Rapuhnya Hubungan Antar Negara dalam Kapitalisme

Oleh: Ummu Hanifah
LenSaMediaNews.Com, Opini–Presiden AS, Donald Trump secara langsung memutuskan kerjasama dengan Presiden Israel, Benjamin Netanyahu. Pengumuman ini disampaikan oleh penyiar Radio Angkatan Darat Israel pada Kamis, 8 Mei 2015.
Keputusan Trump tersebut dikarenakan merasa telah dimanupulasi terkait keputusan akhir oleh Benjamin terhadap Iran – Houthi Yaman. Bukan hanya itu, pemerintahan Natanyahu juga telah gagal memberikan proposal keputusannya terhadap Gaza (Tempo.com, 09-05-2025).
Hubungan dua Negara yang awalnya sangat dekat menjadi putus bukan menjadi hal umum lagi di sistem Kapitalisme ini. Hal ini juga sudah dijelaskan oleh Allah SWT. yang artinya, ”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersama, kecuali dalam negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. hal itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (TQS al-Hasyr : 14).
Sudah jelas Allah SWT. menjelaskan watak dari orang kafir yang sesungguhnya, yang senantiasa bermusuhan. Ayat diatas turun ketika perseteruan antara bani Nadhir yang menjalin kerjasama dengan orang munafik dalam memusuhi Islam. Ternyata perjanjian itu hanyalah kebohongan sehingga bani Nadhir tetap terusir seperti bani Qainuqa’.
Telah jelas Al-Qur’an memberitahukan kepada kaum muslim betapa rapuhnya ikatan orang-orang kafir dalam memusuhi Islam. Persatuan mereka itu hanyalah sesuatu yang tampak, sedangkan hati mereka sangat mudah untuk berakhir karena memang tidak ada kebersamaan kecuali kepentingan materi semata. Sehingga sudah jelas ikatan manfaat ini tidak layak dijadikan dasar ikatan karena ikatan sifatnya sangat rapuh.
Berbeda jika ikatan dasar itu dilandaskan keimanan dengan berakidah Islam, maka akan menjadi umat yang terbaik (khoiru ummah). Definisi untuk kategori umat terbaik adalah individunya bertakwa, masyarakatnya melakukan amar makruh nahi munkar, mempunyai pemimpin dan sistem Islam, serta pemikiran, perasaan, dan aturan yang taat total kepada Allah SWT.
Namun, pemikiran sekulerisme menggrogoti pikiran umat, sehingga umat Islam saat ini mengalami disorientasi hidup. Mereka menghamba kepada dunia hingga tega meninggalkan aturan Allah Swt. Maka perlunya menyadarkan umat, bahwa umat Islam memiliki kekuatan besar sebagai umat yang terbaik jika persatuan ini dibangun di atas akidah Islam. Umat juga harus disadarkan bahwa pentingnya mengubah kondisi saat ini yang buruk di bawah penguasaan orang-orang kafir dan sistem Kapitalis saat ini dengan melihat perubahan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw terdahulu dalam membangun Daulah Islam pertama di Madinah.
Namun, terbentuknya ikatan akidah islam ini perlu yang namanya jamaah dakwah Islam ideologis. Jamaah dakwah inilah membimbing umat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Melalui persatuan umat inilah yang akan mengantarkan tegaknya kepemimpinan Islam yaitu kepemimpinan Khilafah ala minhaj kenabian.
Hal ini diperkuat melalui hadis Rasulullah saw. yakni memberikan kabar kepada kaumya gambaran dimasa yang akan datang, “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” Wallahualam bishoab. [LM/ry].
