Pelajar Bunuh Diri, Sistem Pendidikan Harus Dibenahi

Oleh Syifa Khoerunnisa
LensaMediaNews.com, Opini_ Peristiwa bunuh diri terjadi kepada dua orang pelajar di daerah Jawa Barat, yaitu daerah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Peristiwa ini menjadi perhatian bagi semua pihak, terutama orangtua, sekolah dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi psikologis anak.
Korban pertama yaitu anak laki-laki brusia 10 tahun di Kabupaten Cianjur yaitu siswa kelas 5 SD negeri di wilayah tersebut, korban ditemukan tergantung di kusen pintu kamar rumah neneknya menggunakan tali sepatu. Menurut hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan tetapi terdapat ciri khas kematian akibat gantung diri, seperti keluarnya kotoran dari tubuh korban.
Kasus kedua yaitu terjadi pada siswi kelas 2 SMP berinisial AK(14) yang ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu rumahnya di Kecamatan Cikembar, Sukabumi. Korban diduga mengakhiri hidupnya karena kerap mendapat perundungan dari teman sekolahnya yang membuat sakit hati.
Sementara itu, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Ernie Indriane mengatakan bahwa anak-anak dari generasi Alfa saat ini memiliki kondisi mental yang sangat rapuh, dan tindakan bunuh diri yang dilakukan mereka bukan keputusan tiba-tiba, melainkan hasil dari tekanan yang dialami dalam jangka waktu panjang, baik itu karena bullying, tekanan dari keluarga, ataupun kurangnya rasa apresiasi terhadap diri mereka.
Generasi ini pun sangat dekat dengan dunia digital, sehingga pola pikir mereka dapat dengan mudah terpengaruh oleh perilaku dan pola pikir menyimpang di internet.
Angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajaran perlu dicermati, fakta ini menggambarkan bahwasanya kepribadian pada anak sangat lemah dan rapuh. Hasil pendidikan sekuler yang hanya mengajarkan prestasi fisik dan menjauhkan pengajaran agama menjadikan anak jauh dari akidah Islam.
Bunuh diri merupakan gangguan mental yang didapat dari berbagai persolaan kehidupan seperti ekonomi, orang tua, gaya hidup, bullying dan sebagainya. Hal ini terjadi karena diterapkannya sistem kapitalisme, selain itu adanya media sosial yang didalamnya terdapat konten-konten bebas seperti komunitas tentang bunuh diri yang menyebabkan remaja dan anak-anak rentan mengikuti perbuatan tersebut.
Dalam Islam, akidah menjadi dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat, tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga dapat terbentuk kepribadian Islam dalam diri seorang anak, hal ini akan didapat dalam kurikulum pendidikan khilafah yang akan terus menguatkan karakter kepribadian Islam sehingga anak mampu menyikapi segala permasalahan dengan cara yang syari.
Penerapan Islam dapat mencegah adanya gangguan mental, dengan adanya khilafah segala jaminan kehidupan akan terpenuhi, seperti pendidikan gratis, kebutuhan pokok, fasilitas kesehatan dan lain sebagainya sehingga masyarakat tidak akan mengalami gangguan mental akibat permasalahan tersebut. Negara pun akan membatasi ataupun menghilangkan konten-konten di media yang tidak sesuai dengan syariat dan membahayakan masyarakat.
Maka dari itu sudah saatnya kita kembali pada kehidupan Islam, yang senantiasa menerapkan Islam secara kaffah agar segala permasalahan kehidupan akan terselesaikan dengan semestinya.
