Anak Gantung Diri, Ironi Negeri Loh Jinawi

AnakSekolah-LenSaMediaNews

Oleh: Sunarti

 

LenSaMediaNews.com–“Tertelentang berisi air, tertiarap berisi tanah.” Inilah peribahasa yang tepat untuk digunakan sebagai penggambaran kondisi kemiskinan di negeri ini. Peribahasa yang menggambarkan kemiskinan dan ketidakberdayaan seseorang dalam kehidupan.

 

Miris memang. Kemiskinan bahkan membuat mental anak-anak bangsa menjadi turun drastis. Bahkan keputusan final yang diambil adalah keputusan yang di luar nalar orang-orang dewasa. Namun, ini peristiwa nyata.

 

YBR (10) tewas gantung diri lantaran orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen untuknya. Ini kasus yang mengejutkan di jagad maya. Siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, sebelum tragedi tersebut berkali-kali ditagih uang sekolah sebesar Rp. 1,2 juta beserta siswa lainnya , oleh pihak sekolah (News.detik.com,  5-2-2026).

 

Menurut Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, anak mengakhiri hidup di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. KPAI juga mengungkap bahwa anak mengakhiri hidup dengan mayoritas alasan perundungan, pengasuhan, ekonomi,  game online dan asmara (Tirto.id, 4-2-2026).

 

Banyaknya kasus yang terjadi saat ini membuktikan adanya ketimpangan dalam struktur sosial masyarakat. Sisi lain, kehidupan anak-anak sekolah dengan fasilitas elit di sekolah-sekolah swasta dinikmati oleh mereka yang memiliki orang tua “berkantong tebal.”

 

Sementara kehidupan sulit, memaksa kaum fakir dan miskin tidak bisa menikmati pendidikan yang layak dan sebenarnya menjadi hak setiap warga negara. Penjaminan hak untuk sekolah gratis bagi setiap anak tidak dilakukan optimal oleh negara.

 

Anak usia sekolah yang seharusnya menikmati masa-masa meraup ilmu di sekolah, harus meregang nyawa, akibat biaya yang tidak bisa dibayarkan. Latar belakang kehidupan melilit hari-hari indah di sekolah. Jadilah keputusan bunuh diri adalah solusi menurut pikiran dangkal bocah tersebut.

 

Kebutuhan dasar rakyat adalah sandang pangan dan papan serta pemenuhan akan kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan. Termasuk di dalamnya adalah pemeliharaan orang miskin dan anak-anak terlantar menjadi tanggung jawab negara. Sayangnya dalam Sistem Kapitalis-sekuker saat ini, peran negara tidak ada. Jadilah orang miskin seolah dilarang sekolah, dilarang sakit pun dilarang untuk hidup layak.

 

Beban kehidupan ditanggung sendiri oleh rakyat, meskipun terkategori rakyat fakir lagi miskin. Adalah tabiat asli dari Sistem Kapitalis-sekuker yang menjadikan beban pendidikan ditanggung oleh individu. Tak heran kian hari, kian bertambah banyak beban yang harus ditanggung masyarakat, apalagi masyarakat miskin.

 

Semua berbanding terbalik dengan sistem Islam yang mengatur kehidupan. Negara dalam sistem Islam memiliki tanggung jawab terhadap setiap warga negara, baik yang kaya maupun miskin. Hak pendidikan juga tanggung jawab negara. Setiap warga negara memiliki hak untuk mengenyam pendidikan yang difasilitasi oleh negara.

 

Jaminan hak dasar rakyat, termasuk hak anak yaitu pengasuhan, pendidikan, kontrol sosial, kesehatan dan keamanan diatur dalam Sistem Islam. Karena Islam juga memiliki sejumlah aturan perlindungan anak dan keamanan dalam keluarga dan lingkungan sosial.

 

Negara dalam Sistem Islam mengatur pembiayaan pendidikan melalui mekanisme Baitulmal. Dalam kitab Nizham al-Iqtishadiy fi al-Islam, yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, negara Khilafah memiliki mekanisme pembiayaan pendidikan. Ada dua sumber pendapatan baitulmal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu: (1) pos fai‘ dan kharaj—yang merupakan kepemilikan negara—seperti ganimah, khumus (seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharibah (pajak); (2) pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan).

 

Sistem saat ini tidak akan bisa mensejahterakan rakyatnya. Karena sekarang terkungkung dalam sistem kapitalis-sekuker, dimana negara tidak mengurusi urusan rakyat. Namun sebagai fasilitator dalam berbagai kebijakan yang menguntungkan pihak pengusaha. Jadilah rakyat miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Tak heran anak bunuh diri di negerinya yang loh jinawi.

 

Saatnya memikirkan bagaimana agar perubahan mendasar terjadi. Masyarakat telah mengetahui berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Namun tidak sedikit yang tidak mengerti bahwa Islam memiliki aturan yang lengkap, termasuk dalam sistem pendidikan. Ini perlunya memahami Islam secara kafah, agar bisa ikut berjuang mewujudkan perubahan, hingga hanya Islam yang menjadi aturan.  Waallahu alam bisawab. [LM/ry].