Bukan Makanan Beracun Gratis!

Oleh: Ranita
LenSaMediaNews.com–Boleh dikatakan pemerintah sedang mempertahankan proyek gagal. Proyek yang awalnya ditujukan untuk mengatasi stunting ini sejak awal pelaksanaannya terus menuai kontroversi. Mulai dari struktur pelaksanaannya yang tidak melibatkan ahli gizi, sumber pendanaannya yang memangkas biaya pendidikan dalam APBN, hingga terjadinya kondisi yang sering menjadi kekhawatiran orang tua: keracunan.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, dalam periode 1 hingga 13 Januari 2026 saja, 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan makan bergizi gratis. Terakhir, korban kasus keracunan MBG di seluruh Indonesia mencapai hingga 1.929 orang (bbc.com, 30-1-2026).
Sayangnya, banyaknya jumlah kasus keracunan tidak menjadikan pemerintah bermuhasabah. Pengawasan keamanan pangan belum diperketat. Alih-alih menjamin gizi generasi, MBG justru mengancam kesehatan peserta didik. Yang dikahwatirkan, yang hilang dari generasi bukannya stunting, tapi keselamatan.
Akar Masalah Gizi Generasi
Stunting merupakan sebuah kondisi dimana seorang anak balita mengalami gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Stunting ditandai dengan tinggi badan di bawah standar usia (kerdil). Kondisi stunting ini terjadi akibat kurang gizi sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Gejala stunting meliputi tubuh pendek, pertumbuhan lambat, dan penurunan kognitif.
Jadi, pencegahan stunting harusnya dimulai sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Bukan saat anak telah melewati usia sekolah. Kebijakan MBG yang diklaim dapat mengatasi stunting, adalah kebijakan ngawur yang tidak bersesuaian dengan konsep gizi dan kesehatan. Pendekatan tambal sulam khas Sistem Kapitalisme semacam ini tidak akan mampu menyelesaikan masalah secara fundamental, bahkan dapat menyebabkan munculnya persoalan baru.
Perbaikan gizi masyarakat akan bisa dilakukan jika akses masyarakat terhadap sumber daya dan kebutuhan pokok terbuka luas, dengan daya beli yang juga tinggi. Persolannya apakah mungkin kondisi tersebut bisa dirasakan masyarakat jika kekayaan publik semacam barang tambang, mata air, dan hutan hanya dikuasai oleh segelintir orang (kapitalis) yang dekat dengan kekuasaan?
Bukannya pemerataan dan kemudahan akses ekonomi, masyarakat justru merasakan kondisi sebaliknya. Akibatnya, kemiskinan struktural terus berputar ibarat lingkaran setan. Daya beli masyarakat semakin rendah. Kesehatan dan pendidikan layak untuk seluruh masyarakat hanyalah angan-angan.
Cabut Ekonomi Kapitalisme Sampai ke Akar
Membuka akses ekonomi seluas-luasnya untuk masyarakat berarti menutup monopoli segelintir pemilik modal (kapitalis) terhadap kekayaan milik publik. Artinya, sistem ekonomi kapitalistik yang mengizinkan monopoli tersebut harus ditinggalkan dan diganti dengan sistem ekonomi yang berkeadilan.
Sistem ekonomi yang berkeadilan, tentunya bukan bersumber dari sistem sosialisme dengan konsep sama rata-sama rasa tanpa kelas. Sistem ekonomi yang berkeadilan tentunya harus bersumber dari Tuhan Yang Maha Adil. Ini adalah Sistem Ekonomi Islam.
Islam sejak awal telah memilah sumber dan jenis kepemilikan. Ada jenis-jenis harta dan sumber daya yang merupakan milik umum, milik negara, dan sebagian lainnya boleh dimiliki individu muslim dan non-muslim dengan cara-cara perolehan harta yang diizinkan oleh Islam. Negara diharamkan mengambil paksa harta milik individu di satu sisi. Di sisi lain, negara juga diharamkan memberikan harta milik umum (publik) untuk dikelola atau dimiliki segelintir orang.
Dengan demikian, kemiskinan struktural akan dapat dicegah. Seluruh masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya dan kebutuhan pokok. Tagihan listrik dan air bersih tidak akan menjadi beban individu karena Islam telah mewajibkan negara untuk mengelolanya agar bisa diakses oleh seluruh warga negara.
Harta yang diperoleh negara dari pengelolaan kekayaan umum ini akan dikembalikan oleh negara kepada seluruh masyarakat melalui pembiayaan kesehatan, pendidikan, dan jaminan keamanan. Dengan penerapan sistem ekonomi islam, gizi masyarakat dapat terpenuhi tanpa program Makanan Beracun (Bergizi) Gratis. Allahu a’lam bishshowwab. [LM/ry].
