Cinta Ditolak Emosi Bertindak

Abu-Abu Minimalis pengingat tentang kesucian Cinta Untuk Instagram Post_20250122_085833_0000

Oleh : Nurfillah Rahayu

(Forum Literasi Muslimah Bogor)

 

Lensa Media News – Kasus pembunuhan yang terjadi di Lamongan yang dilakukan oleh salah satu siswa SMK membuat prihatin berbagai kalangan. Seperti dilansir dari kompas.com /17 Januari 2025, Perumahan Made Great Residence, Desa Made, Lamongan, digegerkan dengan penemuan jasad membusuk di sebuah warung kopi yang sudah lama tutup, pada Rabu (15/1/2025). Jasad yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan ini akhirnya terungkap sebagai korban pembunuhan, dengan pelaku yang tak lain adalah teman korban sendiri.

Motif pembunuhan pelajar oleh temannya sendiri ini ternyata akibat ditolak cintanya. Inilah yang memicu pelaku tidak dapat mengontrol emosi sehingga melakukan kekerasan hingga nyawa korban menghilang. Sungguh sangat disayangkan kasus ini bisa terjadi di negeri ini. Pelajar yang identik dengan jiwa muda yang penuh dengan hal positif kini mulai bergeser ke arah yang negatif. Ini disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari lemahnya iman sehingga tidak bisa mengontrol emosi, minimnya pendidikan moral, dan pengabaian terhadap kesehatan mental di kalangan remaja. Lingkungan sosial yang kurang suportif juga berkontribusi memperburuk kondisi ini. Demikian juga media yang hari ini bebas tayang tanpa batas dan menjadi ‘guru’ generasi yang rendah literasi.

Tentu saja berbagai kondisi yang melingkupi ini adalah buah dari kehidupan yang diatur dengan sistem sekuler kapitalisme.

Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga halal dan haram tidak lagi jadi acuan dalam bertindak.

Di sisi lain, kapitalisme membuat ukuran kebahagiaan hanya berdasarkan materi atau terpenuhinya keinginan seseorang. Sehingga akhirnya dapat menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai. Demikian pula emosi dilampiaskan sesuai dengan hawa nafsunya semata.

Berbagai persoalan generasi ini jelas membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi komprehensif. Dan hanya Sistem Islamlah satu-satunya yang dapat menyelesaikan segala permasalahan ini.

Karena sistem Islam menjadikan pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia, pengendalian diri dan pemahaman yang benar terhadap hubungan dengan sang Pencipta, antar manusia, ataupun dengan dirinya sendiri, Islam telah mengatur sedemikian sempurna.

Tak hanya itu Islam juga memiliki aturan yang jelas terkait pergaulan laki-laki dan perempuan untuk mencegah timbulnya fitnah dan perilaku yang melampaui batas. Sistem sosial Islam akan menjaga pergaulan sesuai dengan tuntunan syara. Dengan aturan ini, hubungan remaja laki-laki dan perempuan diarahkan agar tetap dalam batas yang wajar, mencegah terjadinya hubungan yang merusak moral atau memicu konflik emosional.

Seperti dalam Hadits Rasulullah Saw berikut ini yg artinya :

Janganlah sekali-kali kamu berkhalwat (berduaan) dengan perempuan kecuali disertai mahramnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini jelaslah bahwa Islam melarang perempuan dan laki-laki yang bukan mahram berduaan. Apalagi sampai membunuh, ini sangat diharamkan sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al Furqan ayat 68 Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,” (QS. Al-Furqan: 68)

Tak hanya itu, penerapan syariat Islam dalam berbagai bidang lainnya secara menyeluruh akan tegas dilakukan secara masif sehingga kasus tragis seperti ini dapat dicegah sejak akar permasalahannya. Pelajarpun dapat mengoptimalkan potensinya untuk kebaikan dan amal shalih, sehingga menjadi generasi hebat taat syariat dan paham ilmu adalah diwujudkan dalam segala aspek kehidupannya.

Wallahua’lam Bishowab 

[LM/nr]