Curah Hujan Rahmat bukan Petaka

Oleh: Sarmiwati, S.Pd
LenSaMediaNews.Com–Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui data korban meninggal bencana di Sumatera. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, tercatat ada 1.053 orang meninggal dunia (cnbcindonesia.com,17-12-2025).
Data korban meninggal menembus angka tertinggi. Korban luka mencapai ribuan,sedangkan yang mengungsi hingga jutaan lebih. Masyarakat bukan hanya kehilangan nyawa dan keluarga. Tetapi harta benda luluh lantak diterjang banjir.
Beberapa pihak termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) berpendapat bahwa cuaca ekstrem, khususnya curah hujan yang sangat tinggi dipicu oleh dinamika atsmosfer seperti siklon tropis senyar. Siklon Tropis Senyar adalah pemicu langsung atau utama terjadi banjir di Sumatra.
Pernyataan beberapa pihak ini menimbulkan pro dan kontra ditengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, banjir yang dasyat lalu dengan air keruh yang mengalir dasyat mengeluarkan begitu banyak gelondongan kayu seolah-olah alam ingin menampakkan protesnya. Bahwa hujan tidak mungkin bisa memotong kayu dengan potongan serapi itu.
Dan di era teknologi yang semakin canggih ini, masyarakat dengan jelas bisa melihat bukti bagaimana gundulnya hutan, dalamnya galian tambang, semakin hari semakin memprihatinkan. Dan itu sekali lagi bukan hujan pelaku utamanya. Karena tentu izin menebang hutan dan menggali tambang yang menghasilkan kawah-kawah besar itu bukan dari alam melainkan dari ulah manusia.
Kejahatan lingkungan yang telah berlangsung lama dan dilegitimasi kebijakan penguasa seperti pemberian hak konsesi lahan, izin Perusahaan sawit secara besar-besaran, izin tambang baik perusahaan swasta atau asing secara terbuka menjadi faktor yang tidak bisa kita pungkiri.
Penguasa apakah tidak memahami kosekuensi atau dampak dari kerusakan hutan yang terus dikelola oleh keserakahan manusia? Tentu saja paham bukan? Karena sejak sekolah dasar kita telah diajari untuk menjaga alam. Tapi tentu dalam Sistem Kapitalisme kelestarian alam, hati nurani tentu bukan poin yang utama.
Karena dalam sistem kapitalis orang-orang hanya diajari bagaimana meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Alam akan baik-baik saja jika dikembalikan sesuai sunatullah. Tetapi dalam Sistem Kapitalisme dengan akidah sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sebuah kemustahilan melahirkan orang-orang yang tunduk pada syariat allah.
Allah telah mengingatkan melalui Al-Quran surat Ar-Rum Ayat 41 yang artinya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dan kini telah terbukti kerusakan yang diciptakan oleh tangan manusia yang tidak tunduk pada syariat Allah terpampang jelas di depan mata. Seolah-olah alam sedang mempertanyakan keimanan kita kepada Allah sang pengatur alam semesta.
Negara dalam Sistem Islam harus menggunakan hukum Allah dalam mengurusi semua urusannya, termasuk tanggung jawab menjaga kelestarian alam dangan menata hutan dalam pengelolaan yang benar sesuai hukum syariat.
Bukan tidak boleh secara total mengambil sumberdaya alam untuk kesejahteraan masyarakat, namun Islam mengatur dengan kompleks dan teliti pengelolaannya. Tidak boleh ada yang terzalimi baik dari alam maupun manusia secara keseluruhan. karena Sistem Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Jadi hanya dengan hukum Allah, negara dapat meminimalisir terjadinya banjir dan longsor yang menyengsarakan rakyat. Bukan menyalahkan hujan yang turun sebagai rahmat untuk pohon dan tumbuh-tumbuhan di bumi, tapi manusialah dengan keangkuhannya mencampakkan hukum Allah dalam kehidupan sehingga mendatangkan murka Allah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
