Matinya Naluri Seorang Ibu

Oleh: Isturia
LenSa Media News–Anak perempuan yang harusnya dijaga kehormatan dan kesuciaannya tapi malah diserahkan sendiri oleh ibu kandungnya kepada lelaki hidung belang. Ibu inisial E yang juga PNS menyerahkan anaknya T kepada pelaku inisial J yang seorang kepala sekolah untuk dinodai dengan alasan penyucian diri.
Hasil interogasi terhadap J, dia mengaku telah melakukannya sebanyak 5 kali. Atas perbuatannya, J dijerat Pasal 81 ayat (3) (2) (1), 82 ayat (2) (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 perubahan atas UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak (KumparanNEWS, 1-9-2024).
Ibu korban ternyata selingkuhan J yang dijanjikan motor vespa. Perselingkuhan ini sudah lama terjadi. Kini ibu E dijerat dengan pasal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terancam 15 tahun penjara.
Tidak Peduli
Ibu yang harusnya menjaga anak-anaknya dari kejahatan apapun malah tega menyerahkan kegadisan anak perempuannya kepada pelaku. Ibu yang sudah tidak peduli lagi masa depan anaknya. Ibu yang telah mati rasa kasih sayang terhadap anaknya. Apa penyebabnya?
Pertama, keimanan yang lemah, membuat seseorang berbuat apa saja. Tidak peduli baik atau buruk, halal atau haram. Hawa nafsu mengalahkan segalanya. Hal ini berakibat hilangnya naluri keibuan. Terbukti demi materi ibu rela menyerahkan anaknya untuk dinodai. Tidak peduli apakah anaknya trauma atau tidak.
Kedua, penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem yang menjauhkan manusia dari Tuhannya. Menjadi pribadi-pribadi yang tidak taat. Serba bebas berprilaku. Hidupnya hanya untuk mengumpulkan materi dan memenuhi hawa nafsunya. Dalam sistem ini manusia bebas melakukan apapun. Asalkan tidak mengganggu kehidupan orang lain. Sehingga menjamur pacaran, zina, khalwat, interaksi tanpa aturan, ikhtilat dan cara berpakaian yang tidak Islami.
Ketiga, sistem pendidikan sekuler kapitalisme. Hasil dari sistem ini adalah generasi bebas yang jauh dari syariat. Sistem ini sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Tidak heran jika masyarakatnya rusak. Lihat saja bagaimana ibu E rela menjual buah hatinya kepada pelaku dan pelaku J yang seorang pendidik melakukan asusila.
Mereka berdua produk dari sistem pendidikan sekuler. Sistem ini tidak membawa pada kebaikan. Sistem ini juga mengajarkan bahwa standar kebahagiaan adalah materi dan kesenangan dunia. Alhasil sistem ini tidak bisa menciptakan individu yang taat dan bertakwa.
Keempat, sistem sanksi bagi pelaku zina dan asusila saat ini tidak menjerakan. Akibatnya perzinahan bak jamur di musim hujan.
Sistem Islam
Islam sebagai agama sempurna mendudukkan posisi ibu sebagai wanita yang mulia dan utama. Tempat belajar anak-anaknya sehingga seorang ibu harus ahli dan memahami Islam dengan benar.
Dari rahimnya, lahirlah generasi gemilang. Ibu mendidik anak-anaknya dengan akidah Islam yang kokoh sehingga menjadi anak-anak yang taat kepada Pencipta dan Rasul-Nya. Negara menjadi garda terdepan untuk menjaga dan melindungi ibu agar perannya maksimal.
Islam mewajibkan pertama, negara menjamin pemenuhan kebutuham dasar setiap keluarga. Ayah dimudahkan untuk mencari nafkah dengan tersedianya lapangan pekerjaan dan bantuan modal tanpa riba. Perekrutan difokuskan kepada pekerja laki-laki. Perempuan boleh bekerja asalkan tidak mengganggu kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah. Juga dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Kedua, negara memberlakukan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Outputnya adalah generasi yang berkepribadian Islam. Semua perangkat pendidikan harus berdasar akidah Islam.
Ketiga, negara memberlakukan sistem pergaulan Islam. Melarang aktivitas pacaran, zina, berkhalwat. Memisahkan kehidupan laki-laki dan peremluan sehingga kehidupan mereka terjaga dari kemaksiatan.
Keempat, negara menyaring dan mencegah berbagai informasi yang menjerumuskan generasi kepada kemaksiatan. Seperti pornografi, tayangan yang mengumbar aurat dan maksiat dan lain-lain.
Kelima, negara menghukum tegas pelaku kemaksiatan sehingga jera. Baik orang tua atau anak-anak yang berbuat zalim. Tujuan sanksi tersebut adalah melindungi rakyatnya. Begitulah ketika Islam diterapkan. Akan tercipta generasi yang berkualitas dan jauh dari kerusakan. [LM/ry].
