Ketika Sumatera Menangis, Kita Diajak Allah untuk Kembali

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Opini_ Sumatera sedang berduka. Di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, air bah menerjang seolah menghapus batas-batas desa, rumah, dan rencana. Ratusan saudara kita meninggal, ratusan lainnya belum ditemukan. Ada isak kehilangan, ada keheningan yang menggetarkan: bumi bersuara, dan suara itu memanggil kita.
Subhaanallaah, siapa yang tidak terguncang melihat ibu kehilangan anaknya, suami yang menggali lumpur mencari istrinya, anak kecil memeluk tubuh ibunya yang tak lagi bergerak. Ini bukan sekadar bencana alam. Peringatan dari Allah, sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang mengajak kita berhenti, menunduk, lalu merenung: “Kemana engkau berjalan selama ini, wahai hamba-Ku?”
Bumi yang Kita Rusak Kini Mengadukan Kita kepada Rabb-nya
Hujan ekstrem dan dua siklon yang tumbuh di Selat Malaka bukanlah tanpa izin Allah. Tetapi mengapa ia berubah menjadi banjir besar? Karena penyangga-penyangga bumi telah hilang. Pohon-pohon yang dulu menjadi peneduh langit dan penahan air, ditebang tanpa malu. Gunung-gunung yang dulu kokoh, dilukai oleh tambang dan perkebunan rakus.
Hutan-hutan itu bukan sekadar batang dan daun. Itu adalah amanah Allah. Dan ketika amanah diabaikan, bumi bergetar memanggil kita agar kembali jujur di hadapan-Nya.
Negeri ini Sesungguhnya Mampu, tetapi Terlalu Lama Memunggungi Allah
Indonesia berada di daerah rawan bencana. Seharusnya negeri ini sudah ahli dalam mitigasi. Namun ketika banjir datang, banyak wilayah dibiarkan terisolir, peringatan dini tidak digubris, negara bingung menentukan status, rakyat mencari keluarga seorang diri sambil menangis.
Sesungguhnya bukan negara tidak mampu, tapi kita sedang mengelola negeri ini dengan aturan yang tidak memuliakan manusia, aturan yang menjadikan keuntungan lebih mulia daripada nyawa. Aturan itu bernama kapitalisme. Dan kapitalisme tidak pernah punya hati.
Musibah: Waktu Paling Lembut Allah Menyentuh Hati Kita
Saat air bah menenggelamkan rumah dan harapan, ayat-ayat Allah seakan turun langsung ke dada kita:
“Tidak menimpa kami sesuatu pun kecuali apa yang Allah tetapkan bagi kami…”
(TQS. at-Taubah: 51)
Dan ketika kita melihat jenazah yang ditemukan, atau warga yang duduk lemas menunggu makanan, Allah ajarkan ayat, yang menjadi fajar penenang hati:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
(Mereka itu) adalah orang-orang yang, jika ditimpa musibah, mengucapkan, “Innâ lilLâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada Dia kami akan kembali).” Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya. Mereka itu pula yang mendapat petunjuk (TQS al-Baqarah [2]: 156-157).
Kalimat itu bukan sekadar doa. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk meletakkan segala gelisah kembali ke pangkuan Allah.
Namun di antara air mata itu, kita pun harus jujur pada diri sendiri:
Musibah seperti ini sering lahir dari tangan manusia sendiri.
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).
Ini bukan untuk menyalahkan korban, tidak. Ini teguran lembut Allah kepada para pengambil kebijakan, kepada kita semua yang diam saat hutan dirampas, kepada bangsa yang terlalu lama membiarkan alam dijual.
Islam Mengajarkan Kita Cara Menjaga Bumi dan Nyawa
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa air, hutan, dan tambang adalah milik rakyat. Bukan boleh dijual kepada korporasi, dijadikan sumber pribadi atau dieksploitasi tanpa batas. Islam mengajarkan: dilarang merusak bumi, membahayakan masyarakat, mengambil manfaat alam untuk kepentingan segelintir orang.
Khilafah yang dulu menjaga setiap jengkal tanah, bahkan takut jika ada seekor unta mati karena kelalaian, kini terasa seperti cahaya yang hilang.
Padahal hanya dengan aturan Allah, bumi akan kembali tenang, hutan kembali lestari, tambang menjadi berkah, rakyat hidup aman. Bukan karena pembangunan besar, tetapi karena takut kepada Allah.
Saatnya Kita Memilih Jalan yang Allah Ridai
Musibah ini menggerakkan hati kita. Mengajak kita kembali ke jalan yang lurus. Mengingatkan bahwa bumi ini bukan milik manusia, tapi milik Allah, dan Dia sedang memperingatkan kita dengan kasih sayang-Nya. Kini kita perlu bertanya, apakah kita akan terus membiarkan kebijakan kapitalistik merusak bumi? Apakah kita akan terus diam saat syariah Allah ditinggalkan? Apakah kita akan menunggu bencana berikutnya untuk tersentak? Atau kita kembali kepada aturan Allah. Kita meminta negeri ini dipimpin dengan takwa. Kita perjuangkan syariah yang menjaga nyawa, alam, dan masa depan.
Karena bumi pun ingin dilindungi oleh aturan-Nya, bukan oleh ambisi manusia.
Umar bin al-Khaththab ra. berkata:
“Jika seekor unta mati karena lalai dalam tanggunganku, aku takut Allah akan menanyai aku tentang hal itu.”
Betapa lembutnya hati seorang pemimpin yang takut kepada Allah.
Betapa aman rakyat yang dipimpin oleh orang seperti itu.
و الله اعلم بالصواب
