Darurat Bencana, akibat Keserakahan Manusia

Bencana

Oleh Annisa Auliya,

Pegiat Pena Banua

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Akhir-akhir ini bencana datang secara bergiliran menimpa setiap wilayah yang ada di Indonesia. Belum pulih duka yang menimpa Aceh dan Sumatera, bencana banjir dan longsor terus berlanjut pada awal tahun 2026 di berbagai daerah. Bukan sekadar bencana biasa, akan tetapi menjadi bencana yang menyisakan trauma bagi warga.

 

Berdasarkan data dari BNPB, selama periode 1-25 Januari sudah ada 128 kejadian banjir dan 15 bencana tanah longsor di Indonesia. Di antaranya yang baru saja terjadi di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur saat banjir bandang melanda wilayah tersebut pada Senin (2/2/2026) malam, akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur kawasan hulu Sungai Badean. Peristiwa tersebut berdampak signifikan pada Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji, dengan kerusakan rumah warga, pengungsian penduduk, hingga menelan satu korban jiwa (ppid.jemberkab.go.id, 04-02-2026).

 

Bencana yang terus berlanjut bukan hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Akan tetapi ada pengaruh dari perbuatan buruk manusia, sebagaimana ayat berikut ini.
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS. Ar Rum ayat 41).

 

Seolah benar adanya, kita mengetahui bagaimana kondisi hari ini, saat manusia banyak melupakan kewajibannya sebagai penjaga bumi ini. Contoh kecilnya tidak peduli dengan lingkungan seperti membuang sampah sembarangan. Ini hanya faktor kecil, sedangkan faktor yang lebih besar datang dari keserakahan para korporasi membabat alam untuk keuntungan mereka.

 

Berdasarkan hasil laporan investigasi yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan, pemerintah mencabut izin 28 perusahaan pelanggar aturan pengelolaan hutan yang berdampak pada kerusakan hutan yang ada di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kerusakan tersebut mengakibatkan banjir dan longsor yang terjadi di Aceh dan Sumatera akhir tahun lalu dengan jumlah korban terdampak serta kerugian yang dialami warga sangat luar biasa.

 

Bencana yang besar menandakan bahwa kerusakannya bukan lagi karena hal kecil tapi juga karena hal besar, di antaranya kerusakan alam yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia yang serakah. Inilah ketika pengelolaan sumber daya alam dikelola secara kapitalis. Pengelolaannya hanya meraih keuntungan semata, tanpa memikirkan keadaan bumi yang semakin tua.

 

Didukung dengan keserakahan manusia yang tidak pernah habisnya, disebabkan paham sekuler hari ini. Paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Paham yang menjadikan manusia meninggalkan agama dalam melakukan perbuatan. Standar mereka hanya pada kepuasan diri sendiri bukan halal dan haram.

 

Berbeda halnya dengan Islam, pengelolaan sumber daya alam yang melimpah ruah harus dikelola oleh negara untuk kemaslahatan warga negaranya. Pengelolaanya juga memperhatikan analisa dari para ahli, agar tidak merusak lingkungan juga merugikan masyarakat sekitar.

Selain itu, asas kehidupannya pun juga berpedoman pada akidah Islam, di mana standar perbuatannya berdasarkan halal dan haram. Sehingga sangat berhati-hati dalam mengelola alam agar tidak jatuh pada kezaliman yang merusak diri sendiri dan juga orang lain.

 

Pengelolaan hutan dan kekayaan sumber daya alam lainnya yang melimpah ruah tidak bisa jika hanya diserahkan ke individu semata atau ke satu kelompok seperti kapitalis hari ini. Namun dalam Islam pengelolaannya harus diserahkan kepada negara dengan tujuan untuk kemaslahatan umat, dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW menjadi petunjuk umat manusia dalam kehidupan ini.

Wallahu’alam bishshawab.