Muharram di Tengah Luka Umat

Oleh: Basundari
Aktivis Dakwah Pasuruan
LenSaMediaNews.com–Tahun baru Hijriah tiba, namun langkah kalender ini tidak membawa kabar baik. Di dalam negeri, kemiskinan struktural masih membelit, judi online merajalela hingga merenggut harta dan akal sehat, prostitusi anak dan eksploitasi seksual menjadi berita yang terlalu sering muncul, sementara kasus bullying dan kekerasan terus bertambah dari hari ke hari. Sepanjang tahun, masalah-masalah ini berputar dalam siklus yang sama tanpa penyelesaian yang berarti.
Di panggung internasional, luka yang lebih dalam masih menganga. Genosida di Gaza memasuki tahun ketiga. Israel mempertahankan blokade ilegal yang membatasi pangan, BBM, dan pasokan medis, menciptakan kondisi yang sengaja dirancang untuk menghancurkan kehidupan warga Palestina (Amnesty International, 20-02-2026). Anak-anak mati kelaparan di hadapan dunia yang menyaksikan lewat layar ponsel. Sementara itu, penguasa negeri-negeri muslim memilih bergabung dalam forum-forum diplomatik yang dipimpin kekuatan yang justru melanggengkan penindasan, alih-alih mengirimkan satu pun pasukan untuk membela saudara seiman mereka.
1 Muharram 1448 H pun tiba dengan beban yang berat untuk direnungkan. Predikat Khairu Ummah, umat terbaik, terasa begitu jauh dari kondisi riil umat Islam hari ini. Bukan karena umat ini kehilangan potensi, tetapi karena umat ini telah lama tercerabut dari sistem yang menjadikannya unggul.
Seluruh kenestapaan dalam negeri adalah konsekuensi logis dari penerapan sekularisme kapitalisme yang menggeser standar halal haram menjadi sekadar untung rugi materi. Ketika manfaat duniawi dijadikan tolok ukur tunggal, kerusakan merembes ke seluruh lini kehidupan, dari ekonomi rumah tangga hingga moralitas generasi muda. Tidak ada batas yang tersisa untuk menahan laju kerusakan itu, karena batasnya sendiri telah dihapuskan.
Lemahnya posisi umat Islam di panggung dunia pun bukan kebetulan. Ketidakmampuan membela Palestina secara nyata berakar dari absennya institusi yang menyatukan kekuatan umat. Nasionalisme telah memecah belah kaum Muslim ke dalam sekat-sekat negara bangsa yang saling curiga, sementara ketundukan pada kekuatan-kekuatan besar dunia membuat setiap negeri muslim enggan bergerak sendiri-sendiri, apalagi bersama.
Muharram seharusnya menjadi momentum refleksi yang jujur bahwa semua kenestapaan ini lahir dari jauhnya umat dari aturan Allah, bukan takdir yang harus diterima dengan pasrah. Hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan perpindahan dari sistem jahiliah menuju tatanan yang dibangun di atas wahyu. Hijrah hakiki hari ini adalah perjuangan serupa: berpindah dari sistem kufur sekularisme kapitalisme menuju penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Daulah Khilafah.
Perjalanan Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa perubahan besar tidak datang dengan sendirinya. Perubahan itu membutuhkan perjuangan panjang, terorganisir, dan sabar, sebagaimana yang dilakukan Nabi dan para sahabat selama tiga belas tahun di Makkah sebelum tegaknya negara Islam pertama di Madinah. Tidak ada jalan pintas dalam sejarah perubahan hakiki.
Karena itu, kewajiban umat hari ini bukan sekadar berdoa dan menanti. Umat Islam dipanggil untuk berjuang bersama jamaah dakwah yang mengambil metode dakwah Rasulullah Saw. secara utuh, metode yang telah terbukti melahirkan peradaban gemilang, dan satu-satunya jalan yang dijanjikan akan menegakkan kembali Khilafah sebagai pelindung seluruh umat, di Gaza maupun di negeri-negeri muslim lainnya. Muharram tahun ini boleh datang dengan luka yang masih basah. Namun selama umat menyadari akar masalahnya dan bergerak menuju solusinya, harapan akan kebangkitan tetap terbuka. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
