Kebiadaban Israel, Tertutupnya Mata Hati Para Penguasa

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.com–Parlemen Israel (Knesset) pada hari Senin (30/3/2026) mengesahkan undang-undang kontroversial yang mengizinkan hukuman mati bagi tahanan Palestina. RUU tersebut disetujui dalam pembacaan kedua dan ketiga dengan 62 suara mendukung, 48 menentang, dan satu abstain (Sindonews.com, 31-3-2026).
Sementara itu, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Rashida Tlaib mengecam RUU Israel yang akan mewajibkan hukuman mati bagi tahanan Palestina dan menyebutnya sebagai “langkah selanjutnya dalam genosida terhadap warga Palestina” dan tindakan apartheid (eksekusi massal dengan cara digantung). Padahal sebelumnya warga Palestina sudah secara sistematis disiksa di penjara-penjara Israel.
Sebegitu keji dan zalimnya Israel, namun Menteri Luar Negeri Indonesia, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI hanya mengecam keras pengesahan undang-undang tersebut, di dalam pernyataan mereka pun menyebutkan praktik-praktik Israel semakin diskriminatif dan semakin memperkuat sistem apartheid dan wacana penolakan yang menyangkal hak-hak yang tidak dapat dicabut dan keberadaan rakyat Palestina di Wilayah Palestina yang Diduduki (Occupied Palestinian Territory/OPT).
Sebatas Mengecam Buat Apa?
Apa yang bisa disimpulkan dari pengesahan UU tersebut ? Pertama, menandai eskalasi signifikan dalam sistem pemidanaan Zionis, kedua menunjukkan kegagalan Zionis dalam mengintimidasi para penduduk Palestina agar menghentikan perlawanan mereka. Dan meski sudah jelas ada pelanggaran undang-undang Internasional atas apa yang dilakukan Israel yang membuktikan level kelaliman dan kejemawaan telah mencukupi, tak ada satu pun pemimpin muslim yang lebih dari mengecam atau diam. Mata hati mereka tertutup oleh “rasa aman” yang telah diberikan oleh pemimpin agung mereka, para pemimpin kafir.
Tapi untuk apa? Kekejaman Israel yang didukung Amerika tak jua berhenti, bukankah langkah diam bisa diartikan sebagai pengkhiatan pula? Apalagi ini menyangkut nasib saudara seakidah yang jika Rasul mengibaratkan sebagai satu tubuh.
Dahulu Islam Berjaya, Mengapa Tidak Muhasabah?
Meski Kafir Barat berusaha menutupi fakta agung kejayaan Islam ,namun seiring waktu bukti demi bukti membuka mata generasi bahwa kaum muslim tak pernah lepas dari pimpinan yang mengurusi mereka. Banyak tokoh besar dan ulama yang bekerja sama dengan penguasa demi kemaslahatan rakyat. Tak heran jika peradaban yang dibangun tak bisa disamai dengan peradaban sesudahnya.
Melihat dari fakta sejarah, umat Islam dunia, terutama para penguasa dan tokohnya tidak pantas berdiam diri atau merasa cukup dengan hanya menyampaikan kecaman. Mereka harus berada di garda terdepan dan berani melakukan langkah-langkah politik untuk membungkam kebiadaban zionis di bawah dukungan Amerika.
Berharap pada organisasi global PBB malah bak menepuk angin, meskipun di dalamnya ada Dewan Keamanan yang beranggotakan negara-negara superpower termasuk Amerika. Resolusi PBB untuk mengatur dunia atas kehendaknya juga samasekali tak berarti di hadapan Israel apalagi Amerika.
Umat Islam juga harus memahami bahwa banyak fakta menunjukkan berharap kepada kepemimpinan yang tak berdiri tegak atas dasar Islam sangatlah membahayakan dunia akhirat. Sebab fakta benar dan salah didasarkan pada pendapat manusia, bukan firman Allah swt.
Padahal jelas Allah memerintahkan kita taat kepada pemimpin atau Ulil Amri minkum, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (TQS An-Nisa-59).
Sudah saatnya menggagas perubahan mendasar melalui dakwah Islam politik ideologis sesuai thariqah dakwah Rasul. Secara singkat kaum muslim harus memperjuangkan pemimpin dengan katagori “ Ulil Amri” yaitu pemimpin yang taat kepada Rasul dan puncaknya pada Allah SWT. Berapa banyak lagi korban nyawa saudara kita di Palestina dan berbagai wilayah lain di dunia? Wallahualam bissawab. [LM/ry].
