Partai Politik Dalam Islam

Oleh : Umi Rizkyi
(Anggota Menulis Setajam Pena)
LenSaMediaNews.com – Kurang lebih 1 tahun ke depan, negeri kita tercinta ini akan melakukan rutinitas dalam lima tahun sekali yaitu pesta demokrasi. Yang pasti berbagai partai politik akan ikut merayakannya. Mengambil peran di sana dan berusaha sekuat tenaga demi meraih tujuannya masing-masing.
Dalam sistem demokrasi saat ini, sudah hal yang wajar terjadi adanya persaingan dan pertaruhan antara partai politik satu dengan yang lainnya. Tak pandang apakah itu berasal dari satu kubu atau berbeda. Mereka melalui proses seleksi bersama, sehingga akan ada beberapa partai politik yang lolos dan pada akhirnya akan menjadi pemenang dalam seleksi itu.
Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) RI menemukan lebih dari 20 ribu identitas warga yang dicatut menjadi kader partai dalam proses pendaftaran partai politik peserta 2024. Lebih parahnya lagi, lebih dari 30 ribu diantaranya lolos ketika KPU melakukan verifikasi faktual keanggotaan partai politik.
Seorang komisioner Bawaslu (Lolly Suhenty) mengatakan penemuan 20.565 identitas warga atau nama dan NIK dicatut dalam sistem informasi partai politik. Ada sebuah kanal bagi partai mengunggah data keanggotaannya. Lebih dari 20 ribu lebih identitas warga itu diketahui melalui posko aduan Bawaslu dan lewat petugas Bawaslu yang mengawasi langsung pelaksanaan verifikasi faktual.
Ia juga menjelaskan, dari 20 ribu lebih identitas warga dicatut 15.824 masuk ke dalam sampel keanggotaan verifikasi faktual yang artinya petugas KPU menemui langsung identitas dicatut untuk mengkonfirmasi apakah dia benar anggota partai tertentu.
“Sekitar 3.198 nama dinyatakan memenuhi syarat.” Ujarnya ketika konferensi pers di kantornya Jakarta berdasarkan data yang dilansir dari Republika.co.id (15/12/2022).
Adapun beberapa partai politik yang mengikuti verifikasi faktual antara lain, PSI, Perindo, PBB, Partai Hanura, Partai Ummat, Partai Buruh dan Partai Garuda. Namun hanya satu partai politik yang tidak lolos verifikasi faktual yaitu Partai Ummat.
Dari fakta di atas, di tengah-tengah kondisi negeri kita tercinta ini penuh dengan permasalahan yang serius misalnya berbagai kenaikan harga pokok, BBM, listrik, bencana di mana-mana, kesenjangan sosial makin menganga dan sebagainya.
Namun, pemerintah justru mempersiapkan agenda besar yang selalu diadakan setiap lima tahun sekali. Padahal jika dicermati hal ini tak merubah kondisi dan nasib rakyat pada saat ini dan nanti. Bahkan makin menambah beban pengeluaran negeri yang semakin berat dan membengkak. Karena adanya agenda besar ini tidak menggunakan dana yang kecil, tapi dana yang besar. Jika digunakan untuk mengurusi kebutuhan rakyatnya akan lebih bermanfaat dan membawa keberkahan.
Sungguh berbeda dengan partai politik dalam Islam. Partai Islam berkewajiban untuk mengoreksi berbagai kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan tuntutan syari’at. Adanya dakwah yaitu menyeru dan mengajak dalam kebaikan serta mencegah dari kemungkaran berlaku dalam politik lokal dan global. Sesuai dengan perintah Allah SWT
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” QS. Ali ‘Imran[3]:104.
Partai Islam menggunakan asas akidah Islam. Menolak keras adanya pemisahan agama dengan kehidupan. Dan hanya dengan hukum Islam dijadikan satu-satunya penyelesaian dalam berbagai macam problematika yang terjadi pada umat.
Adapun sifat dari partai politik dalam Islam bersifat internasional bukan lokal semata, dengan kata lain partai politik dalam Islam harus ideologis Islam dan untuk seluruh dunia. Bukan hanya berlaku pada suatu negeri, pulau, wilayah saja. Agar lebih mudah partai politik Islam mengamati perkembangan dakwah Islam di berbagai negeri muslim di manapun agen Islam berada. Salah satu karakter partai ideologis Islam adalah menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh alam. Maka secara otomatis dakwah ini akan semakin luas dan menyebar ke seluruh alam.
Pada dasarnya partai politik semu yang ada saat ini para kadernya banyak terlibat pelanggaran syari’at. Misalnya KDRT, perselingkuhan, politik uang, makelar tender, korupsi dan lain-lain. Sekalipun menggunakan nama partai berbasis Islam namun garis politik yang diambil adalah sekuler lainnya yang bergabung. Mengabaikan kepentingan rakyat, melanggar syari’at dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.
Jauh berbeda dengan partai politik ideologis Islam, menentang dengan tegas adanya segala macam bentuk kompromi politik. Apapun alasannya, sekalipun dengan dalih kemaslahatan umat. Apalagi adanya langkah praktis meraih kekuasaan. Partai Islam ideologis bergerak di tengah umat. Merangkul dan mendidik umat untuk bergabung menjadi bagian integral partai. Partai ini menyiapkan individu yang berkepribadian Islam yang mumpuni. Terutama dalam menanggung tanggung jawab dakwah politik sebagai pelaku aktif perubahan sistem.
Partai Islam ideologis wajib menampilkan garis politik Islam. Meskipun apapun yang terjadi. Misalnya kehilangan basis dukungan umat yang sifatnya sementara. Dengan langkah ini, maka hati umat akan tersentuh dengan Islam ideologis. Sehingga umat akan berbondong-bondong memberikan dukungan kepada partai tersebut.
Partai Islam ideologis ini adalah partai sejati. Bukan partai semu, yang mendekati rakyat hanya untuk mendapatkan suara mereka demi kekuasaan dengan dalih menyongsong bonus demografi.
Partai Islam ideologis tidak akan menjerumuskan umat ke dalam desain kapitalisme global seperti saat ini. Tidak akan membiarkan asing membajak, menjajah dan mengeksploitasi umat. Tidak akan menjadikan umat sebagai alat kapitalisme yang jelas gagal mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan keamanan dunia.
Partai Islam ideologis ini adalah rumah bagi kaum muslim pada khususnya dan umat pada umumnya yang hatinya telah merindukan negerinya yang sesungguhnya. Yaitu “Madinah ke dua” dan penduduknya menjadi “ahli Madinah” di mana mereka merindukan Rasulullah Saw untuk menjadi pemimpinnya sekaligus penguasa.Partai ini merupakan cerminan partai Rasulullah saat ini yang terdiri dari umat yang berasal dari berbagai macam latar belakang.
