Jangan Cinta pada Pandangan Pertama

Oleh Lulu Nugroho
LensaMediaNews.com, Opini_ Pada 1 Januari 2026, seorang muslim pertama akan dilantik menjadi wali kota terpilih Kota New York. Zohran Mamdani laksana bunga di musim semi, kehadirannya di jantung negara adidaya, mewangi, membawa harapan baru bagi umat Islam sedunia. Dalam sekejap wajahnya menghiasi media sosial. Ia digadang-gadang menjadi sosok ideal yang akan menyuarakan perubahan.
Banyak tulisan bertebaran memberi gambaran positif tentang dirinya. Namun benarkah demikian? Kita pernah terpedaya dengan Biden saat mengutip hadits pada kampanye pemilihan presiden 2020. Begitu pula Obama, yang selama masa kampanyenya, beredar isu bahwa ia adalah seorang muslim. Sebagian lagi terkecoh karena nama tengahnya “Hussein” dan masa kecilnya yang pernah tinggal di Indonesia. Karenanya masyarakat muslim perlu memiliki kesadaran politik yang benar, agar dapat mengindera setiap kejadian yang berkelindan di sekitar mereka.
Sebab sejatinya para penguasa AS ini tidak mengemban mabda Islam, sehingga tak dapat diharapkan akan membangkitkan umat. Ide Islam yang dibawanya saat kampanye, semata-mata hanya ingin meraih suara masyarakat muslim di negeri Paman Sam, tak lebih dari itu. Bahkan rekam jejak AS telah kita telah saksikan bahwasanya ia berada di balik entitas Zionis, sehingga banyak kebijakan penguasanya yang menguntungkan Zionis, dan merupakan lonceng kematian bagi muslim Gaza.
Hamdani pun kurang lebih sama. Meski ia menyatakan akan mendukung Palestina, namun ia tak memiliki langkah strategis untuk menjalankannya. Isu Palestina yang dibawanya, memang mudah memantik kesadaran, sebab isu ini telah melekat di benak masyarakat dunia.
Dia juga berasal dari partai sosialis demokratis yang mengemban ide bahwa bahwa negara memiliki kendali pada sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, energi dan sebagainya. Tujuannya bukan untuk ria’yah, melainkan memastikan bahwa kebutuhan publik tidak menjadi komoditas yang ditentukan oleh perusahaan.
Maka dipastikan kita tak bisa berharap banyak terhadap sistem ini sebab masih menginduk kepada AS dengan kapitalismenya. Sekalipun di hadapan masyarakat dunia, Trump dan Zohran seolah berseteru, namun di belakang layar (behind the scene) bisa jadi mereka duduk 1 meja dan membuat kesepakatan (deal) politik.
Kita seringkali menyaksikan drama politik yang seperti ini, di negeri sendiri. Penonton dibuat terkesima pada setiap adegan, tetapi di ujung cerita, akan terjadi plot twist penuh kejutan. Rekayasa peristiwa yang telah dibentuk dalam benak masyarakat, pada akhirnya akan berbalik menjadi bumerang. Lagi-lagi penonton tertipu, dengan penampilan good looking, mendadak islami dengan kopiah memasuki masjid dan pesantren dan menebarkan janji-janji manis.
Calon walikota New York ini pun menyatakan bahwa pengalaman masa kecilnya membuatnya iba terhadap kelompok minoritas dan tertindas. Maka wajar jika ia berpihak kepada Palestina. Tetapi ada kelompok minoritas lain yang membuatnya iba, yaitu LGBTQIA+. Zohran akan menjadikan New York sebagai kota yang melindungi LGBTQIA+ dan mengalokasikan jutaan untuk program perumahan, serta perawatan afirmasi gender, sebagai pembelaannya terhadap mereka.
Maka kaum muslim perlu lebih jeli meneliti kapasitas pemimpin umat. Terus amati beberapa waktu ke depan bagaimana setiap pemimpin mengatasi isu-isu krusial di dalam tubuh umat. Apakah ia mampu hadir sebagai pahlawan seperti yang dielu-elukan dunia saat ini? Ataukah ia kembali pada setelan awal seperti para pendahulunya yang menggunakan tampil merakyat saat kampanye, namun saat ditanya tentang kebijakan nyelenehnya, akan mengatakan ‘bukan urusan saya’.
Sosok Zohran meroket dalam sekejap. Kaum muslim termasuk masyarakat dunia, pun seolah menaruh harapan padanya. Hal ini menunjukkan betapa kaum muslim merindukan kepemimpinan Islam yang hakiki. Hingga selalu saja keliru menjatuhkan hatinya.
Sementara kepribadian Islam (syakhsiah islamiyah) tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan hasil tempaan sejak dalam kandungan hingga membentuk aqliyah dan nafsiyah Islam. Maka tak cukup yang pertama, perlu pandangan kedua, ketiga dan seterusnya untuk jatuh cinta, untuk memastikan amanah kepemimpinan mampu diemban oleh seseorang.
Kepemimpinan Islam pasti mampu menghadapi berbagai tantangan zaman, dan menjawabnya dengan solusi Islam, karena ia siap menjalankan syariat. Pemimpin yang masih menggunakan solusi lain di luar Islam, berarti ia belum memiliki kapabilitas yang tepat menjadi pemimpin umat, karena keputusan yang diambilnya tidak bersandar pada nash dan as-sunnah, sehingga akan mengakibatkan kerusakan. Karenanya kepemimpinan yang tegak di atas landasan sekuler kapitalisme, atau hukum buatan manusia, tidak layak berada di depan umat.
Maka kita harus terus melakukan dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam, agar masyarakat memiliki gambaran yang benar tentang kehidupan Islam dan tentang kepemimpinannya. Jika tidak maka akan jatuh berkali-kali ke lubang yang sama, hingga terpaksa rela mempertaruhkan 5 tahun kehidupannya, tunduk pada kepemimpinan kufur.
Sementara Islam memiliki karakteristik kepemimpinan yang mendunia, yang tegak di atas nash. Bukan hanya di skala regional yang terbatas luasnya, tetapi hingga skala global. Pemimpin bentukan syariat, tunduk dan taat kepada Allah Al-Mudabbir. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)
Inilah kepemimpinan terbaik yang pernah ada di muka bumi, menaungi umat selama 13 abad di 2/3 dunia. Saat Islam diterapkan secara kaffah melalui tangan pemimpin-pemimpin andal, kebaikan yang Allah janjikan akan terwujud karenanya. Tsumma takuunu khilaafatan ala minhajin nubuwwah.
