Narsistik Setitik, Rusak Empati Bencana Senegara

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.Com–Viral perkataan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya yang meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk lebih agresif mengamplifikasi kerja pemerintah agar tidak kalah pamor dibandingkan aksi relawan yang dinilainya “cuma datang sekali” (inilah.com, 9-12-2025).
Lantaran aksi para relawan dan content creator dalam penanganan bencana banjir di Sumatera menurut Endipat menarasikan di media sosial seolah pemerintah tidak hadir dalam menangani bencana. Semestinya Kemenkomdigi lebih tahu persis isu sensitif nasional dan membantu pemerintah hingga tidak kalah viral dibandingkan dengan ” teman yang paling-paling di Aceh, di Sumatra, dan lain-lain” (liputan6.com, 8-12-2025).
Bahkan Endipat secara spesifik membandingkan nominal bantuan relawan dengan anggaran negara.”Cuma Nyumbang Rp10 Miliar, Negara Triliunan”. Sungguh menggelikan tingkah wakil rakyat satu ini, ia “iri” bahkan narsistik dengan aksi content creator Ferry Irwandi yang berhasil menggalang dana Rp10,3 miliar dalam 24 jam untuk korban banjir Sumatera. Ferry tak sendiri, ia bersama tim NGO kemudian Jovial Da Lopez, JS Khairen dan Kitabisa.
Mereka fokus menyalurkan bantuan ke titik-titik terisolir yang minim bantuan, seperti kawasan hilir di Tamiang dan Langkat. Ferry pun mengakui adanya tantangan distribusi, di sinilah pentingnya kolaborasi, terkait penyaluran bantuannya dibantu oleh DitPolairud Polri dan Polda Sumatera Utara.
Pertanyakan Dimana Negara Saat Rakyat Susah?
Endipat tak sendiri, banyak pejabat kita hari ini yang hanya mengedepankan tampilan fisik, tertangkap kamera sedang beraksi kemudian viral. Bencana alam di Pulau Sumatra telah membuka banyak hal, di antaranya keserakan pejabat dan pengusaha, membuka hutan seluas-luasnya dengan jargon, berdayakan hutan, hilirisasi dan lainnya. Tanpa ada pemikiran rakyatlah kelak yang menjadi korbannya.
Berita bupati Aceh yang berangkat umrah di saat rakyatnya masih tenggelam dalam derita, menyusul presiden kita pun sudah melakukan lawatan ke luar negeri dengan mengeluarkan pernyataan ” Sudah membaik”. Sungguh, inilah potret pemimpin yang lahir dari rahim demokrasi. Tak hanya lisannya yang buruk, tapi juga telah mati hati.
Para pejabat ini lupa, rakyatlah sejatinya yang punya kuasa, Endipat lupa, yang ia sebut sebagai negara sudah mengeluarkan trilyunan adalah uang rakyat juga, sama seperti uang yang dikumpulkan konten kreator yang menjadikan ia iri.
Narsistik sangalah memalukan, karena menggeser empati sedemikian rupa. Bukankah seharusnya yang dikedepankan adalah melayani rakyat? Dalam Sistem Kapitalisme hari ini, apa yang seharusnya menjadi hak rakyat dari negara tetap diitung untung rugi.
Penanggung Jawab Rakyat adalah Negara
Dalam Islam, Rasulullah saw. telah memberikan definisi pemimpin dengan jelas, ” Seorang pemimpin atau kepala negara adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka, segala urusan yang berhubungan dengan kebutuhan rakyatnya adalah kewajiban pemimpik untuk memenuhinya. Bukan malah menganggap rakyat sebagai saingan, dan juga dana yang dikeluarkan oleh negara dianggap sumbangan.
Meski negara sudah hadir, tak hanya alat berat, pembangunan posko dan menggelontorkan dana namun masih terbilang lambat. Bahkan hingga hari ini belum juga dinyatakan sebagai bencana nasional. Banyak pihak mengatakan, jika benar dinyatakan sebagai bencana nasional maka akan menguak banyak kejahatan yang melibatkan banyak nama, termasuk nama presiden hari ini. Dan yang terberat adalah konsekwensi mengadili berbagai kejahatan dan pelanggaran yang terjadi.
Islam adalah agama sempurna, menjadikan negara sebagai pihak yang konsen pada penanggulangan bencana dan senantiasa siap tanggap terhadap dampak bencana. Artinya, negara harus berada di garda terdepan untuk menangani bencana secara langsung dan tidak ada campur tangan dari pihak lain.
Sebaliknya negara akan memaksimalkan potensinya untuk meminimalkan dampak bencana, seperti segera mengevakuasi korban, membuka akses jalan dan komunikasi, dan mengalihkan material-material ke tempat yang jauh dari hunian masyarakat. Negara membentuk tim penyelamat yang memiliki kemampuan teknis dan nonteknis, dibekali dengan peralatan canggih, sehingga siap diterjunkan di wilayah terdampak bencana. Mereka ditugaskan untuk menyiapkan tempat tinggal, pasokan makanan yang cukup dan pelayanan kesehatan yang terbaik.
Mengajak masyarakat saling tolong-menolong, melalui harta, tenaga, maupun dukungan moral. Namun tetap negara bertanggung jawab penuh. Negara samasekali tidak boleh membebankan pembiayaan kepada rakyat. Baik mitigasi maupun penanganan bencana diambil dari Baitulmal, yaitu pos dana darurat negara, tidak pula bergantung pada utang luar negeri atau skema korporasi. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
