Kebijakan Populis, Bukan Solusi Problem Pendidikan

20250513_073745

Oleh: Misalina

 

LenSaMediaNews.Com, Opini–Dalam peringatan hardiknas, presiden Prabowo Subianto meluncurkan berbagai program untuk perbaikan pendidikan di negeri ini. Di antaranya, meliputi pembangunan atau renovasi sekolah serta pemberian bantuan kepada guru.

 

Ketika Presiden Prabowo memberikan kata sambutan di SD Negeri Cimahpar 5, Bogor, Jawa Barat, terlihat bahwa sekolah tersebut masih mengalami keterbatasan fasilitas bangunan. Padahal, sekolah tersebut mendapatkan alokasi anggaran yang disebut tidak sedikit (tirto.id, 02-05-2025).

 

Ditambah gaji guru yang minim, sehingga mendapatkan bantuan dana transfer langsung atau cash transfer dari pusat. Bahkan, program tersebut telah diluncurkan pada saat peringatan hardiknas di SD Negeri Cimahpar 5, Bogor, Jawa Barat (Kompas.com, 04-05-2025).

 

Hal ini memperlihatkan, bahwa sistem pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pemberian bantuan bagi sekolah dan guru memperlihatkan masih buruknya kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

 

Hal ini membuktikan banyak sekolah dengan kondisi fisik yang memprihatinkan. Seperti banyaknya sekolah yang mengalami kerusakan, minimnya fasilitas pendukung pendidikan seperti perpustakan, tidak adanya ruang laboratorium, ruang komputer, akses internet, dan musala. Tidak hanya itu, gaji guru sungguh memprihatinkan bahkan lebih besar gaji UMR. Guru yang honorer terpaksa mencari kerja tambahan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan keluarganya.

 

Akibat Dari Sistem Kapitalisme

 

Akar masalah buruknya sistem pendidikan saat ini disebabkan karena sistem Kapitalisme. Tidak heran, bila banyak sekolah yang fasilitasnya tidak memadai dan gaji guru yang memprihatinkan. Sebab, peran negara sangat minim hanya sebagai fasilitator saja.

 

Dalam sistem Kapitalisme, pendidikan hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi yang dapat diperdagangkan untuk meraih keuntungan. Kebijakan pemerintah yang ada tidak didesain untuk menyelesaikan akar masalah di negara ini, hanya bersifat tambal sulam. Bahkan kebijakan yang dilakukan hanya pencitraan untuk mendapatkan dukungan atau kepercayaan dari masyarakat.

 

Sehingga masalah tidak terselesaikan sampai ke akarnya. Selain itu, dalam sistem Kapitalisme, pengelolaan anggaran pendidikan kerap menimbulkan masalah. Sehingga, untuk memenuhi anggaran rela berhutang demi anggaran pembangunan. Masih tetap percaya dengan sistem Kapitalisme?

 

Sistem Kapitalisme sudah gagal untuk memberikan pendidikan yang layak dan menyelesaikan masalah. Sejatinya kebijakan yang dilakukan hanya tambal sulam. Oleh sebab itu, kita butuh solusi komprehensif untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu sistem Islam.

 

Islam Solusinya

 

Islam mampu memberikan sistem pendidikan yang berkualitas, sebagaimana telah terbukti dari lahirnya para ilmuwan besar dalam sejarah peradaban Islam. Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara.

 

Oleh karena itu, Islam mewajibkan negara untuk bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyediakan pendidikan yang gratis dan berkualitas, serta memastikan pemerataan akses pendidikan bagi seluruh warganya.

 

Negara juga diwajibkan untuk menjamin akses pendidikan bagi seluruh warga, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada lagi hambatan seperti keterbatasan ekonomi, minimnya fasilitas, jauhnya jarak, maupun kendala lainnya. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, negara dapat menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas.

 

Kemudian, mampu memberikan penghargaan yang besar kepada guru atau pendidik dengan memberi upah atau gaji yang besar nominalnya. karena negara memiliki sumber anggaran yang banyak untuk memenuhi tanpa harus berhutang. Wallahu’alam. [LM/ry].