Wajah Asli Generasi dalam Sistem Demokrasi Liberalis

Oleh Iky Damayanti ST.
LenSaMediaNews.com–Aksi brutal geng motor di Langkat, khususnya area Stabat dan Binjai, kian meresahkan. Hingga April 2026, konvoi bersenjata tajam dan serangan fisik masih terus menghantui warga, (mediagramindo.com, 19-4-2026). Meski aparat Kepolisian dan TNI telah meng-intensifkan patroli malam seperti Blue Light dan razia rutin, kenyataannya tindakan tersebut belum mampu memutus rantai kriminalitas remaja ini secara permanen.
Mengapa operasi aparat negara seolah tidak membuahkan hasil nyata? Jika kita telaah lebih dalam, fenomena ini bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan buah dari kerusakan tatanan sistemik yang kita anut saat ini.
Krisis Identitas dalam Kebebasan Liberal
Dalam Sistem Demokrasi liberal, pilar pengokoh generasi perlahan runtuh. Hak Asasi Manusia (HAM) seringkali disalah artikan sebagai kebebasan tanpa batas. Tidak ada pertimbangan halal-haram. Akibatnya, lahir generasi yang kehilangan jati diri dan cenderung mengejar kesenangan lahiriah semata. Tanpa standar moral yang jelas, potensi besar pemuda justru beralih menjadi arogansi dan tindakan destruktif.
Budaya individualisme membuat kontrol sosial menjadi mandul. Prinsip untuk saling menasehati dalam kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar) kini sering dianggap sebagai campur tangan terhadap hak pribadi orang lain. Masyarakat cenderung diam terhadap kemungkaran, sementara mereka sendiri disibukkan oleh tekanan ekonomi yang kian menghimpit.
Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat kehilangan peran edukasinya. Beban ekonomi yang berat memaksa ayah bekerja melampaui batas dengan upah yang tidak layak, sementara ibu terpaksa ikut mencari nafkah demi kelangsungan hidup. Anak-anak tumbuh dalam kesepian, tanpa pendampingan akidah yang kokoh dari rumah, dan akhirnya dididik oleh lingkungan jalanan yang bebas.
Saat ini, negara cenderung memandang kerusakan generasi sebagai kesalahan individu semata. Solusi yang diambil hanya bersifat jangka pendek dan administratif, tanpa menyentuh akar permasalahan. Sistem pendidikan pun lebih difokuskan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai daripada membangun karakter takwa.
Islam: Solusi Komprehensif Melalui Tiga Pilar
Islam menawarkan tata kelola yang menyeluruh untuk membangun peradaban melalui tiga pilar utama, pertama, negara menjamin lapangan kerja bagi ayah dengan upah yang layak agar ia mampu menjadi pemimpin (qowwam) keluarga yang optimal. Ibu dikembalikan pada peran strategisnya sebagai pendidik pertama generasi (ummun wa rabbatul bait), sehingga anak mendapatkan fondasi akidah yang kuat sejak dini.
Kedua, menciptakan lingkungan yang peka. Budaya saling menjaga menasehati menciptakan ruang publik yang aman dan religius, sehingga kemaksiatan tidak diberi ruang untuk berkembang. Ketiga, negara bertindak sebagai perisai (junnah)yang melindungi rakyat. Seperti dalam hadist Rasulullah Saw.,”Sesungguhnya al-Imam pemimpin/khalifah itu perisai (junnah) di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Melalui Sistem Ekonomi Islam yang memiliki kejelasan kepemilikan dan distribusi yang merata. Juga Baitulmal yang hadir sebagai jantung perekonomiannya. Dimana pos pendapatan dan pengeluarannya telah ditentukan syariat. Dari sini negara Daulah Khilafah wa mampu memberikan pendidikan, kesehatan, kebutuhan dasar, dan fasilitas publik terpenuhi dengan layak dan gratis.
Kurikulum pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu ahli sains sekaligus bertakwa. Hal ini terlihat pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, banyak melahirkan ulama sekaligus ilmuwan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Seluruh potensi generasi tersalurkan lewat fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari lab dan perpustakaan. Guru juga diberi gaji yang fantastis sesuai dengan beban kerjanya. Serta kurikulum pendidikan langsung hadir dari Pencipta.
Selain itu, negara memiliki kedaulatan penuh atas informasi melalui departemen penerangan (i’lam). Konten media di filter untuk memastikan hanya informasi yang membangun kecerdasan dan ketakwaan yang tersebar, bukan konten yang memicu kriminalitas atau pergaulan bebas. Maka konten dibuat sungguh-sungguh tanpa mencederai hukum syara. Dari berbagai mekanisme ini lah akan terbit generasi emas ala Islam.
Saatnya Umat Sadar
Menumpas geng motor tidak cukup hanya dengan patroli dan gas air mata. Diperlukan perubahan sistemik untuk menyelamatkan generasi. Sudah saatnya kita memperjuangkan sistem yang telah terbukti selama 1300 tahun mampu mencetak generasi emas, sebuah sistem yang menempatkan aturan Allah SWT. sebagai standar tertinggi dalam menjaga kehidupan dan kehormatan manusia. Semua itu terlaksana dalam sistem Islam yang bernama Daulah Khilafah islamiyyah.Wallahu a’lam bish-shawab. [LM/ry].
