Palestina Masih Menderita

Lensamedianews.com, Surat Pembaca — Di tengah pergantian tahun baru 2025 ke 2026 yang disambut dengan berbagai harapan kesuksesan dan kebahagiaan, ada rakyat Palestina yang masih bergelut dengan derita. Rasa ketakutan, kesakitan, dan kehilangan masih menghantui setiap waktu.
Gencatan senjata yang mulai diberlakukan dari tanggal 10 Oktober 2025 sampai sekarang tak menghentikan aksi brutal kebiadaban tentara Israhell yang terus menggenosida rakyat Palestina. Pembunuhan, pengusiran, pencaplokan wilayah hunian serta perkebunan warga sipil Palestina terus dilakukan oleh tentara penjajah yang didukung Amerika.
Mirisnya, pemberitaan kondisi Palestina seperti mereda. Pembatasan informasi di media sosial dan upaya pembungkaman suara aktivis yang menyuarakan dukungan terhadap Palestina, dengan melarang 37 organisasi kemanusiaan di Palestina, sepertinya sedang bekerja. Akibatnya, berita derita Palestina seolah tertelan kepentingan.
Dunia seratus persen paham bahwa sumber derita Palestina dimulai sejak kedatangan Bani Kera di negeri mulia ini. Maka, untuk menghilangkan derita yang ada, tidak ada jalan lain selain mengusir penjajah Israhell laknatullah dari bumi Al-Aqsa.
Masalahnya, keberpihakan penguasa negeri-negeri Muslim justru jatuh kepada Israhell. Mereka saling bekerja sama, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka, seperti Arab Saudi, Mesir, Turkiye, dan lain-lain. Sekalipun membantu Palestina dengan melontarkan kutukan, kecaman, serta bantuan obat-obatan dan makanan, semua itu hanya demi menjaga nama baik semata, bukan karena landasan keimanan.
Belum lagi, menjadikan arahan Amerika Serikat dalam setiap keputusan merupakan kesalahan fatal. Bagaimana mungkin mempercayai negara yang mempersenjatai Israhell untuk merebut Palestina? Perlu diingat, target Israhell tidak berhenti pada penguasaan Palestina saja, melainkan Israhell Raya yang meliputi Negeri Syam, Iran, Mesir, dan Arab Saudi.
Hal ini menunjukkan kebutuhan umat untuk memutus kepercayaan terhadap penguasa ruwaibidhoh (pemimpin bodoh) yang saat ini memimpin mereka, serta membangkitkan kesadaran umum akan pentingnya persatuan umat di bawah satu bendera, yakni negara Khilafah Islamiyah.
Hanya Khilafah yang mampu menghadapi Israhell sekaligus negara-negara di belakangnya, terutama Amerika. Sebab, Khilafah merupakan negara yang akan mempersatukan seluruh kekuatan umat, baik dari jumlah manusianya, luas wilayah, maupun kekayaan alamnya. Semua itu dihimpun untuk menjalankan seluruh perintah Allah Swt., yang di antaranya adalah seruan jihad.
Jihad akan digaungkan oleh sang Khalifah, pemimpin umat Islam, untuk membebaskan Palestina. Jihad yang akan melumat kesombongan Israhell dan kroni-kroninya. Jihad akan menyelamatkan serta mengembalikan posisi umat Islam di mana pun berada sebagai umat terbaik. Maka, mari kita rapatkan barisan dan penuhi seruan untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan negara Khilafah Islam.
Palestina, tunggu kami. Palestina pasti berjaya kembali. Aamiin ya Mujibassalilin. [LM/Ah]
Sri Ratna Puri
(Pegiat Opini Islam)
