Penahanan Aktivis Global Sumud Flotilla, Biadabnya Israel

Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.com–Laporan penculikan paksa dirilis Penyelenggara Global Sumud Flotilla. Sekitar 430 aktivis, jurnalis, dan relawan kemanusiaan dari 50 kapal di perairan internasional saat menuju Jalur Gaza, diculik paksa oleh militer Israel.
Pihak penyelenggara telah mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia berat selama penahanan tersebut. Terjadi sedikitnya 15 kasus serangan seksual, termasuk perkosaan, penggunaan peluru karet jarak dekat, dan penganiayaan, mengakibatkan patah tulang serta gegar otak.
Adanya perlakuan tidak manusiawi, seperti pelepasan paksa pakaian untuk digeledah, penahanan di sel yang sangat padat, penolakan akses medis, dan perlakuan merendahkan martabat terekam dalam video. Hal ini telah memicu kecaman diplomatik global.
Kelompok hak asasi yang berbasis di Israel dan mewakili para tahanan, mengatakan terjadi “cedera parah yang meluas”, dan tiga orang dilarikan ke rumah sakit. Pengacara mereka yang berbicara dengan ratusan aktivis di Pelabuhan Ashdod mengatakan, bahwa para tahanan mengeluhkan kekerasan ekstrem oleh otoritas Israel.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengecam perlakuan tidak manusiawi yang merendahkan warga sipil dalam misi kemanusiaan selama masa penahanan. Sugiono mengatakan, bahwa pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional tidak dapat ditoleransi (bbc.com, 23-05-2026).
Tindakan penahanan ratusan aktivis Global Sumud Flotilla (GSF), termasuk 9 WNI yang diculik paksa dari perairan internasional, merupakan perpanjangan kebijakan otoritas Israel tentang hukuman kolektif dan kelaparan terhadap warga Palestina di Gaza. Otoritas Israel menganggap bahwa operasi GSF merupakan aksi untuk “melayani gerakan Palestina Hamas”.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam armada GSF, sebagai “skema jahat” untuk mematahkan blokade Israel terhadap teroris Hamas di Gaza (cnnindonesia.com, 20-05-2026)
Misi kemanusiaan GSF ini menjadi simbol perlawanan sipil global terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza. Sekaligus merupakan seruan moral kepada dunia internasional untuk bertindak lebih tegas. Rangkaian misi ini bergerak dari Barcelona, Spanyol, menuju Italia dan Yunani, sebelum sampai di Turki yang menjadi titik konsolidasi (kompas.id, 05-05-2026).
Tindakan brutal dan biadab oleh otoritas Israel terhadap aktivis dan relawan kemanusiaan GSF, penjajahan, serta genosida terhadap warga Gaza, telah menunjukkan adanya arogansi dari dominasi kolonialisasi Israel dengan dukungan penuh dari barat.
Imunitas Israel telah memicu tindakan represif dan arogan. Bahkan hukum internasional tumpul pada Israel, karena ada sejumlah kepentingan dari negara besar, pendukung agresi Israel terhadap Gaza. Sehingga melahirkan ketimpangan kekuatan, lemahnya akuntabilitas internasional dan perlindungan politik global.
Selama adanya perlindungan geopolitik terhadap Israel, maka pelanggaran perang akan terus terjadi berulang. Israel memberikan pesan bahwa Palestina tidak boleh dibela. Sehingga Israel dan sekutunya bisa menguasai Palestina. Genosida, blokade, dan kelaparan di Palestina yang terjadi hingga kini, karena sikap diam dan khianat para penguasa muslim dunia terhadap penderitaan saudara-saudara muslim mereka di Palestina.
Tindakan biadab Israel terhadap aktivis kemanusiaan, seharusnya menjadi tamparan keras bagi para penguasa muslim dunia, terutama yang berada di wilayah sekitar Palestina.
Akar permasalahan di Palestina adalah penjajahan dan genosida. Para penguasa muslim dunia semestinya menyadari, bahwa solusi hakiki untuk membebaskan Palestina, bukanlah jalur diplomasi, sebatas kecaman, ataupun berupa bantuan kemanusiaan saja. Akan tetapi solusi hakiki adalah persatuan negeri-negeri kaum muslim dibawah satu komando jihad seorang Khalifah.
Dalam satu komando seorang Khalifah, dan penerapan sistem Islam secara kafah, mampu menegakkan hukum-hukum perang, mampu menjaga dan melindungi warga sipil, serta para aktivis kemanusiaan. Memerangi Zionis Israel untuk mengakhiri kejahatannya yang sudah melampaui batas, sekaligus memutus hubungan Israel dengan sekutunya, dan sistem internasional yang melindunginya.
Mendesaknya keberadaan sebuah institusi dunia yang mampu mempersatukan negara-negara muslim, untuk menghentikan penjajahan dan genosida di Palestina. Membebaskan Palestina dari cengkraman zionis Israel dan sekutunya, serta menghentikan penderitaan kaum muslim di berbagai wilayah di dunia ini. Penegakan sistem Islam menggantikan Sistem Kapitalisme, akan mampu menghentikan dan mengakhiri berbagai kerusakan dalam peradaban dunia ini. Wallahu a’lam bishshowab. [LM/ry].
