Cara Menghidupkan Kembali Getaran Kasih di Hati Ibu

Ibu_20240909_104336_0000

Oleh: Ummu Fifa

MIMم_Muslimah Indramayu Menulis 

 

LenSaMediaNews.com__Sepulang berbincang dengan para pejuang pangan, saya bermaksud kembali ke tempat kerja. Sembari melewati jalan yang di sisi kanan kirinya terhampar areal persawahan. Tanaman padinya nampak mulai berbunga. Seketika pandangan saya terhenti pada beberapa siswa berpakaian seragam sekolah SMP yang tengah mengeroyok satu orang temannya hingga babak belur. Saya berusaha membubarkan aksi para siswa tersebut dengan berteriak meminta tolong pada beberapa orang di sekitar jalan tersebut.

 

Ada beberapa petani yang sedang beraktivitas di sawah mereka, ada juga beberapa ibu yang tengah berbincang di warung tak jauh dari lokasi para siswa yang terlibat baku hantam tadi. Namun saya merasakan keanehan. Mereka tampak biasa saja, tak menyambut teriakan permintaan tolong saya. Awalnya saya berharap mereka bergegas untuk melerai para siswa yang terlibat perselisihan. Tapi tak satu pun dari mereka yang sigap melihat peristiwa tersebut. Mereka malah membiarkan, sampai beberapa siswa tadi berlarian (bubar) karena mendengar teriakan dan suara klakson motor yang saya bunyikan tanpa henti.

 

Sembari menenangkan diri, saya menghampiri beberapa ibu di warung. Kemudian saya membuka obrolan dengan menanyakan sikap mereka yang cuek dan terlihat masa bodo. Untuk yang kedua kalinya saya merasa aneh, mereka hanya menjawab “itu sudah biasa bu”. Kejadian yang hampir melenyapkan nyawa seorang manusia, dianggap sudah biasa.

 

Aksi generasi muda yang jauh dari kata manfaat, serta respon masyarakat yang jauh dari kata peduli menjadi bukti kalau Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Negeri tercinta tengah dilanda darurat kerusakan moral. Belumlah akal ini bisa menerima fakta di depan mata, namun sudah disuguhi dengan berita seorang ibu di Sumenep yang dengan sadar tega menyerahkan putrinya untuk disetubuhi dan dicabuli oleh seorang kepala sekolah (kumparan.com, 01-09-2024).

 

Gambaran pola interaksi seperti ini hanya ada di era kapitalis-sekuler saat ini. Ibu yang seharusnya menjadi pendidik utama dan pertama justru melakukan kekejian luar biasa. Ini membuktikan matinya naluri keibuan nyata adanya, dan menambah panjang deretan potret buram rusaknya pribadi ibu dan masyarakat.

 

Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan sistemis dan bukti kegagalan sistem yang diterapkan, khususnya sistem pendidikan juga sistem sanksi. Sistem pendidikan yang jauh dari asas ruhiyah, sudah menggerus nilai-nilai luhur yang seharusnya dimiliki pada institusi keluarga. Ide sekuler yang terlanjur mengakar menjadikan pola asuh orang tua hanya berorientasi pada capaian materi serta kebahagiaan yang bersifat jasadiyah. Sehingga mewujudkan generasi yang lemah dan tanpa tujuan masa depan.

 

Tak ubahnya dengan sistem sanksi bagi pelaku kriminal. Alih-alih meminimalisir tindak kejahatan, sistem sanksi di negeri ini malah menjadikan tindak kejahatan semakin tak terhitung dengan berbagai modusnya.

 

Berbeda dengan pandangan Islam yang menetapkan peran dan fungsi ibu, yaitu sebagai pendidik yang utama dan pertama. Dengan landasan akidah Islam, seorang ibu yang mengasuh anak akan memastikan pengasuhannya bernilai ibadah di hadapan Allah. Maksudnya adalah proses pendidikan akan disesuaikan dengan tuntunan Islam yaitu melahirkan generasi ber-syaksiyah Islamiyah (berkepribadian Islam).

 

Generasi yang mampu mempersembahkan manfaat keilmuannya guna kemaslahatan umat, serta mampu memimpin umat menapaki jalan ketakwaan terhadap Allah. Dan lebih dari itu, generasi berkepribadian Islamiyah akan mampu membawa negaranya menjadi negara yang berpengaruh di dunia dengan keagungan akhlaknya yang khas.

 

Dalam Islam cita-cita memiliki generasi berkualitas tidak hanya sekadar diinginkan keluarga muslim saja, namun juga menjadi proyek utama sebuah negara. Karenanya, dalam sistem pemerintahan Islam yang berasaskan Al-Quran dan Sunah Nabi SAW, penerapan aturan pada aspek ekonomi, sosial, kesehatan, keamanan serta sistem sanksi senantiasa sejalan membentuk support system yang kuat dalam mewujudkan kesuksesan sistem pendidikan.

 

Pada akhirnya penerapan sistem Islam secara kaffah (sempurna), meniscayakan terjaganya fitrah seorang ibu dalam mengasuh anak. Pola interaksi masyarakat pun jauh dari kata acuh tak acuh, karena negara akan memastikan seluruh warganya untuk ber-amal ma’ruf nahi munkar.

 

Didukung dengan sistem sanksi yang beasal dari Sang Pencipta akan menutup celah terjadinya manipulasi dalam penegakkan hukum sehingga mampu menjaga setiap individu dalam kebaikan, kataatan dan keberkahan Allah. Wallahu a’lam bish-shawwab. [LM]