Bebaskan Palestina Tak Cukup dengan Retorika

Bebaskan Palestina Tak Cukup dengan Retorika

Oleh: Atik Hermawati 

Lemsamedianews.com, Opini — Keputusan Israel mengambil alih Gaza mendapatkan berbagai kecaman dari dunia, termasuk Indonesia. Indonesia menambah daftar panjang negara yang mengecam langkah Israel tersebut. Kecaman mulai dari Inggris, Prancis, Kanada, Australia, Turki, hingga China, bahkan Jerman menghentikan ekspor perlengkapan militernya ke Tel Aviv. Meski demikian, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant Katz, menegaskan kritik maupun ancaman sanksi dari berbagai negara tidak akan melemahkan tekad mereka. (Bbcnews, 8-8-2025).

Indonesia mengecam keras terhadap keputusan sepihak Israel mengambil alih Gaza. Pemerintah Indonesia kembali menekankan pentingnya solusi dua negara sebagai solusi konflik Palestina–Israel. Hal ini diwujudkan melalui seruan kolektif untuk melangkah pada tiga hal, yakni pengakuan internasional atas negara Palestina, penghentian kekerasan melalui gencatan senjata, serta penentuan masa depan Palestina yang sepenuhnya berada di tangan rakyatnya. (kumparannews, 9-8-2025).

Tanpa Aksi Nyata, Dua Wajah Berbeda

Kelaparan yang tragis warga Gaza akibat genosida menjadi tontonan sehari-hari. Tindakan bengis dan biadab zionis Israel sampai saat ini tidak cukup membuat para pemimpin negeri muslim bergerak mengirimkan bala tentara mereka. Lagi-lagi hanya kecaman demi kecaman atas 75 tahun lebih genosida yang terjadi. Tentu saja, lagu lama tersebut tidak membuat Israel takut dan tetap mengulangi agresi mereka.

Israel sangat memahami bahwa para pemimpin dunia Islam tak akan pernah mengerahkan kekuatan nyata untuk membebaskan Palestina. Di depan publik lantang mengecam, di belakang layar mereka tetap menjalin hubungan erat dengan rezim zionis maupun AS demi keuntungan politik dan ekonomi. Turki misalnya, justru meningkatkan kerja sama dagang dengan Israel. Begitupum Uni Emirat Arab, Mesir, Maroko, Sudan, Bahrain, dan Yordania yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sungguh sebuah bentuk pengkhianatan atas amanah Allah untuk melindungi agama dan jiwa kaum muslim. Para pemimpin dunia Islam berjabat tangan dengan pihak yang berlumuran darah saudara mereka. Solusi dua negara yang mereka dukung pun telah menambah pengkhianatan tersebut. Mengakui Israel sebagai sebuah negara sama saja mengakui penjajahan mereka.

Jihad dan Khilafah Bebaskan Palestina

Israel adalah negara kafir harbi fi’lan. Haram untuk berdamai dengan mereka. Islam telah mengharamkan hubungan diplomatik apa pun dengan Israel. Yang wajib dilakukan adalah memerangi dan mengusir mereka. Allah Swt. berfirman,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا…

“Perangilah oleh kalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas….”(QS Al-Baqarah [2]: 190).

Kaum muslimin harus bersatu sebagai umatan wahidan. Wajib membela satu sama lainnya. Solusi genosida Gaza hanyalah dengan jihad dan Khilafah, bukan yang lain. Sebab, persoalan Palestina bukan hanya sekedar persoalan kemanusiaan, melainkan urusan agama dan keimanan. Status negeri Palestina sebagai tanah kharajiyah yang menjadi milik kaum muslim, wajib dipertahankan dan dibebaskan setiap jengkalnya dari cengkeraman zionis Israel.

Dengan Khilafah, kaum muslimin akan bersatu dalam satu kepemimpinan Islam, sebagai negara yang tidak akan tunduk pada makhluk, melainkan tunduk pada aturan Sang Khaliq. Khilafah adalah lawan yang setimpal untuk melawan zionis Israel, AS, beserta sekutunya. Dengan kedigdayaannya mampu membebaskan setiap negeri muslim dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab. [LM/Ah]