Perayaan Idul Fitri di Tengah Derita Gaza

Oleh: Essy Rosaline Suhendi
Aktivis Muslimah Karawang
LensaMediaNews.com–Menjelang Hari Raya idul Fitri, tentunya takbir berkumandang di seantero masjid. Sorak sorai umat muslim pun turut menyambut dengan gembira, beberapa orang bercengkrama dengan keluarganya yang mungkin baru bisa bertemu di hari perayaan. Wajah mereka berseri menapaki setiap jalan menuju masjid untuk melaksanakan salat idul Fitri.
Namun di negeri timur sana, tepatnya di Palestina, pemandangan yang disajikan adalah reruntuhan bangunan akibat bom yang dilemparkan oleh Zionis Israel atau mungkin siluet kenangan buruk menyaksikan salah satu keluarganya turut menjadi korban kekejian Israel. Kantor media pemerintahan Gaza mengungkapkan, bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa suka cita, sebab sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Bahkan, terhitung sejak terjadinya gencatan senjata pada tanggal 20 Oktober 2025, sebanyak 2000 pelanggaran dilakukan oleh pasukan Israel. Pelanggaran itu berupa serbuan darat, penembakan dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina, melukai lebih dari 1.800 lainnya dan sebagian besar korbannya adalah warga sipil. Diperparah juga dengan terhambatnya pengiriman bantuan kemanusiaan, yaitu hanya 40 persen truk bantuan dapat masuk ke Gaza. Demikian pula akses keluar masuk penyeberangan Rafah masih dibatasi dengan ketat, yang semakin membuat duka derita Gaza semakin buruk (minanews.com, 01-04-2026).
Di satu sisi, fokus dunia saat ini teralihkan akibat terjadinya perang AS-Israel dengan Iran. Namun ironisnya, negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara kafir dalam memerangi Iran dan melupakan penderitaan Gaza yang belum juga berakhir.
Terpecahnya Umat dan Duka Mendera Gaza
Bukankah seharusnya, idul fitri dalam kondisi mengenaskan di Gaza juga dirasakan sebagai penderitaan seluruh kaum muslimin? Tidak ingatkah dengan hadis Rasulullah Saw., “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim).
Lalu dimana posisi Board Of Peace, jika persoalan Gaza merayakan hari raya dengan layak saja tak mampu dilaksanakan? Itu artinya, nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukanlah prioritas bagi pendiri BOP juga para penguasa muslim yang ada di dalamnya.
Malah yang terlihat, AS serta anak angkatnya Israel hanya fokus pada hegemoni menguasai dunia dan para penguasa muslimnya pun hadir sekadar menonton, mengutuk, dan mengamankan posisinya supaya tetap bisa menjadi kawan bagi negara kafir. Hati mereka sudah diracuni oleh penyakit Al-Wahn.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw., “Bangsa-bangsa di dunia akan memperebutkan kalian (umat Islam), seperti memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami (umat Muslim) pada waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau SAW menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, tapi seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut para musuh kepada kalian, dan menanamkan Al Wahn ke dalam hati kalian.” Seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?” Beliau SAW menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud).
Ukhuwah Islamiyyah, Jihad, Khilafah
Padahal, ajaran Islam dalam Al-Quran mengajarkan dan memerintahkan sesama umat muslim harus berkasih sayang, berlaku lemah lembut dan bersikap keras kepada orang kafir. Allah SWT. berfirman yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (TQS. Al-Fath: 29).
Maka, sudah semestinya kaum muslimin saling menjaga dan mempererat ukhuwah Islamiyyah. Sebab ukhuwah Islamiyyah adalah pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. Selain itu, Allah juga memerintahkan mukmin untuk berjihad. Sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya ,”Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitarmu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (TQS. At-Taubah: 123).
Namun, jihad hanya akan sempurna, jika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Untuk itulah, dibutukan segolongan umat yang dengan sadar berjuang mendakwahkan ide khilafah demi bersatunya dan bangkitnya umat, sehingga mampu melawan negara kafir yang memusuhi Islam dan membebaskan negeri muslim yang terjajah dengan jihad fisabilillah. Wallahu a’lam bishshawab. [LM/ry].
