Perlindungan Allah dan Rasul-Nya terhadap Makanan dan Keimanan Kita

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah-Aqliyah _ 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلاً طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik (halâl[an] thayyib[an]) dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian (TQS Al-Baqarah [2]: 168)

 

 

Kalimat Allah ﷻ dalam QS Al-Baqarah: 168 ini saat dibaca, dipahami, akan membuat hati kita, bertanya tentang setiap suap nasi yang kita kunyah, atau makanan lain yang masuk melalui mulut kita. Sudahkah makananku sesuai dengan perintah Allah ﷻ? Sehingga yang muncul dalam benak adalah bukan sekadar perintah, melainkan undangan untuk membangun peradaban yang menjaga kemurnian iman melalui makanan.

 

 

Bayangkan ketika kita berdiri di depan rak supermarket, menatap puluhan produk berjejal. Ada bisikan halus bertanya, “Benarkah ini semua halal?” Bisikan itu sebenarnya gema dari ayat yang mengajak kita pada kesadaran pertama. Seperti Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan dengan akalnya, kita pun diajak menelusuri jejak kehalalan dengan kesadaran penuh.

 

 

Tapi manusia sering lemah. Ada saat kita lalai, tergoda harga murah atau kemasan menarik. Di sinilah kita membutuhkan lingkaran kedua yaitu masyarakat yang saling menasihati. Rasulullah mengibaratkan kita seperti penumpang kapal; jika sebagian membiarkan lubang di lambung kapal, semua akan tenggelam. Ketika tetangga kita membeli daging tanpa sertifikat halal, ketika warung dekat masjid menjual makanan syubhat, bukankah kita semua perlahan ikut tenggelam?

 

 

Rasulullaah ﷺ sudah menjelaskan dampak makanan haram yang merusak. Sebagai contoh, Pertama, Doa Terhambat, Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang seorang musafir yang menengadahkan tangan:
“Wahai Rabbku, wahai Rabbku! Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

 

Kedua, Hati Menjadi Keras, makanan haram ibarat karat yang menggerus hati. Lama-kelamaan, kita akan sulit membedakan yang hak dan batil. Ketiga, Generasi yang Lemah, anak-anak yang tumbuh dengan makanan haram akan kehilangan ketajaman spiritual dan intelektual.

 

 

Namun kesadaran individu dan komunitas saja tak cukup. Di zaman rantai pasok makanan yang begitu rumit, kita butuh sistem yang mampu menelusuri kehalalan sampai ke akarnya. Inilah mengapa Islam menegaskan pentingnya pemimpin sebagai penjaga. Seperti Khalifah Umar yang tegas mengawasi pasar, atau Saladin yang memastikan pasukannya hanya makan dari sumber halal. Mereka adalah perwujudan dari lapisan ketiga perlindungan – negara yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar secara sistemik.

 

 

Ketiga lapisan ini yakni kesadaran diri, kontrol sosial, dan regulasi negara, bagai tiga lapis akar pohon yang saling menguatkan. Tanpa akar yang dalam, pohon kehalalan akan mudah tumbang diterpa badai industri makanan modern. Kita mungkin bisa memastikan makanan sendiri halal, tapi bagaimana dengan jajanan anak kita di sekolah? Kita bisa selektif memilih supermarket, tapi bagaimana dengan restoran yang sumber bahannya tak jelas?

 

 

Di sinilah pesan QS Al-Baqarah: 168 menjadi begitu relevan. Ia bukan hanya perintah individual, melainkan cetak biru masyarakat yang saling menjaga. Setiap kali kita mengabaikan makanan haram yang beredar di sekitar, kita sebenarnya mengikis makna ayat ini. Sebaliknya, ketika kita kritis menanyakan kehalalan, mendorong komunitas lebih peduli, dan menuntut negara lebih tegas, kita sedang menghidupkan ajaran Qur’an dalam bentuk paling nyata.

 

 

Maka pertanyaan terbesar bukan lagi “Apakah makanan ini halal?”, melainkan “Sudahkah aku menjadi bagian dari sistem yang menjamin kehalalan itu?” Karena sesungguhnya, menjaga yang halal bukan hanya tentang apa yang masuk ke perut, tapi tentang peradaban apa yang kita bangun untuk generasi mendatang.

و الله اعلم بالصواب