Gaza Butuh Persatuan Islam Bukan Board of Peace

Persatuan umat

Oleh Risa Aryana

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Umat Islam kembali dibuat meradang setelah Donald Trump membentuk sebuah dewan yang diberi nama Board of Peace (BoP). Dewan perdamaian ini diklaim oleh Presiden Amerika Serikat (AS) sebagai “jalan damai” konflik di Gaza. Padahal sejatinya kata perdamaian tersebut hanyalah sebuah bungkus yang menutupi tujuan busuk Amerika Serikat untuk mengambil alih wilayah Gaza oleh penjajah. Selain itu, fakta yang lebih mencengangkan adalah dalam organisasi BoP ini pihak Palestina tidak ikut serta di dalamnya. Hal ini makin menguatkan maksud terselubung BoP justru tidak akan mendamaikan konflik Gaza. Setiap gebrakan untuk menyudahi persoalan pelik Gaza yang datang pihak penjajah seperti AS dan Israel mustahil bakal mendamaikan.

 

Tak berhenti sampai di situ. Sebanyak 40-50 tokoh dari berbagai ormas Islam dan pondok pesantren di Indonesia yang telah ditemui oleh Presiden Prabowo (cnnindonesia.com, 03/02/2026) nampaknya turut menyetujui keikutsertaan Indonesia dalam BoP. Padahal beberapa ormas Islam semula memiliki pandangan bahwa BoP adalah jalan buntu untuk Gaza. Namun setelah Presiden Prabowo menyatakan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam dewan ini adalah langkah strategis bersyarat, artinya jika BoP gagal memperjuangkan kemerdekaan Palestina maka Indonesia siap keluar dari keanggotaan BoP, alhasil banyak ormas yang berubah haluan dan mendukung langkah Presiden Prabowo tersebut.

 

Kini yang tersisa adalah kekecewaan umat terutama muslim di Gaza atas lembaga bentukan AS ini. genosida di Gaza sejak Oktober 2023 telah menghilangkan 72.027 nyawa (tempo.co, 08/02/2026). Bahkan setelah BoP ditandatangani Israel kembali melancarkan serangannya ke wilayah Gaza (nasional.kompas.com, 02/02/2026). Inilah realitas bahwa Gaza tidak akan pernah damai hanya di atas meja perundingan. Semakin banyak langkah diplomasi yang diambil, maka semakin lama penduduk Gaza merasakan kekejian Israel. Umat muslim harus menyadari bahwa menyerahkan penyelesaian konflik Gaza kepada Israel dan AS sebagai kroninya adalah sebuah bunuh diri politik sebab yang diinginkan mereka adalah mengambil alih wilayah Palestina.

 

Umat Islam di seluruh dunia wajib menyadari bahwa konflik Gaza adalah sebuah kejahatan perang yang nyata, Israel dengan tentara dan senjatanya menghabisi rakyat Palestina tanpa ampun. Heroisme global pun tak terbendung untuk mengakhiri genosida di Gaza, tetapi hal itu belum cukup mengkerdilkan ambisi Zionis untuk merebut tanah Palestina. Maka dari itu, umat Islam wajib pula menyadari bahwa untuk menyelesaikan tuntas persoalan ini adalah dengan mengerahkan persatuan kekuatan militer milik kaum muslim dan mengarahkan moncong senjatanya kepada Israel. Begitulah semestinya agar kekuatan melawan kebiadaban Zionis menjadi apple to apple, dan musuh-musuh Islam akan gentar menghadapinya.

 

Kekuatan militer Islam tersebut hanya akan terwujud manakala dipimpin oleh sebuah institusi Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang Amirul Mukminin. Dialah yang akan berjuang mempertahankan tanah Palestina milik kaum muslimin dan menjaganya dari penjajah. Dengan demikian, dakwah untuk mengembalikan persatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah adalah sebuah langkah strategis dalam mengakhiri genosida di Gaza dan memberi pukulan mematikan bagi penjajah yang selama ini melakukan kezhaliman terhadap umat muslim di Gaza. Wallahua’lam bishshawab.