Lelah Menanti Kepastian Bantuan Gempa Cianjur

Oleh : Putri Rahmi DE, SST
Lensa Media News – Hari ke-21 pasca gempa bumi Cianjur, sejumlah korban masih bertahan di tenda pengungsian, Minggu (11/12/2022). Warga berharap agar bantuan ganti rugi kerusakan rumah segera disalurkan pemerintah. Meski dengan kondisi tidak nyaman, warga memilih bertahan di tenda pengungsian karena mengaku bingung untuk pulang. Rumah yang mereka tinggali selama ini mengalami rusak berat bahkan rata dengan tanah. Para pengungsi berharap agar bantuan yang dijanjikan pemerintah segera disalurkan agar rumah dapat segera diperbaiki. Sebelumnya, pemerintah berjanji memberikan bantuan biaya renovasi rumah yang mengalami kerusakan berat sebesar Rp 60 juta, rusak sedang Rp 30 juta, dan rusak ringan mendapatkan bantuan Rp15 juta.
Ini bukanlah hal yang mudah bagi warga Cianjur, mereka membutuhkan solusi yang efektif dan tepat untuk mereka.
Ironinya sampai saat ini belum mereka dapati sesuai harapan. Mereka diminta untuk terus sabar dan menanti akan kepastian masa depannya di bawah reruntuhan puing-puing bangunan, dan harus tidur entah sampai kapan di dalam tenda yang tidak nyaman bagi kondisi kesehatan.
Gambaran potret kisah pilu korban di atas menjadi pemandangan yang lumrah sebab pemerintah yang berodakan kapitalis ini menjadi penggerak kepemimpinannya. Negara Kapitalis akan memperhatikan untuk dan rugi dalam setiap kebijakan, keputusan yang mereka ambil. Ketidak optimalan pemerintah dalam melayani rakyatnya menjadi simbolnya.
Tata kelola urusan rakyat yang belum menjadi visi utama para pemangku kebijakan, baik secara preventif dan maupun kuratif, mereka lebih mementingkan investor asing dalam setiap kegiatannya, terlihat dari pembangunan fasilitas publik yang masih berorientasi pada keuntungan dan pasar.
Sedangkan dalam Islam memiliki manajemen yang baik dalam menanggapi bencana alam yang terdiri dari preventif dan kuratif. Menitik beratkan pada perbaikan Pra Bencana, saat bencana dan pasca bencana. Adapun upaya preventif khilafah akan memetakan wilayah-wilayah yang memilki potensi gempa. Kemudian khilafah akan memerintahkan para ahli sipil, arsitek dan ahli terkait untuk ,desain bangunan tahan gempa, dengan harapan meminimalisir korban gempa.
Khilafah akan memastikan bahwa BMKG memberikan informasi yang akurat serta menyebarkan kepada warga sehingga mereka bias melakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa. Pemberian edukasi mengenai bencana alam kepada rakyat agar mereka tanggap menghadapi jika bencana.
Sedangkan upaya kuratif, maka khilafah menyiapkan tim SAR yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis dalam menanggani bencana, mereka dibekali dengan kemampuan dan peralatan yang canggih yang terdiri dari alat komunikasi, alat-alat berat dan alat evakuasi korban. Khilafah akan menyiapkan tempat pengungsian yang layak agar rakyat tetap terjamin kebutuhannya serta terhindar dari penyakit akibat sanitasi tenda pengungsian. Mengerahkan seluruh tim medis yang handal terampil agar mampu memberikan pelayanan terbaiknya bagi para pengungsi. Dari segi psikologi khilafah akan memberikan recovery mental berupa tausiah-tausiah agar para korban tidak larut dalam kesedihan yang menimpanya, sehingga para korban mampu bersikap bijak dalam menghadapi sebuah bencana yang sebenarnya adalah suatu ketetapan dari sang pencipta yaitu Allah. Inilah bentuk kesiagan Khilafah dalam menghadapi bencana.
[LM/nr]
