Mewujudkan Generasi Pelopor Perubahan

Mewujudkan Generasi Pelopor Perubahan
Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Era Digital, memungkinkan arus informasi begitu cepat tersebar dan kemudahan dalam mengakses segala bentuk informasi. Bentuk informasi tersebut, bisa berupa tsaqofah, peluang bisnis, hiburan, dan sebagainya. Bahkan tanpa batas, tanpa sensor, tanpa kontrol, bebas lepas entah benar atau hoax.
Desain algoritma yang dirancang pun hanya mengutamakan profit. Dibuat lebih menyasar pada Gen Z, sebab mereka merupakan target pasar yang potensial dan profitable bagi para kapital.
Saat ini, tidak bisa terelakkan, ruang digital berada dalam hegemoni sistem sekuler kapitalis. Yakni, pemikiran sekuler dan liberal makin mudah disebar dan memengaruhi pola pikir Gen Z. Apalagi mereka terus dimanjakan dengan kesenangan atau kebahagian, meski sesungguhnya adalah semu.
Tanpa adanya pemahaman literasi digital yang sahih, hanya akan membuat Gen Z semakin kehilangan arah. Paradigma yang diadopsi pun dipengaruhi oleh sekuler liberal, sehingga memengaruhi pola pikir dan pola sikap. Ini dapat melahirkan kepribadian yang bathil.
Dunia digital yang melenakan, cenderung membuat generasi muda punya dunia sendiri yang semu, tidak tertarik dengan aktivitas kehidupan nyata. Hal itu, bisa menjauhkan Gen Z dari realita kehidupan, serta kesulitan mengambil sikap atau keputusan. Selain itu, mereka akan merasa nyaman dan bahagia dengan komunitas digital-nya. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan ruang digital sebagai maklumat tsabiqoh-nya. Konten-konten digital menjadi pembenaran akan sesuatu yang dihadapinya.
Memang ada di antara mereka yang tingkat kecerdasan di atas rata-rata, dan kritis terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, hal itu tidak menjamin membawa perubahan yang sahih. Malah bisa saja sebaliknya, jika tanpa arahan yang sahih.
Upaya penyelamatan generasi dari kesesatan dunia maya, adalah bersifat urgensi. Maka harus ada sinergi dari seluruh elemen, baik itu keluarga, sekolah, lingkungan, partai politik ideologis, dan juga negara. Bersinergi dalam upaya meluruskan cara pandang generasi, yang terlanjur sesat oleh pengaruh paham sekuler liberal.
Generasi muda harus dipahamkan dengan paradigma yang sahih. Bahwa ada hal yang tidak bisa hanya mengandalkan algoritma digital saja. Namun ada kehidupan nyata yang harus dilalui, yakni hal-hal yang harus dipelajari dan ilmunya harus diasah terus menerus.
Pemahaman tentang paradigma yang sahih pada generasi muda, memerlukan lingkungan yang kondusif. Harus pula berkolaborasi dengan sistem yang sahih dan komprehensif.
Generasi muda sebagai makhluk Allah, tentulah memiliki potensi hidup, yaitu ghorizah atau naluri, hajatul udhwiyah atau kebutuhan jasmani, dan akal. Kesemuanya ini seharusnya dipenuhi dengan jalan yang sahih. Untuk itu, diperlukan ketahanan dan kekokohan iman, yang dibarengi dengan pemahaman yang sahih tentang makna Iman itu sendiri. Tidak hanya sepotong-potong saja, tetapi haruslah menyeluruh (kaaffah) melalui paradigma Islam kaaffah.
Negara berperan penting dalam membina ketahanan Iman, dan juga memahamkan paradigma Islam kaaffah kepada seluruh umat, termasuk generasi muda. Hal ini bisa dilakukan, hanya melalui penerapan sistem Islam kaaffah dalam bernegara. Selanjutnya, pembinaan tersebut diserahkan pada partai politik ideologis. Partai politik ideologis ini juga berperan sebagai muhasabah lil hukam atau melakukan introspeksi terhadap penguasa.
Lingkungan yang kondusif, suasana keimanan, serta ketaatan kepada Allah SWT., akan memberi ruang bagi generasi muda untuk berpikir kritis. Sekaligus bisa mencerdaskan dan dapat meningkatkan taraf berpikir umat. Menggunakan ruang digital dengan bijak, bersandar pada syari’ah Islam, untuk kemaslahatan umat, dan menjadi generasi pelopor perubahan menuju peradaban Islam yang berjaya.
Wallahu’alam bishawab.
