Hari Tahanan Palestina, Potret Buram Umat Islam

HariTahanan-LenSaMediaNews

Oleh : Ika Nur Wahyuni

 

LenSaMediaNews.com–Tanggal 17 April diperingati sebagai hari Tahanan Palestina. Ini bukan sekedar perayaan tahunan biasa, akan tetapi momen ini menjadi pengingat keras atas kenyataan pahit yang harus dialami rakyat Palestina. Yang menjadi pertanyaan adalah di mana posisi umat Islam saat ini?

 

Ketika rakyat Palestina harus melalui penderitaan selama puluhan tahun sendirian di bawah agresi Israel dan sekutunya. Di mana Israel dengan kezalimannya melakukan berbagai macam penyiksaan, penyerangan brutal, dan penangkapan membabi buta terhadap warga Palestina.

 

Kondisi penjara pun sangat tidak manusiawi bahkan disebut sebagai kamp penyiksaan. Para tahanan mengalami kelaparan kronis, ditambah minimnya akses medis sehingga menyebabkan sebagian besar tahanan menderita penyakit serius, seperti nyeri dada, kaki bengkak, tulang rusuk patah, hingga menyebabkan kecacatan permanen.

 

Beberapa laporan menyebutkan adanya puluhan tahanan yang meninggal dunia dalam dua setengah tahun terakhir akibat penyiksaan ini. Hingga April 2026, 9.446 warga Palestina ditahan Israel, yang 4.691 di antaranya berstatus penahanan administrasi tanpa dakwaan atau peradilan. Kondisi kritis ini diperparah dengan disetujuinya undang-undang hukuman mati oleh Parlemen Israel pada 31 Maret lalu. Tentu saja hal ini memicu kecaman internasional karena dianggap melanggar HAM dan konvensi Jenewa (Spirit of Aqsa, 3-4-2026).

 

Meskipun mendapat kecaman dari berbagai negara, Israel tak bergeming. Negara Zionis ini tetap melanjutkan penjajahan dan kekejamannya karena didukung penuh oleh Amerika sebagai sekutunya. Sistem hukum internasional pun dibuat mandul, lembaga dunia sekelas PBB hanyalah instrumen semu yang tidak mampu dan tidak mau melindungi umat Islam yang terjajah. HAM yang dijunjung tinggi dan dielu-elukan pun memiliki standar ganda bila korbannya dari kalangan umat Islam.

 

Seluruh kondisi yang dihadapi Palestina hingga hari ini bukanlah sekedar pelanggaran HAM, melainkan diamnya negeri-negeri muslim dan ketiadaan perlindungan yang selama ini menaungi umat Islam yaitu Daulah Khilafah.

 

Untuk itu perlu dibangun kesadaran ideologis di tengah-tengah umat Islam bahwa persoalan Palestina adalah persoalan kaum muslimin bukan lagi sekedar isu kemanusiaan apalagi nasionalisme. Sehingga terbangunlah kepedulian yang dilandasi akidah bukan sekedar empati sesaat.

 

Diplomasi dan menyerahkan solusi Palestina pada lembaga dunia seperti PBB dan BOP apalagi berdiam diri tidak akan mampu menyelesaikan persoalan disana. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Palestina adalah dengan menindak tegas Israel dan sekutu jahatnya.

 

Dan ini hanya dapat terwujud di bawah satu kepemimpinan yang akan melindungi seluruh umat muslim di dunia yakni menegakkan kembali Daulah Khilafah. Nantinya Khalifah akan memobilisasi tentara dan senjata dari negeri-negeri kaum muslim untuk menghukum dan menghancurkan Israel dan negara mana pun yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap kaum muslimin khususnya Palestina.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. Bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dan lainnya).

 

Jelaslah, dari potongan hadis di atas bahwa fungsi pemimpin dalam Islam adalah sebagai pelindung rakyat, penjaga keamanan, dan kehormatan mereka, baik ancaman dari luar maupun dalam. Konsep Islam ini menekankan bahwa Khalifah wajib menerapkan syariat, menjaga keadilan, dan menjadi benteng pertahanan umat. Wallahu’alam. [LM/ry].