Muharram: Muhasabah dan Menata Arah Kebangkitan Umat

Oleh: Yayang Sevia
LenSaMediaNews.com–Setiap kali Muharram datang, umat Islam kembali dihadapkan pada momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari umat.
Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi pengingat akan peristiwa besar hijrah Rasulullah saw sebuah titik balik yang mengubah arah sejarah dan melahirkan peradaban Islam yang agung. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol perubahan menuju kehidupan yang diatur oleh wahyu Allah.
Dari sana lahir masyarakat Islam yang kuat, adil, dan penuh keberkahan. Namun ketika melihat kondisi umat hari ini, muncul pertanyaan besar: sejauh mana semangat hijrah itu masih hidup dalam diri kita?
Realitas yang kita hadapi menunjukkan bahwa umat masih dibelit berbagai persoalan yang kompleks. Di dalam negeri, masyarakat terus berhadapan dengan masalah ekonomi yang tak kunjung selesai. Kemiskinan bukan lagi sekadar persoalan individu, tetapi telah menjadi lingkaran struktural yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah impitan hidup, sebagian masyarakat memilih jalan pintas yang justru menambah kerusakan, salah satunya melalui judi online yang kini menjangkiti berbagai lapisan, termasuk anak muda dan pelajar.
Di sisi lain, kasus kekerasan terhadap anak, perundungan, eksploitasi seksual, prostitusi terselubung, dan berbagai bentuk penyimpangan sosial semakin sering muncul di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan adanya kerusakan yang lebih mendasar dalam kehidupan masyarakat. Kerusakan sosial tidak tumbuh sendiri, tetapi lahir dari sistem yang membentuk cara pandang manusia terhadap hidup.
Hari ini, kehidupan banyak dibangun di atas asas kebebasan individu. Manusia didorong mengejar kepuasan tanpa batas, sementara ukuran benar dan salah sering ditentukan oleh manfaat, keuntungan, dan materi. Akibatnya, halal dan haram tidak lagi menjadi standar utama. Banyak kemaksiatan dianggap biasa, bahkan dilindungi atas nama kebebasan. Inilah tantangan besar umat Islam saat nilai-nilai Islam semakin tersingkir dari kehidupan.
Di tingkat internasional, penderitaan umat tampak jelas di Palestina, khususnya Gaza. Saudara-saudara kita hidup di bawah tekanan berat, kehilangan rumah, keluarga, bahkan akses makanan dan obat-obatan. Dunia menyaksikan, tetapi keadilan terasa begitu jauh. Palestina hari ini menjadi simbol luka umat yang belum sembuh dan cermin lemahnya posisi politik umat Islam di panggung global.
Setiap serangan, tangisan anak-anak, dan duka para ibu menjadi pengingat bahwa umat sedang menghadapi ujian besar. Namun lebih dari itu, semua ini menunjukkan bahwa persatuan umat masih rapuh dan kekuatan kolektif belum terbangun secara utuh. Padahal sejarah membuktikan, ketika umat bersatu di atas akidah yang sama, mereka mampu menjadi kekuatan besar yang disegani.
Muharram seharusnya menjadi momentum untuk melihat semua ini dengan jernih. Kita tidak boleh hanya meratapi keadaan tanpa memahami akar persoalan. Islam mengajarkan bahwa setiap musibah dan kerusakan harus menjadi bahan muhasabah, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari solusi yang benar.
Hijrah Rasulullah saw. mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah instan. Perubahan dimulai dari pembinaan akidah, pembentukan pola pikir, dan penanaman kesadaran. Rasulullah membangun generasi sahabat dengan fondasi iman yang kokoh hingga lahirlah pribadi-pribadi tangguh yang mampu membangun masyarakat berlandaskan ketakwaan.
Artinya, kebangkitan umat hari ini juga harus dimulai dari hal yang sama. Bukan sekadar slogan atau semangat sesaat, tetapi kesadaran mendalam untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh. Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga memiliki panduan dalam mengatur ekonomi, pendidikan, sosial, hingga politik.
Muharram juga mengingatkan bahwa hijrah adalah perjalanan meninggalkan zona nyaman menuju perjuangan yang lebih besar. Hari ini, hijrah berarti keberanian meninggalkan pola hidup yang jauh dari nilai Islam menuju kehidupan yang lebih taat: hijrah dari lalai menjadi peduli, dari diam menjadi bergerak, dan dari sekadar penonton menjadi bagian dari solusi.
Umat Islam tidak boleh terus hidup dalam kondisi lemah, terpecah, dan kehilangan arah. Sudah saatnya Muharram menjadi titik balik untuk memperkuat ukhuwah, memperdalam pemahaman Islam, dan menghadirkan nilai-nilai syariat dalam kehidupan. Sebab kebangkitan umat tidak lahir dari nostalgia masa lalu, tetapi dari kesungguhan mengambil pelajaran dan membangun masa depan.
Sebagaimana hijrah Rasulullah saw. mengubah arah sejarah, semangat hijrah hari ini pun dapat menjadi awal perubahan besar jika umat mau bergerak, berpikir, dan berjuang bersama dalam jalan ketaatan kepada Allah menuju kemenangan bagi kaum muslim. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
