Inses Menyeruak Akibat Penerapan Sistem Rusak (bagian 2)

Oleh Sri Ratna Puri
(Pegiat Opini Islam)
Lensamedianews.com_
Konsep Keluarga
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keluarga adalah orang-orang yang memiliki hubungan darah, hubungan kekerabatan yang mendasar dalam masyarakat. Keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, tetapi juga bisa mencakup anggota keluarga yang lebih luas seperti kakek, nenek, sepupu, dan lain-lain.
Hubungan ini yang menjadikan keluarga menjadi saling menjaga, saling mengasihi, saling melindungi. Dan keluarga, merupakan bagian dari bangunan penting pada sebuah bangsa. Bila bangunan keluarga rusak, maka bangsa pun akan rusak.
Bayangkan, andai keluarga dibiarkan terus berjalan dalam kerusakan, pasti akan menuju pada kemusnahan. Dan pada negara kapitalis sekuleris, solusinya hanya bersifat pragmatis. Dengan memblokir situs, bila ada aduan masyarakat. Menangkap pelaku, dengan berat hukuman yang tidak menjerakan. Terlebih, kalau ada uang.
Konsep Islam tentang Keluarga
Islam sebagai agama yang sempurna, mengurusi manusia dan alam semesta. Termasuk keluarga. Banyak ayat-ayat yang menyoroti keluarga, seperti dalam QS At-Tahrim ayat 6, di mana Allah Swt. memerintahkan seorang bapak untuk melindungi anak dan istri serta keluarganya dari neraka. Perintah untuk menutup aurat dalam QS An-Nur 31, dan QS Al-Ahzab ayat 59. Perintah untuk menjaga pandangan, QS An-Nur 30, dan perintah untuk menjauhi zina pada QS Al-Isra ayat 32, dll.
Bila terjadi pelanggaran, maka termasuk pada kemaksiatan yang bisa dikategorikan berat, sedang atau ringan yang patut mendapatkan hukuman. Hukuman ini, akan dijatuhkan dan dilaksanakan oleh institusi resmi, yakni negara Khilafah Islam.
Mendudukan Masalah Inses dan Solusi Islam Kafah
Selain amoral, inses jelas perbuatan diharamkan. Bahkan dalam agama, kategori pelanggarannya tak hanya soal zina. Melainkan, masalah nasab, kehormatan, dan perenggutan hak hidup manusia. Status pelanggarannya kompleks. Hukumannya pun sangat berat.
Anak seharusnya dijaga, diayomi, dan dididik dengan benar. Bukan jadi korban pelampiasan nafsu setan. Kalaupun dikatakan inses dilakukan atas dasar suka sama suka (terlebih kalau dipaksa), tetap salah, dan ada ganjarannya.
Secara pribadi, ketakwaan individu sebagai benteng terdepan dalam menjalani kehidupan. Ketika Allah Swt, memerintahkan untuk orang tua untuk memisahkan tempat tidur anak-anaknya saat usia 10 tahun, tidak tidur dalam satu selimut, satu bantal, itu dijalankan.
Seorang ayah atau saudara laki-laki, tidak memperlakukan anak, saudara perempuannya ketika beranjak remaja, sama dengan ketika masih balita. Tidak boleh bersentuhan dan memandang secara berlebihan, yang bisa menimbulkan syahwat, dll. Begitupun sebaliknya, seorang ibu pada anak-anak lelakinya, Islam memerintahkan hal yang sama.
Dalam lingkungan sosial, Islam mewajibkan kepedulian antara sesama muslim dan manusia yang lain. Sehatnya lingkungan sosial, ditandai dengan adanya komunikasi, saling menasihati dalam kebaikan dan tak segan menegur bila ada kemungkaran.
Dan sebagai kunci utama, peran negara Islam. Selain memberikan solusi atas pelanggaran, negara akan menjalankan tugasnya untuk melakukan pencegahan dengan mencukupi kebutuhan pokok setiap orang. Mulai dari sandang, papan dan pangan. Menyediakan lapangan pekerjaan, mendistribusikan harta supaya tidak berkumpul pada orang-orang kaya, penjagaan akidah dan menjalankan dakwah. Memblokir semua situs-situs dan segala hal yang mengandung bahaya, dsb.
Ketika terjadi pelanggaran, semisal inses ini. Kemiskinan dan ketidak pahaman, tidak bisa jadi alasan. Sehingga, negara bisa menjatuhkan hukuman yang menjerakan, serta menutup peluang munculnya kemaksiatan. Ini yang diperlukan. Kehadiran sistem hidup nomor tiga, yaitu negara Khilafah Islam, yang menerapkan aturan Islam secara kafah (sempurna).
