Merdeka Gaza yang Sesungguhnya

1000918382

Oleh Syifa Ummu Azka

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Inilah ironi paling kelam dalam perjuangan membebaskan Palestina: ketika gerakan kemanusiaan yang tulus justru dihentikan oleh tangan-tangan sesama kaum muslimin sendiri. Gerakan “Global March to Gaza” (GMTG) yang digagas sebagai aksi solidaritas global atas blokade brutal Israel terhadap Gaza, malah terhalang oleh batas negara bangsa yang dibangun penjajah dan dipelihara oleh para penguasa muslim sendiri.

Ratusan aktivis GMTG dari berbagai negara ditolak masuk Mesir saat hendak menuju perbatasan Rafah, satu-satunya pintu keluar-masuk Gaza yang tidak dikontrol Israel (KompasTV, 23/06/2024). Penolakan itu mempertegas bahwa perjuangan kemanusiaan akan selalu gagal jika menghadapi tembok nasionalisme yang keras kepala.

Ribuan orang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, melakukan longmarch sebagai bentuk kepedulian terhadap warga Gaza yang terkepung dan dibantai (Liputan6, 21-06-2024). Namun sayangnya, dari semua simpati dan solidaritas itu, tak satu pun negara Muslim yang benar-benar membuka jalan jihad atau mengirim pasukan pembela. (Republika, 23-06-2024).

Nasionalisme : Sekat Jahat antara Kaum Muslimin

Penyebab utama kegagalan bantuan kemanusiaan ke Gaza bukan hanya karena kekejaman Israel, melainkan karena ide nasionalisme dan negara bangsa. Paham ini telah membutakan nurani para penguasa negeri-negeri muslim, yang lebih takut melanggar batas geopolitik daripada membela darah saudaranya sendiri. Nasionalisme menanamkan doktrin bahwa negeri ini milik segelintir warga dan tentara hanya boleh berjuang demi negaranya, bukan demi Islam dan umatnya. Maka tak heran jika tentara Mesir lebih memilih menjaga perbatasan Israel daripada membuka jalan jihad ke Palestina.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzalimi dan tidak membiarkannya dizalimi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Palestina Butuh Aksi, Bukan Sekadar Simpati

Kenyataan bahwa kekejaman Israel tidak pernah surut menunjukkan bahwa Palestina tidak butuh slogan, fatwa, atau longmarch semata. Yang dibutuhkan Palestina kini adalah aksi pembebasan sejati, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa kekuatan politik dan militer. Namun dalam sistem negara bangsa, semua kekuatan itu telah dipasung oleh sekat nasionalisme. Tentara yang jumlahnya jutaan di berbagai negara muslim hanya berdiri menonton, karena tidak ada pemimpin yang memberi komando. Allah SWT berfirman:
Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS. Al-Anfal: 72)

Ayat ini bukan hanya perintah individual, tetapi juga perintah bagi pemimpin yang mengklaim wilayahnya sebagai negeri muslim.

Khilafah: Solusi Realistis yang Terlupakan

Dunia Islam hari ini bukan hanya butuh gerakan kemanusiaan, tapi gerakan politik untuk menyatukan kekuatan umat. Umat Islam harus menghancurkan sekat nasionalisme dan berjuang untuk menghadirkan kembali Khilafah Islamiyah satu kepemimpinan global yang menjadi komando tunggal untuk melindungi, membebaskan, dan memimpin umat.

Khilafah bukan utopia. Ia pernah ada dan berhasil membebaskan banyak negeri, termasuk Palestina dari tangan salibis. Hanya dalam Khilafah, umat memiliki pemimpin sejati yang akan menggerakkan tentara untuk berjihad, bukan berbaris menjaga perbatasan palsu.

Arah Perjuangan harus Jelas

Kepedulian umat hari ini sangat besar, namun arah perjuangan masih kabur. Demonstrasi dan donasi adalah aksi yang penting, tetapi tidak cukup. Umat harus diarahkan untuk terlibat dalam gerakan politik ideologis yang menyadarkan bahwa solusi Palestina bukan diplomasi, tapi perubahan sistem politik global.

Umat perlu meninggalkan nasionalisme, dan menyatukan diri dalam perjuangan politik Islam yang tidak mengenal batas negara, ras, maupun golongan. Hanya melalui inilah cita-cita membebaskan Palestina benar-benar bisa diraih.
Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Tentu seorang saudara tidak menunggu saudaranya dibantai untuk bertindak. Seorang saudara akan bertindak sebelum darah tumpah.
Wallahu a’lam bish-shawab.