tahun Republik Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun. Namun, benarkah Indonesia sudah merdeka?
Peringatan ke-80 Kemerdekaan Indonesia hadir di tengah berbagai macam permasalahan di berbagai bidang, dari mulai bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Dalam bidang ekonomi, kita masih melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan. Penghasilan yang didapatkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan masih kekurangan. (tirto.id, 7-8-2025). Jangankan menabung untuk masa depan, memikirkan untuk makan besok saja keberatan.
Belum lagi kesulitan dalam mencari pekerjaan yang diiringi gelombang PHK di beberapa sektor dan perusahaan. Seperti yang digambarkan oleh BPS bahwa lebih dari 42 ribu pekerja terkena PHK di enam bulan pertama 2025, sementara ada lebih dari satu juta sarjana berebut cari kerja. (jawapos.com, 8-8-2025). Ditambah pajak yang dibebankan kepada masyarakat, yang bahkan menurut riset Celios kelompok masyarakat miskin membayar pajak lebih tinggi secara persentase dibandingkan masyarakat super kaya. (finance.detik.com, 12-8-2025). Hal ini semakin menambah beban ekonomi bagi masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, masyarakat dihadapkan pada akses pendidikan yang belum merata. Meskipun ada sekolah rakyat, tetapi tidak lantas menjadi solusi pemerataan pendidikan bagi seluruh kalangan. Terlebih dengan pendidikan yang berbiaya tinggi bagi tingkat perguruan tinggi, sementara tidak didukung dengan kemampuan masyarakat, menjadikan kesenjangan semakin jauh. Padahal pendidikan merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan peradaban.
Begitu pula dalam bidang kesehatan. Masyarakat masih kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang berkualitas. Layanan kesehatan gratis banyak dipersulit dengan regulasi dan administrasi. Akibatnya banyak dari masyarakat yang terabaikan meskipun sudah dalam kondisi memprihatinkan hanya karna tidak memiliki uang. Sungguh sebuah ironi kemerdekaan.
Inilah fakta kondisi masyarakat Indonesia hari ini, meskipun yang tercatat hanyalah sedikit dari banyaknya permasalahan yang ada. Terlihat jelas fakta-fakta yang terjadi di masyarakat menunjukan bahwa Indonesia belum merdeka secara hakiki. Meskipun secara fisik sudah terbebas, namun secara pemikiran masih terjajah, akhirnya kesejahteraan masyarakat ibarat ilusi.
Hal ini terjadi akibat penerapan sistem sekuler-kapitalisme. Sistem yang lahir dari akal manusia ini sejatinya tidak pernah berpihak kepada rakyat, melainkan kepada segelintir orang, yakni para kapital. Sistem ini hanya melayani para kapital dengan mempermudah jalan mereka dalam memenuhi kepentingannya. Akibatnya yang kaya makin kaya, yang miskin makin menderita. Omong kosong dengan pemerataan dan keadilan. Semua dilakukan hanya karena kepentingan.
Sejatinya kemerdekaan hakiki bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik, melainkan terbebas dari keterbelengguan pemikiran. Dalam Islam merdeka adalah manakala terbebas dari segala bentuk penghambaan duniawi, dan hanya tunduk pada Allah SWT.. Maka selama kita masih patuh dan tunduk kepada manusia, apalagi sistem yang lahir darinya, maka selama itu pula kita belum merdeka.
Islam sebagai sebuah sistem kehidupan, bukan sekedar agama ritual. Ia lahir dari Sang Pencipta dan Pengatur manusia. Di dalamnya terdapat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari mulai individu hingga masyarakat. Dari bangun tidur hingga bangun negara. Dengan sistem Islam inilah, lebih dari 13 abad lamanya masyarakat berada dalam kesejahteraan dan keadilan. Tidak hanya umat muslim, orang-orang kafir pun turut merasakannya.
Ketika manusia menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan, ia bukan hanya merdeka secara fisik, tetapi juga pemikiran. Karena tidak ada lagi ketundukan pada manusia, termasuk segala aturan yang lahir dari pemikirannya yang liar dan terbatas. Sebab, hanya aturan Allah yang Maha Adil yang berlaku. Dengan aturan inilah Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 96.
Maka, jika setiap tahun masyarakat Indonesia selalu merayakan kemerdekaan dengan euforia, hari ini patut menjadi muhasabah bagi kita. Betulkah kita merayakan kemerdekaan, atau merayakan keterjajahan? Wallahu a’lam bishshawab. [LM/AH]
