Potret Dunia Pendidikan yang Jauh dari Nilai Islam

Oleh: Lathifah Dyah
(Mahasiswa)
LensaMediaNews.com, Opini_ Dunia pendidikan di negeri kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Beredar sebuah video di media sosial seorang guru SMK yang dikeroyok muridnya di Jambi. Dilansir dari detikSumbagsel, kejadian pengeroyokan tersebut bermula ketika seorang guru mendengar salah satu siswanya memanggilnya dengan kata-kata yang tidak pantas. Ia pun menegur siswa tersebut namun saat itu siswanya malah menantang dirinya, sehingga menampar siswanya itu. Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku sang guru telah menghina salah satu murid hingga memicu keributan tersebut. Namun, menurut sang guru, perkataan itu konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina (news.detik.com).
Menurut Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, peristiwa peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.
Kasus pengeroyokan guru oleh murid bukanlah sekedar konflik personal atau emosi sesaat. Namun ini merupakan problem serius dari dunia pendidikan yang harus kita cari akar masalahnya. Relasi antara guru dan murid seolah menjadi relasi yang penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Padahal sewajarnya relasi antara guru dan murid adalah relasi yang dibangun atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang.
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak dijumpai siswa-siswa yang bertindak tidak sopan, kasar, dan tidak beradab. Namun di sisi lain sering kita jumpai pula guru-guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik.
Problem ini adalah buah dari sistem pendidikan sekular-kapitalisme yang menjauhkan nilai Islam dari kehidupan. Nilai-nilai agama dan pembentukan karakter siswa yang berkepribadian Islam tidak menjadi prioritas bahkan dinomor-duakan dalam dunia pendidikan sekular saat ini. Capaian-capaian prestasi akademik, perolehan nilai-nilai pada angka tertentu, dan penghargaan-penghargaan lainnya dianggap lebih penting dan membanggakan dibandingkan dengan akhlak. Hal ini sejalan dengan paradigma kapitalisme yang memandang segala sesuatu selalu berorientasi pada materi. Tak heran jika prioritas utama sistem pendidikan Kapitalisme saat ini adalah membentuk lulusan yang sekadar siap untuk bekerja dan terjun ke dunia industri, tetapi mengesampingkan karakter, moral, dan akhlak.
Sementara itu, Islam memandang bahwa pendidikan bukanlah sekedar mencetak orang-orang yang pintar dan berprestasi secara akademik, tetapi membentuk manusia yang beradab dan berakhlak mulia. Hal ini selaras dengan hadits Rasulullah SAW mengenai tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Tujuan utama sistem pendidikan dalam Islam adalah membentuk generasi yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki polaa pikir dan pola sikap islami, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan problematika di tengah-tengah umat. Sehingga dalam sistem pendidikan Islam, siswa tak hanya dituntut untuk sekedar menguasai ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi menjadikan ilmu-ilmu tersebut menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk umat. Keberkahan ilmu akan diraih ketika seorang siswa memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu. Sebagaimana para ulama terdahulu yang senantiasa menegaskan pentingnya untuk beradab sebelum berilmu.
Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan Islam, murid dididik untuk senantiasa senantiasa memuliakan guru (ta’dzim) agar mendapatkan keberkahan ilmu. Sementara guru sebagai teladan bagi murid-muridnya, bukan hanya sebagai pengajar, juga diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Sebagaimana firman Allah,
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik … “ (QS. An Nahl: 125)
Negara juga memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar mengikuti kebutuhan industri atau kompetensi pasar.
Sumber :
https://news.detik.com/berita/d-8311138/babak-baru-guru-smk-dikeroyok-murid-tempuh-jalur-hukum?page=3
