Agar Harta Tidak hanya Berputar di Kalangan Orang Kaya

20250519_035908

Oleh Nadisah Khairiyah

 

Lensamedianews.com_

“…كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ…”

“…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.” (TQS Al-Hasyr: 7)

 

Sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang punya segalanya, bahkan lebih dari cukup. Tapi di sisi lain, ada pula yang untuk makan sehari-hari saja harus berjuang keras. Kenapa bisa terjadi ketimpangan seperti ini? Padahal, Allah sudah memberi petunjuk dalam Al-Qur’an agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja.

 

 

Ayat ini bukan sekadar nasihat, tapi arahan nyata dari Allah. Islam tidak membiarkan ketimpangan terus terjadi. Karena itu, mari kita telusuri bersama bagaimana Islam, melalui tuntunan Al-Qur’an, sunnah, dan pemikiran ulama seperti Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, memberi solusi agar kemiskinan bisa dientaskan dan keadilan bisa ditegakkan.

 

 

Makna Ayat dan Pesan Kehidupan

Ayat dari Surah Al-Hasyr ini menjadi pengingat bahwa dalam Islam, kekayaan bukan untuk ditumpuk-tumpuk atau diwariskan hanya dalam lingkaran orang berada. Harta adalah amanah. Ia harus beredar, dimanfaatkan, dan bisa menjadi jalan untuk menolong sesama.

 

 

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyampaikan bahwa Islam bukan hanya agama ibadah pribadi. Islam adalah sistem hidup yang punya aturan dalam mengatur kekayaan, perdagangan, zakat, dan kepemilikan. Tujuannya jelas: agar tidak ada satu pun manusia yang terpinggirkan karena sistem yang zalim.

 

 

Siapa yang Disebut Fakir dan Miskin?

Menurut kitab Al-Amwal fi Dawlah al-Khilafah karya Abdul Qadim Zallum, dua kelompok ini perlu kita kenali:

1. Fakir, Orang yang benar-benar tidak punya apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Miskin, Orang yang punya sebagian, tapi masih belum mencukupi untuk kebutuhan dasarnya.

Keduanya berhak mendapat bantuan zakat. Tapi lebih dari itu, mereka berhak atas sistem yang membuat mereka keluar dari kemiskinan, bukan sekadar menerima bantuan sekali dua kali.

 

 

Islam Mengatur Kepemilikan dan Distribusi

Islam membagi harta menjadi tiga:

1. Milik individu: Bisa dimiliki siapa saja, selama cara mendapatkannya halal.
2. Milik umum: Seperti air, listrik, tambang – ini tidak boleh dimiliki pribadi atau swasta.
3. Milik negara: Diatur untuk kepentingan umat.

Dengan sistem seperti ini, tidak ada monopoli, tidak ada penimbunan, dan tidak ada yang kaya makin kaya sementara yang miskin makin terhimpit.

 

 

Negara Islam: Pelayan, Bukan Penonton

Negara dalam sistem Islam (Khilafah) punya tugas besar: menjamin kebutuhan pokok rakyat. Negara bukan hanya mengatur, tapi juga turun tangan. Dari baitul mal (kas negara), kebutuhan fakir miskin dipenuhi. Negara menghapus riba, melarang penimbunan, dan mengelola sumber daya untuk kesejahteraan semua.

 

 

Mengapa Sistem Sekarang Gagal?

Kapitalisme, sistem yang diterapkan dunia saat ini, menjadikan uang sebagai pusat segalanya. Siapa punya modal, dia bisa atur pasar. Akibatnya, kekayaan beredar hanya di kalangan atas. Yang miskin? Diberi bantuan seadanya, tapi tidak diberi jalan keluar.

 

 

Arah Perubahan: Kembali kepada Islam Secara Menyeluruh

Syaikh al’alamah Taqiyuddin an-Nabhani menawarkan solusi: kembalilah kepada Islam secara utuh. Tegakkan sistem hidup Islam, dari ekonomi, sosial, sampai pemerintahan. Bukan nostalgia masa lalu, tapi ini kebutuhan hari ini. Dengan sistem ini, insya Allah tidak ada lagi yang lapar, tak ada lagi yang putus sekolah, dan tak ada lagi yang hanya jadi penonton kekayaan orang lain.

 

 

Hidup ini bukan hanya tentang kita cukup, tapi tentang apakah tetangga kita juga bisa makan hari ini. Islam itu indah. Ia datang membawa rahmat, bukan hanya untuk yang taat, tapi untuk seluruh umat.

 

 

Kalau kita ingin hidup lebih adil dan berkah, mari jadi bagian dari perubahan. Mulailah dari diri sendiri, lalu keluarga, lalu masyarakat. Mari doakan, dukung, dan perjuangkan tegaknya sistem Islam yang menyeluruh. Bukan demi masa lalu, tapi demi masa depan yang lebih baik dan penuh rahmat.