Darurat Pelecehan Seksual, ini Biang keroknya

Oleh Diana Kamila
(Mahasiswi STEI Hamfara)
Lensamedianews.com_ Template stories bertajuk “Indonesia Darurat Predator dan Kejahatan Seksual” yang dipelopori oleh akun resmi Komisi Nasional Perlindungan Anak (@komnastv anak) ramai dibagikan ulang oleh lebih dari 154 ribu akun. Template ini menyoroti kekerasan seksual yang semakin marak di Indonesia. Fenomena ini seperti gunung es, terlihat sedikit, namun banyak kasus yang tidak terlaporkan.
Seperti rentetan kasus pelecehan yang baru-baru ini membuat publik terkejut. Pelecehan yang dilakukan oleh seorang Kapolres Ngada, AKBP Fajar Widyadharma kepada 3 bocah berumur enam, 13 dan 16 tahun. AKBP Fajar dikabarkan ditangkap pada kamis, 20 Februari 2025. (sumber: TribunSumsel.com)
Belum tuntas kasus pelecehan oleh kepolisian, muncul lagi kasus pelecehan yang datang dari akademisi. Kali ini dari seorang guru besar di Fakultas Universitas Gadjah Mada berinisial EM. Profesor ini diduga telah melakukannya sepanjang tahun 2023 dan 2024. Total ada 13 korban dan saksi diperiksa selama proses investigasi. (Sumber: Kompas.com)
Masih banyak lagi kasus pelecehan dari berbagai kalangan. Kini para pelaku tidak hanya dari kalangan penjahat, melainkan justru dari mereka yang menyandang gelar kehormatan : Kapolres, dosen, dokter, polisi, TNI, pendeta, pengasuh pesantren guru, bahkan politisi.
Dan lebih memilukannya lagi, korban terbanyak berasal dari kelompok paling rentan seperti anak-anak dan perempuan. Mereka yang seharusnya dijaga dan dilindungi malah menjadi sasaran hasrat bejat.
Inilah bukti sistem yang membentuk masyarakat hari ini yakni sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, telah gagal menciptakan lingkungan yang aman dan bermoral. Pendidikan agama yang seharusnya membentuk karakter, justru dimarjinalkan.
Fenomena ini memang tidak bisa dilepaskan dari akar masalah. Atmosfer kehidupan yang serba liberal menjadi stimulan seksual. Media sosial menyuguhkan konten vulgar hampir tanpa batas. Aplikasi game dan hiburan yang ditujukan untuk anak-anak banyak yang mengandung unsur sensual. Pornografi dan pornoaksi semakin merajalela. Pergaulan bebas dianggap biasa, bahkan dibanggakan atas dasar kebebasan berekspresi.
Rusaknya sistem sekuler-liberal ini merata di seluruh dunia. Bisa dikatakan tidak ada ruang yang aman bagi perempuan dan anak-anak. Lalu apakah sistem ini masih bisa diperbaiki? Jawabnya, tidak. Mau diperbaiki sebaik apapun tetap jika akar masalahnya adalah keberadaan sistem ini maka apapun yang lahir darinya akan rusak. Maka solusi satu-satunya tidak lain adalah mengembalikan kehidupan Islam dengan mempraktikkan sistem pergaulan Islam, sistem ekonomi dan penataan media dari Islam.
Mengapa harus Islam? Sebab Islam bukan sekadar agama ritual. Melainkan sebuah ideologi yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Islam tidak hanya menawarkan solusi kuratif tapi juga preventif. Islam menempatkan kehormatan wanita dan anak-anak dalam posisi yang sangat tinggi. Islam mengatur pergaulan antar laki-laki dan perempuan secara ketat, memerintahkan penutupan aurat, melarang khalwat (berdua-duan tanpa mahram), dan mendorong masyarakat untuk menundukkan pandangan. Islam juga tegas memberikan sanksi bagi pelaku pelecehan dan zina.
Demikianlah sistem Islam dalam menjaga perempuan dan anak-anak. Jadi, masih mau diatur dengan sistem sekuler?
