Saat Bantuan Disyaratkan Vasektomi

#Opini_20250506_180813_0000

Oleh: Nettyhera

 

Lensa Media News – Publik kembali dibuat terhenyak. Di tengah gelombang kemiskinan yang belum mereda, Pemerintah Provinsi Jawa Barat justru melempar wacana kontroversial, mensyaratkan vasektomi bagi warga miskin yang ingin menerima bantuan sosial. Kebijakan ini seolah ingin menyampaikan satu pesan, rakyat miskin harus dikendalikan jumlahnya agar tak menjadi beban negara.  Namun benarkah akar kemiskinan terletak pada banyaknya anak dalam keluarga miskin? 

Inilah narasi sesat yang terus diwariskan dari rezim ke rezim. Bahwa rakyat banyak dianggap sebagai masalah, bukan potensi. Bahwa beban negara disebabkan oleh jumlah penduduk, bukan oleh salah urus kekayaan dan korupsi yang menggurita. Padahal, sejarah telah menunjukkan bahwa negara dengan penduduk besar justru bisa menjadi kekuatan ekonomi, bila diatur dengan sistem yang adil dan berpihak kepada rakyat.  

Dalam pandangan Islam, kemiskinan bukanlah akibat dari populasi tinggi, melainkan buah dari sistem ekonomi zalim yang membiarkan harta menumpuk pada segelintir orang. Allah telah menetapkan bahwa rezeki manusia dijamin oleh-Nya, dan negara berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warganya, makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Islam juga mengatur mekanisme pemerataan kekayaan dengan sistem zakat, infak, sedekah, dan larangan menimbun kekayaan.  

Negara dalam Islam mengelola sumber daya alam dan aset publik sebagai milik umat, bukan diserahkan pada swasta atau asing. Hasil pengelolaannya dikembalikan untuk kepentingan rakyat, bukan elite. Kesehatan dan pendidikan diberikan secara gratis, sehingga tak ada rakyat yang harus memilih antara makan atau menyekolahkan anaknya. Sistem Islam pun menjamin lapangan kerja seluas-luasnya agar setiap kepala keluarga bisa menafkahi keluarganya dengan layak dan bermartabat.  

Sungguh berbeda jauh dengan pendekatan sekuler kapitalistik hari ini, yang menjadikan bantuan sosial bukan sebagai hak rakyat, tapi alat tekanan agar rakyat miskin tunduk pada program-program kontroversial, termasuk vasektomi. Alih-alih menghapus kemiskinan, justru memotong harapan rakyat untuk punya keturunan yang kelak bisa mengangkat derajat mereka.   Paradigma ini harus diubah. Bukan jumlah manusia yang perlu dikurangi, tapi sistem rusak yang harus diganti.

Islam telah terbukti selama berabad-abad mampu menghapus kemiskinan struktural tanpa harus membatasi keturunan rakyatnya. Karena dalam Islam, setiap anak adalah rezeki, bukan beban.   Saatnya umat Islam sadar, bahwa solusi sejati tidak datang dari sistem yang menyempitkan hidup, tetapi dari sistem yang diturunkan oleh Allah, yang memuliakan manusia dan menjamin hak-haknya. Sistem Islam bukan utopia. Ia pernah berdiri dan kini saatnya kita perjuangkan untuk kembali tegak, demi mengakhiri kezaliman dan mewujudkan keadilan sosial yang hakiki.

[LM/nr]