Maraknya HIV/AIDS dan Solusinya

Oleh Annisa Auliya,
Pegiat Pena Banua
LensaMediaNews.com, Opini_ Pada peringatan Hari Anak Nasional beberapa hari lalu, ada hal yang membuat kita merasa haru. Salah satunya, saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) merespon data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yang mencatat masih ada puluhan anak usia sekolah hidup dengan HIV/AIDS (Kompas.com, 25-07-2026).
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, terdapat 60 kasus kumulatif HIV/AIDS pada kelompok usia 11–17 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, tujuh diantaranya meninggal dunia. Sementara itu, pada kelompok usia 0–10 tahun tercatat 117 kasus. Sebanyak 35 anak meninggal dunia, sedangkan 32 anak masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV).
HIV merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh seseorang dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Sementara AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. Saat ini, obat untuk penyembuhannya belum ditemukan. Namun, masih bisa dicegah dengan beberapa terapi yang masih dikembangkan.
HIV/AIDS dapat menular melalui beberapa hal, diantaranya melalui hubungan seksual, jarum suntik, transfusi darah, dan dari ibu ke bayinya langsung yang memiliki riwayat HIV/AIDS.
Banyaknya anak-anak maupun remaja yang terpapar HIV/AIDS merupakan peringatan bagi kita semua. Sebab mereka merupakan generasi emas yang akan melanjutkan kepemimpinan kita selanjutnya.
Terpaparnya anak-anak dan remaja oleh HIV/AIDS adalah bentuk kegagalan negara dalam menjaga mereka. Seperti kata pepatah, tidak asap kalau tidak ada api. Begitupun dengan maraknya penularan HIV/AIDS, disebabkan oleh sistem kehidupan sekuler hari ini yang memisahkan agama dengan kehidupan.
Dari sistem kehidupan yang sekuler lahirlah paham liberalisme, paham kebebasan individu baik berperilaku, berekspresi, dan kebebasan lainnya. Salah satunya dalam melampiaskan rasa suka. Diantaranya melakukan hubungan seksual dengan banyak orang yang dia inginkan, entah itu laki-laki maupun perempuan. Belum lagi hubungan laki-laki suka laki-laki yang hari ini juga menunjukkan eksistensinya.
Akibatnya perzinaan di mana-mana bahkan dinormalisasi. Padahal jelas, dari maraknya perzinaan muncul berbagai macam penyakit contohnya menularnya HIV/AIDS.
Dampaknya bukan hanya pada pelaku tapi juga orang lain yang tidak bersalah, seperti bayi yang dikandungnya, remaja yang dia ajak untuk melakukan zina, dan lain-lainnya.
Tanpa sadar, penyakit ini menular ke berbagai orang dan merusak mereka. Syukur-syukur jika mereka sadar untuk menyadari bahwa mereka terjangkit HIV/AIDS maka dapat segera ditindaklanjuti. Bayangkan jika mereka tidak menyadarinya dan tetap melakukan perbuatan yang dapat menularkan virusnya ke orang lain, maka semakin banyak orang jadi korban.
Inilah akar masalah dari maraknya HIV/AIDS hari ini, yaitu paham kebebasan yang lahir dari sistem kehidupan yang memisahkan dari agama (sekularisme). Berbeda dengan sekularisme, Islam justru menjaga umat manusia dari berbagai kerusakan termasuk dari penularan HIV/AIDS.
Islam memberikan aturan yang jelas dalam pergaulan manusia, yaitu dengan melarang perzinaan, perintah untuk menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan, perintah menundukkan pandangan, larangan berkhalwat dan juga ikhtilat.
Selain dari sistem pergaulan, dari sistem pendidikannya pun akan dibuat kurikulum dengan tujuan untuk menjadikan setiap individu menjadi orang-orang yang bertakwa. Artinya menjadi pribadi yang taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
Adapun dari sistem sanksinya, maka dengan sangat tegas akan memberikan sanksi yang berat terhadap pelaku perzinaan. Sanksi ini dapat diberikan jika memang terbukti mereka melakukan dengan disaksikan oleh para saksi yang adil.
Sedangkan dari sistem kesehatan, maka akan disiapkan deteksi dini tehadap masyarakat untuk mengetahui apakah mereka terjangkit HIV/AIDS atau tidak. Jika terjangkit, maka akan segera untuk diobati untuk disembuhkan agar tidak menyebar ke orang lain.
Inilah langkah-langkah Islam dalam menutup segala celah agar HIV/AIDS tidak menyebar kepada masyarakat dan merusak mereka. Hal ini tidak mungkin bisa kita lakukan secara individu, namun juga perlu dukungan dari masyarakat serta peran negara yang mau menerapkan Islam dalam seluruh kehidupan.
Wallahu’alam bis shawab.
