Ibu, Gen Z, dan Tantangan Era Digital

Ibu, Gen Z, dan Tantangan Era Digital
Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Majelis Taklim Komunitas Muslimah menghadiri pengajian bertema Ibu, Gen Z, dan Tantangan Era Digital. Sebagai pematerinya adalah Ustazah Ameera pada tanggal, 22 November 2025.
Dalam Kajian disampaikan tentang Gen Z sebagai Gen Strawberry. Gen Z yang terlahir pada Tahun 1997 – 2012, digambarkan sebagaimana buah Strawberry. Terlihat cantik eksotis, tetapi sangat rapuh, berada di tengah arus digital yang semakin berkembang. Mereka cenderung introvert, egois, arogan, dan tidak tahan tekanan sosial. Di Barat, disebut snowflake generation atau generasi serpihan salju.
Menurut Professor Reynald Kasali, bahwa Gen Strawberry ini adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Generasi yang menginginkan perubahan besar dengan cara instan, melalui jalan pintas dan berbagai kemudahan. Mereka mempunya mimpi besar, tetapi jika tidak tercapai mudah putus asa dan ekspresif. Jika menghadapi masalah, lebih mencari kesenangan dengan dalih healing, daripada mencari solusi untuk menyelesaikannya.
Karakter Gen Z, dikategorikan sebagai berikut:
1. Generasi Tidak Mandiri: akibat dari orang tua gaptek dan protektif.
2. Generasi Rusak: ketergantungan gadget, dan terjadi pembiaran tanpa penjagaan orang tua, menjadikan kecanduan gadget, game online, dan paparan konten negatif.
3. Generasi Individualis: akibat penggunaan gadget yang tak terkontrol, mudah cemas, emosi labil, dan sulit beradaptasi.
4. Generasi Jompo: generasi mager, rebahan, sedentary lifestyle (lemah fisik).
5. Generasi Tech Savvy (mahir teknologi): terlalu bergantung pada teknologi, mengakibatkan banyak life skill yang terpangkas.
6. Generasi Mental Instan: kurang berjuang, karena terbiasa mengandalkan gadget.
7. Generasi Digital Native: ketergantungan pada validasi sosial media, narsis, umbar privacy, dan aktif di akun media sosial.
8. Gen Z yang Mengalami Global Connection: arus informasi minim batasan (boundary -less generation), mengakibatkan kesulitan mendefinisikan dirinya, global mindset, dan merasa paling toleran.
9. Generasi FOMO (Fear Of Missing Out) atau ketakutan akan ketinggalan zaman: akibat menerima terpaan arus informasi tak terbatas, cepat berubah, dan serba acak, memunculkan rasa khawatir jika tidak update.
Peran ibu dalam menggali potensi Gen Z, menuju Generasi Tangguh adalah melalui pemahaman Islam. Islam mengajak generasi untuk berpikir cerdas, cemerlang tentang sumber dari segala kekuatan di dunia, yaitu Allah SWT. Pentingnya keimanan, sebagaimana akar pohon yang kuat. Allah memberi perumpamaan agar manusia selalu ingat (QS. Ibrahim: 24-25). Pemahaman akidah yang kuat dengan jalan keimanan yang salih, bukan dogma. Melibatkan naluri beragama, menggunakan akal, memahami bukti atau petunjuk.
Mereka memahamkan konsekuensi keimanannya, dengan menjadikan syari’ah sebagai jalan hidupnya. Meyakini Allah SWT sebagai Al Kholiq dan Al Mudabbir (QS. Al Ma’idah : 49), serta masuk Islam secara Kaaffah (QS. Al Baqoroh: 208). Juga menjadikan risalah Rasulullãh Saw. sebagai hakim, dan menerima segala keputusannya dengan sepenuh hati (QS. An Nisa: 65).
Dibutuhkan juga pemahaman tsaqofah Islam dengan dalil-dalil yang sahih (taqorrub ilallah), yaitu melalui:
– Pendekatan i’tiqody (keimanan), bahwa Allah SWT. adalah sumber dari segala sesuatunya, Maha Benar dan Maha Mengetahui.
– Pendekatan normative, bahwa syari’at Islam adalah pedoman hidup mencakup segala aspek kehidupan, sebagai solusi dari segala problematika kehidupan.
– Pendekatan historis (sejarah), bahwa sistem Islam pernah diterapkan dan berjaya melalui pengenalan sejarah Islam dan juga siroh nabawiyah.
– Pendekatan secara empiris, contoh kejadian nyata ketika sistem Islam ditinggalkan, terjadinya peradaban yang rusak.
Proses pengasuhan dan pendidikan, disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang anak. Kemudian tantangan yang dihadapi, bisa melalui pendekatan kasih sayang, memberikan maklumat yang sahih (Islam), membatasi penggunaan gadget, memfilter ruang digital, dan melatih fisik. Dengan begitu, akan mampu me-manage tantangan yang dihadapi.
Kondisi masyarakat, diupayakan ada yang peduli dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Adanya upaya meluruskan pemahaman sesat mengenai sekularisme, pluralisme, sinkritisme, liberalisme, intoleran, radikal, terorisme, moderasi beragama, dan fiqih alternatif.
Terakhir, dibutuhkan peran negara yang dapat menciptakan lingkungan kondusif berbasis akidah dan ketaatan kepada syari’ah. Negara sebagai ro’in dan junnah, dengan menegakkan dan menerapkan aturan yang sahih (Islam).
Wallahu’alam bishshowab. [Az]
