Membangun Kecerdasan Anak Dalam Paradigma Islam

Membangun Kecerdasan Anak Dalam Paradigma Islam
Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Reportase – Pada Tanggal 14 Februari 2026, Majelis Taklim Khoirunnisa menghadiri kajian bertema Ingin Anak Cerdas. Pematerinya adalah Ustazah Faiqoh. Dalam kajian kali ini, dibahas tentang bagaimana membangun kecerdasan anak dalam Islam.
Setiap orang tua, tentulah mempunyai impian untuk memiliki anak yang cerdas. Apakah cerdas itu? Apakah cerdas dinilai dari capaian nilai akademik yang tertinggi? Apakah untuk anak yang selalu memiliki prestasi tinggi dalam setiap lomba atau olimpiade? Ataukah bagi anak yang mampu menghapalkan Al Qur’an?
Faktanya saat ini, banyak orang cerdas yang memanfaatkan kecerdasannya secara menyimpang. Hingga menimbulkan permasalahan bagi umat. Contohnya para koruptor, mereka adalah orang-orang cerdas terpelajar. Namun sayangnya, mereka menggunakan kecerdasannya untuk hal yang menimbulkan permasalahan bagi umat, bahkan banyak merugikan umat.
Cerdas itu seharusnya bukan menjadi bagian dari masalah umat. Cerdas sebagaimana sabda Rasulullah:
“Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan diri dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459 – hasan)
Cerdas (Al-kayyis) itu bukanlah sekadar pintar dalam hal akademik saja. Akan tetapi mampu mengontrol diri sendiri, sadar akan adanya akhirat, dan mengubah ilmu menjadi suatu amalan yang nyata. Juga mampu memahami arti hadir dirinya dalam kehidupan ini. Bahwa dirinya adalah hadiah bagi orang tuanya dari Sang Pencipta. Hadir untuk tujuan dan visi yang mulia, yaitu sebagai hamba Allah.
Ustazah menyampaikan, bahwa manusia diciptakan sudah lengkap dengan bekal potensi akal dan potensi hidup. Manusia akan berusaha untuk menggunakan potensi akalnya, dalam pemenuhan potensi hidupnya. Akal berfungsi untuk mengendalikan pemenuhan potensi hidup, yaitu kebutuhan jasmani dan naluri. Dalam pemenuhan ini haruslah dengan cara yang benar dan tepat, sesuai dengan hakikat penciptaan manusia. Agar tidak terjadi penyimpangan, dan dapat menyelesaikan masalah dirinya dengan benar, serta teraihnya martabat yang mulia di hadapan Sang Pencipta.
Sejak usia dini, anak harus sudah dikenalkan tentang adanya Allah melalui cara sederhana. Dipahamkan tentang hakikat hidup, dengan bahasa yang ahsan sesuai dengan perkembangan usianya. Memperdengarkan Al Qur’an. Memberikan lebih banyak informasi awal atau maklumat sabiqah yang benar, dengan memberikan banyak tsaqofah Islam (akidah, adab, dan shirah). Melalui stimulus yang benar, anak akan mudah merekam segala informasi.
Seorang ibu harus menstimulasi akal anak sejak dini. Apa akal itu? Akal adalah kemampuan berpikir, yaitu suatu proses berpikir yang mampu mengaitkan informasi yang tersimpan di otak dengan fakta yang terindera. Yakni melalui cara yang sahih, sesuai dengan hakikat penciptaan manusia. Akal memiliki empat komponen, yaitu informasi awal (maklumat sabiqah), otak yang sehat, indera yang sehat, dan fakta yang terindera.
Ustazah memberikan beberapa contoh kisah para sahabat Rasulullah, yang bisa dijadikan sebagai maklumat sabiqah dalam membangun kecerdasan anak. Salah satunya adalah Kisah Salman Al Farisi, Ummu Salamah, dan Muhs’ab bin Umair.
Seorang ibu sebagai madrasah ula bagi anaknya, harus memiliki banyak tsaqofah Islam, literasi Islam. Sehingga dapat menguasai informasi yang sahih. Dengan menggunakan bahasa yang ahsan dalam menyampaikan suatu hal, dan memberikan contoh yang sahih kepada anak-anak. Mendidiknya dengan bahasa yang berbeda dari setiap tahapan usia anak. Juga membiasakan anak membaca buku, yang dapat menstimulasi perkembangan akal. Itu lebih baik, daripada dengan menggunakan handphone, hanya akan membuat macet akal mereka.
Ibu juga bisa mengajak anak memperbanyak fakta yang diindera. Memperbanyak proses mengaitkan antara maklumat sabiqah, fakta yang terindera, dengan hakikat penciptaan manusia. Hal ini penting, dalam menstimulasi akal dan membentuk pola pikir anak yang sahih. Menjadikannya cerdas sebagaimana yang Rasulullah sampaikan dalam hadist.
Jadi cerdas tidak hanya untuk hal dunia saja, tetapi untuk mencari ridha Allah. Selain itu, juga untuk meraih akhirat, yaitu Jannah Firdaus Allah. Cerdas harus bisa bermanfaat bagi umat, dan dapat menyelesaikan masalah umat. Selain itu, juga menjadikannya khalifah di muka bumi.
Wallahu’alam bishshowab.
