Krisis Moral Siswa Zaman Now, Pendidikan Sekulerisme

Oleh: Iliyyun Novifana
LenSaMediaNews.com–Sembilan siswa kelas XI SMAN 1 Purwakarta melakukan aksi tidak pantas dengan mengacungkan jari tengah dan perilaku melecehkan lainnya terhadap guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di sekolah tersebut selepas sang guru mengajar dan berjalan keluar kelas.
Aksi tidak bermoral ini divideokan oleh salah satu siswa dan diunggah ke media sosial. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto mengatakan bahwa sembilan siswa tersebut berlaku demikian karena merasa kesal kepada sang guru lantaran jadwal presentasi kelompok mereka yang semula diurutan kedua dipindah menjadi urutan terakhir. Diketahui bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan sadar dan sengaja.
Kadisdik Jawa Barat memastikan para siswa tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah, hanya dilakukan pembinaan intensif selama tiga bulan termasuk menjalankan kegiatan sosial di sekolah dan masyarakat, serta pendampingan psikolog, pengawasan guru wali setiap hari, dan evaluasi rutin bersama orang tua siswa setiap pekan.
Pemberian sejumlah kewajiban itu harapannya dapat mengubah perilaku siswa. Purwanto juga menyoroti soal media sosial dan penggunaan gawai selama jam pelajaran yang perlu adanya pengawasan dalam penggunaannya oleh pihak sekolah serta orang tua siswa itu sendiri (detik.com, 20-4-2026).
Pelajar Output Sistem Pendidikan Sekuler
Mayoritas saat ini yang diutamakan dalam dunia pendidikan adalah prestasi akademik. Soal adab kepada sang pendidik menjadi nomor kesekian, bahkan mungkin sudah tidak memiliki prioritas. Berbagai kurikulum pendidikan yang diujicobakan nyatanya makin kesini makin krisis moral.
Hal ini disebabkan karena sistem pendidikan itu sendiri yang mengusung sekulerisme atau pemisahan antara agama dari kehidupan. Sejatinya ide sekuler buatan manusia inilah akar dari segala persoalan yang terjadi termasuk diantaranya hilangnya budaya menghormati orang yang lebih tua. Generasi muda menjadi merasa lebih pintar, lebih modern, melek teknologi, didukung kebebasan berekspresi, bertingkah laku sehingga rasa terlalu percaya diri mereka menjulang tinggi ke langit. Bahkan cenderung kepada perilaku sombong dan takabur.
Perilaku nir adab seperti ini tidak lepas pula dari pola didik dan pola asuh di rumah. Setiap anak akan melihat bagaimana sikap orang tua mereka dalam kesehariannya. Apakah cuek, minim interaksi antara orang tua dan anak, anak dibebaskan sepanjang waktu bermain gadget, selesai. Tak ada nasihat, tak ada tangki cinta, hanya tinggal bersama, bukan hidup bersama.
Keadaan demikian bukanlah keluarga cemara. Hanya keluarga kesepian, kurang perhatian dan kasih sayang. Dampak yang ditimbulkan adalah anak akan mencari perhatian salah satunya dengan berbuat “kenakalan” di sekolah bersama teman yang senasib sepenanggungan. Paket komplit mencetak generasi sekuler dari tataran keluarga, masyarakat, hingga negara.
Pendidikan dalam Sistem Islam
Islam memiliki aturan dalam sistem pendidikan, yaitu mewujudkan kepribadian Islam pada masing-masing pelajar. Kepribadian Islam adalah pola pikir dan pola sikap Islam dalam setiap aktivitasnya. Seseorang akan senantiasa berpikir sebelum bertindak, apakah sesuatu yang hendak dilakukannya dibolehkan dalam Islam atau dilarang. Artinya, standar perbuatan mereka adalah terikat hukum Syara, yaitu hukum Allah.
Syariat Islam tidak hanya diterapkan dalam sistem pendidikan, tetapi juga dalam setiap lini kehidupan manusia baik sistem pemerintahan, ekonomi, pergaulan, sanksi hukum. Sebab setiap kebijakan dalam hal pendidikan, pasti berkaitan dengan sistem yang lain. Oleh karena itu untuk membenahi generasi yang sekuler agar menjadi generasi yang cerdas beradab maka harus memutus lingkaran sekulerisme tersebut dan menggantinya dengan syari’at Islam.
Allah SWT. menantang manusia dalam firmanNya yang artinya. ” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (TQS Al Madinah:50). Wallahua’lam bishshowab. [LM/ry].
