Mengenal Islam Ideologis

Oleh: Cokorda Dewi
Lensamedianews.com, Tsaqofah — Tidak sedikit umat muslim yang tidak paham tentang Islam karena kurang tertarik untuk memahami Islam lebih dalam. Rasa ketidaktertarikan memahami dan mengkaji Islam tidak terlepas dari adanya dukungan sistem sekuler kapitalis, yakni adanya pemisahan antara urusan agama dan kehidupan. Urusan agama ditempatkan sebagai hal yang bersifat privat atau pribadi, hanya sebatas ibadah mahdhah, seperti salat, puasa, zakat, dan berhaji jika mampu. Sementara itu, dalam kehidupan, yang diutamakan adalah asas manfaat dan keuntungan semata.
Sesungguhnya, ilmu Islam sangat luas, mencakup alam semesta (al-kaun), kehidupan (al-hayat), dan manusia (al-insan). Islam juga mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah), hubungan manusia dengan diri sendiri (hablun binafsi), serta hubungan manusia dengan manusia lainnya (hablum minannas), baik yang berkaitan dengan sebelum kehidupan (masa penciptaan), kehidupan di dunia, maupun kehidupan setelah kematian (akhirat).
Islam juga merupakan solusi atas segala problematika kehidupan.
Tiga pertanyaan yang sering muncul dalam benak manusia, yaitu:
- Dari mana saya berasal?
- Untuk apa saya hidup?
- Ke mana saya setelah kematian?
Solusi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah shahih atau benar, memenuhi fitrah manusia (tidak mengultuskan sesuatu di luar batas kemampuan manusia), memuaskan akal, dan menenangkan hati. Semua ini harus melalui proses berpikir, yaitu adanya maklumat tsabiqah (informasi awal), dapat terindera, sesuai dengan akal (logis), serta bersumber dari dalil yang qath‘i (pasti), yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Asal dari segala sesuatu adalah Allah Swt. (QS. Az-Zumar: 62). Manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS. Adz-Dzariyat: 56) dan kelak akan kembali kepada Allah (QS. Hud: 123). Kehidupan setelah kematian bersifat abadi.
Setelah kematian, manusia akan dibangkitkan kembali dan di akhirat kelak akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) sesuai dengan amal perbuatannya, apakah akan menempati neraka atau surga. Neraka adalah tempat siksaan yang tiada akhir bagi siapa saja yang ingkar kepada Allah Swt. dan bagi orang-orang yang gemar bermaksiat. Adapun surga adalah tempat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Beriman berarti meyakini keberadaan Allah Swt. dan meyakini Nabi Muhammad saw. sebagai utusan Allah (Rasul Allah). Bertakwa adalah menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah harus tunduk dan patuh kepada seluruh syariat atau peraturan Allah sebagai wujud ibadah kepada-Nya. Dengan demikian, syariat merupakan konsekuensi dari iman. Segala sesuatu harus berlandaskan pada syariat.
Islam mencakup akidah (keyakinan dasar) dan nizham (peraturan atau syariat), yang dalam penerapannya terdapat fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode pelaksanaan). Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik urusan sosial, politik, hukum (uqubat), muamalah, pendidikan, maupun kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya sebatas ibadah ritual, melainkan sebuah mabda’ atau ideologi.
Wallahu a‘lam bish-shawab. [LM/Ah]
