Keseimbangan Alam Dilalaikan, Banjir Bandang Jadi Langganan

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.Com–Longsor dan banjir bandang yang terjadi di Bali pada 10 September 2025 lalu telah melumpuhkan wilayah tersebut. Terdapat 6 kabupaten/kota yang terdampak dengan jumlah korban meninggal mencapai 18 jiwa (kompas.com, 13-9-2025). Sementara ratusan penduduk lainnya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Buruknya Penjagaan Lingkungan
Banjir dan longsor yang terjadi disebabkan karena faktor manusia yang merusak alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bali memaparkan penyebab banjir besar di Bali karena tingginya intensitas hujan, kondisi hidrologis, topografi perbukitan yang memperlambat aliran air.
Anomali cuaca pun disebutkan sebagai salah satu pemicu banjir bandang (mongabay.co.id, 14-9-2025). Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol menyebutkan, banjir yang terjadi dipicu karena tingginya volume sampah yang semakin parah di Bali. Bencana ekologis ini terjadi karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi hotel dan cottage (kumparan.com, 13-9-2025). Dalam 20 tahun belakangan, jumlah akomodasi wisata melonjak drastis menjadi 2 kali lipat.
Banjir yang terjadi tidak bisa lepas dari buruknya tata kelola lahan kian masif. Lahan sawah, subak, dan hutan berubah menjadi bangunan-bangunan tujuan wisatawan seperti hotel, vila dan cottage. Administrasi dan aturan wilayah lokal setempat seperti RT dan RW, sama sekali tidak memiliki kekuatan.
Implementasinya pun lemah. Dilaporkan, begitu banyak bangunan yang dibangun di bantaran sungai. Demi view yang menarik kunjungan wisatawan. Kepentingan kapitalis yang mengutamakan turis menjadi satu hal utama yang menyebabkan bencana terjadi. Investasi diklaim menjadi satu upaya yang mampu mendongkrak ekonomi wilayah setempat. Namun, faktanya yang terjadi jauh dari ekspektasi.
Banjir yang terus berulang mestinya menjadi pelajaran penting bagi negara untuk memaksimalkan upaya pencegahan dan penanganan bencana. Sayangnya, negara ini tidak memposisikan pencegahan bencana sebagai kedaruratan. Program-program lain yang sebenarnya tidak mendesak justru lebih diutamakan, misalnya pembangunan infrastruktur.
Kondisi ini muncul dari penerapan sistem yang gagal menjaga keselamatan manusia, yakni Sistem Kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, kepentingan rakyat seringkali dilalaikan demi keuntungan materi dan dalih investasi. Konsep inilah yang menggeser prioritas negara. Negara menjadi lalai pada penjagaan keselamatan rakyatnya. Wajar bila pelayanan negara terhadap keselamatan warganya begitu lemah.
Selain bencana alam yang murni, banyak musibah juga terjadi akibat pembangunan yang dibiarkan mengikuti logika Kapitalisme. Oligarki diberi kebebasan mengubah lahan resapan menjadi kawasan bisnis, misalnya hutan lindung yang dialihfungsikan untuk perumahan, hotel, kawasan wisata hingga cottage. Pertumbuhan ekonomi kerap dijadikan dalih perusakan dan alih fungsi hutan. Wajar adanya saat bencana terus berulang terjadi tanpa ada solusi pasti.
Sistem Islam Menjaga Lestarinya Alam
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41, yang artinya,“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Setiap bencana yang menimpa manusia tidak lepas dari perbuatannya. Karena itu, negara sebagai penjaga, wajib menjadi wadah kuat yang mampu menetapkan kebijakan yang mendidik sekaligus melindungi kelestarian alam dan keselamatan setiap individu.
Dalam pandangan Islam, negara wajib melindungi rakyat dari bahaya, termasuk bencana. Negara menetapkan strategi dan mekanisme yang tepat dalam pengelolaan kota dan desa, dan senantiasa mengutamakan kemaslahatan rakyat.
Sistem Islam juga mendorong pembangunan berbasis mitigasi, dengan regulasi yang menjaga ekosistem, melarang perusakan lingkungan, dan memetakan potensi bencana sesuai kondisi geografis. Semua itu dilakukan demi keselamatan manusia dan kelestarian alam.
Islam juga melarang segala bentuk privatisasi sumberdaya alam milik umum. Kawasan hutan, sungai dan kawasan resapan tidak bisa semena-mena dijadikan lokasi bisnis dengan alasan apapun. Karena penjagaan hutan yang optimal mampu menjadi resapan air dan kantung-kantung oksigen yang jauh lebih berharga dari sekedar materi dunia.
Dalam paradigma Islam, keseimbangan ekologis menjadi satu hal penting yang diperhatikan. Pembangunan infrastruktur senantiasa disandarkan pada kepentingan umat tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan.
Lestarinya hutan dan lingkungan alam mampu menjaga keselamatan dunia dan individu yang hidup di dalamnya. Sistem Islam-lah satu-satunya harapan. Lingkungan lestari, hidup pun terlindungi. Wallahu a‘lam bisshawwab. [LM/ry].
